Hang Tuah Belajar Bahasa Asing

- November 14, 2019
Hang Tuah dikisahkan sebagai Laksamana Kesultanan Malaka yang menguasai banyak bahasa, Hikayat Hang Tuah mencatat Hang Tuah selama hidupnya telah menguasai ratusan bahasa asing. Pada usia 10 Tahun ketika Hang Tuah tinggal di Bintan ia belajar  beberapa bahasa Asing yang kala itu sangat penting untuk dikuasai, bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa Arab, India, Cina, Siam dan Jawa.

Bahasa Arab penting dipelajari karena bahasa tersebut merupakan bahasa Al-Quran bahasanya orang Islam, Bahasa India penting dipelajari karena pada waktu Hang Tuah Hidup bahasa India (Sansekerta dan Tamil) sudah menjadi bahasa budaya dan sastra di kepuluan Melayu. Bahasa Cina, Siam dan Jawa penting dipelajari karena pada waktu itu kepuluan Melayu disekitar Palembang, Singapura, Bintan dan Semenanjung Melayu dikuasai oleh tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Cina, Siam dan Majapahit dari Jawa oleh karena itu ketiga bahasa tersebut penting dikuasai.

KIsah Hang Tuah belajar bahasa asing dititurkakn dalalm Hikayat Hang Tuah, berikutin ini adalah kisahnya;

Ketika dia kali pertama mendengar kabar mengenai Raja baru di Bintan, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, “Ayo kita inggal di Bintan. Karena itu Kerajaan besar maka akan lebih mudah mencari pekerjaan di sana sebab sekarang kita sudah beriga.” “Apa yang kau katakan itu benar, suamiku,” kata Dang Merdu setuju

Dan malam itu juga, Hang Mahmud bermimpi bulan jatuh dari surga dan cahayanya yang benderang menyinari kepala anaknya. Hang Mahmud keheranan dan segera terbangun dari tidurnya. Dia mengangkat Hang Tuah dan meletakkannya di atas pangkuan, lalu menciumi seluruh tubuhnya.

Ketika sinar matahari mulai tampak di kaki langit, dia menceritakan mimpinya kepada sang istri. Setelah mendengar cerita suaminya, ibu Hang Tuah mengeramasi rambut dan memandikan anaknya lalu memakaikan sarung, kemeja, dan ikat kepala, yang semuanya berwarna putih yang merupakan lambang kemurnian.

Dia menyiapkan persem bahan berupa nasi kuning dan telur, lalu mendoakan mereka yang telah meninggal, dan terakhir meminta para sesepuh mendoakan anaknya agar diberkahi Tuhan. Setelah upacara selesai, dia memeluk dan mencium anaknya lagi.

Hang Mahmud menoleh dan berkata, “Kita harus membesarkannya dengan penuh perhatian. Dia nakal, jadi jangan sampai dia pergi jauh untuk bermain. Meskipun aku ingin dia bersekolah, tetapi tidak ada guru yang baik di sini.

Sikapnya akan membuatnya sangat disukai oleh semua orang! Jelas kita harus pindah ke Bintan. Kalau begitu, bersiaplah. Kemasi semua barang kita. Maka, Hang Mahmud memasukkan harta benda dan keluarganya ke sebuah perahu panjang sempit dan mereka mendayungnya ke Bintan. Di sana, mereka membangun sebuah rumah di dekat desa Bendahara, dan Hang Mahmud pergi untuk berdagang dengan membuka sebuah toko yang menjual kue dan makanan.

Keika Hang Tuah semakin dewasa, dia mempelajari kebiasaan ibu dan ayahnya. Hang Mahmud mengirimnya ke seorang guru yang sangat saleh dan setelah beberapa saat Hang Tuah dapat membaca Al Quran. Setelah pendidikannya selesai, dia mulai belajar aturan tata bahasa Arab.
Hang Tuah Belajar Bahasa Asing
Ilustrasi
Setelah dia berhasil menguasai susunan-kata dalam bahasa Arab, dia berkata kepada ayahnya, “Ayah, kurasa aku ingin belajar lagi, kali ini dengan seorang guru dari India dan mempelajari bahasanya.
Hang Mahmud menyetujuinya, “Apa yang kau katakan itu benar, putraku.” Maka Hang Tuah belajar dengan seorang guru dari India dan setelah beberapa saat dia menguasai bahasa Tamil. Kemudian dia mengatakan ingin belajar dengan seorang guru dari Thailand agar dia dapat menguasai bahasa gurunya.

Setelah selesai belajar bahasa Siam (Thailand), dia diajar oleh seorang guru dari Cina. Dalam waktu singkat, dia dapat menguasai bahasa Cina. Setelah itu dia belajar dengan guru dari Jawa, sebab dia ingin mempelajari bahasanya. Akhirnya, dia berhasil menguasai total dua belas bahasa.

Setelah berhasil menguasai dua belas bahasa ini, dia pulang untuk tinggal bersama ibu dan ayahnya. Setiap hari dia pergi bersama ayahnya untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu membelahnya menggunakan kapak di depan toko. Ibunya bekerja di dalam toko. Ketika Hang Mahmud pulang dari membeli persediaan dan menjajakan makanannya, dia pergi ke rumah Bendahara untuk menghaturkan sembah. Jika dia pergi ke mana pun, dia akan berpamitan lebih dulu kepada Bendahara.

Dengan cara seperti itulah Hang Tuah mempelajari etika dan sopan santun yang berlaku di Bintan. Pada saat itu, usianya hampir sepuluh tahun. Dia berteman dengan beberapa anak laki-laki seusianya. Salah satu dari mereka bernama Hang Jebat, satu lagi bernama Hang Kasturi, lalu ada Hang Lekir, dan yang terakhir Hang Lekiu. Hang Tuah sangat menyayangi keempat temannya ini. Ke mana pun mereka pergi, mereka selalu bersama sehingga mereka tak terpisahkan sebagai sahabat.

Baca Juga: Hang Tuah Berguru Ke Pulau Jawa

Daftar Bacaan
Muhamad Haji Salleh. 2013. Hikayat Hang Tuah. Jilid. 1. Jakarta: PT. Ufuk Publishing House


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search