Hang Tuah Ke Tanah Suci

- November 13, 2019
Hang Tuah menurut Hikayat Hang Tuah adalah Laksamana Kesultanan Malaka, ia merupakan anak dari Hang Mahmud dan Dang Merdu. Ketiganya berasal dari kampung sungai Duyung Pulau Lingga Riau.

Sebagai seorang Laksamana atau Panglima Angkatan Laut pada sebuah kerajaan maritim tentu Hang Tuah  mampu memimpin pelayaran serta juga mampu menguasai banyak bahasa sebab memang begitulah ciri khas dari seorang pelaut.

Baca Juga: Hang Tuah Belajar Bahasa Asing

Ketika menjabat sebagai Laksamana Kesultanan Malaka, Hang Tuah pernah melakukan beberapa kali pelayaran ke negeri-negeri yang jauh untuk menjalankan tugas negara. Hang Tuah pernah berlayar ke Palembang, Majapahit, Champa, Siam, Cina, Brunai, Bugis dan masih banyak lainnya. Namun diantara pelayaran yang berkesan dan paling jauh adalah ketika Hang Tuah ke tanah suci (Mekah-Madinah).

Baca Juga: Hang Tuah Berguru Ke Pulau Jawa

Kisah pelayaran Hang Tuah ke tanah suci termasuk sebab-sebabnya mengapa ia berlayar ke tempat itu diceritakan dalalm Hikayat Hang Tuah. Dalam kesusastraan Melayu, Hikayat Hang Tuah adalah salah satu karya sastra berbahasa Melayu yang menceritakan tentang kehidupan Hang Tuah mulai dari lahir hingga wafat.

Hikayat Hang Tuah adalah naskah kuno yang disusun pada abad ke 17 hingga 18 Masehi,yaitu ditulis di Johor, kerajaan pengganti Malaka, antara tahun 1688 dan 1710, ini artinya bahwa naskah tersebut ditulis 200 tahun selepas kehidupan Hang Tuah (Abad 15).
Ilustrasi

Hang Tuah Menjabat Sebagai Laksamana

Hang Mahmud dan Dang Merdu yang merupakan orang tua Hang Tuah, tinggal di Sungai Duyung, pulau Lingga, sebelah selatan kepulauan Riau. Menjelang kelahiran Hang Tuah, Hang Mahmud bermimpi anak dalam kandungan istrinya diterangi sianar bulan. Didorong oleh pertanda itu, mereka pindah ke Bintan di mana terdapat kerajaan yang telah mapan dan Hang Mahmud menganggap dia akan lebih mudah mencari nafkah di Bintan yang merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Malaka.

Saat berusia sepuluh tahun, Hang Tuah dan keempat temannya yaitu Jebat, Kasturi, Lekir dan Lekiu, berlayar dengan sampan kecil menuju utara Singapura. Dalam perjalanan mereka dikejar oleh bajak laut, tetapi dengan menggunakan strategi yang cerdik mereka bisa mengalahkan bajak laut tersebut.

Di kesempatan yang lain, Hang Tuah membunuh seorang pengacau dan kemudian bersama dengan para sahabatnya, mereka membunuh empat orang pengacau lainnya yang berniat mencelakai Bendahara. Kabar mengenai kedua perbuatan berani ini sampai ke telinga Sultan yang baru, yang meminta Bendahara untuk menjadikan mereka sebagai pesuruh di istananya. Dan dikemudian hari Hang Tuah diangkat menjadi Laksamana Kesultanan Malaka

Hang Tuah dan keempat sahabatnya tiba di Malaka saat kerajaan masih berjuang untuk membangun mencapai kemakmurannya. Namun berkat usaha Raja dan Hang Tuah serta karena lokasinya yang strategis Malaka dengan cepat berkembang menjadi kerajaan besar sebab pelabuhannya ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai negara untuk berdagang.

Hang Tuah Ke Tanah Suci

Perjalanan Hang Tuah ke tanah suci yang dikisahkan dalam Hikayat Hang Tuah adalah perjalanan akhir Hang Tuah mengarungi lautan ke negeri jauh, sebab kala itu Hang Tuah sudah tua. Sekembalinya dari tanah suci Hang Tuah mulai sakit-sakitan.

Pelayaran Hang Tuah ke tanah suci sebenarnya bukan tujuan utama Hang Tuah, ia berlayar ke negeri jauh skarena ditugaskan Sultan untuk membeli senjata (meriam) ke Khalifahan Turki Usmani guna membentengi Malaka dari serangan bangsa asing, kota Utama yang menjadi tujuannyapun adalah Istanbul. Namun karena perjalanan tersebut melewati zizirah Arab, Hang Tuah dan rombongan akhirnya singgah di Mekah, ketika  singgah rupanya musim Haji hamper tiba oleh karena itu Hang Tuah dan rombongan menunaikan ibadah Haji di tanah Suci.

Baca Juga: Keruntuhan Kesultanan Malaka Menurut Sumber Portugis


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search