Raden Mukmin Menyepi di Bukit Prawoto

- Maret 08, 2019
BUNGFEI.COM-Pada saat dilantik menjadi Sultan Demak ke IV, Raden Mukimin bersumpah, ia akan menjadi Sultan yang lebih besar dari  ayahnya Sultan Trenggono, ia ingin seperti Sultan Turki yang kekuasannya membentang luas, dari itulah Raden Mukmin berencana menaklukan seluruh Jawa, Makasar, dan menghancurkan Portugis di Melaka. Tapi cita-cita yang diucapkannya itu belakangan sulit terwujud selepas ia diilhami  kesejatian abadi saat menyepi di bukit Prawoto.

Raden Mukmin bukan raja yang tidak faham politik dan perang, bukan pula seorang yang gagap dalam memanajemen kerajaan, sebab dimasa mudanya, Raden Mukmin adalah otak dibalik  kejayaan Demak.

Pemikiran dan kecerdasan Raden Mukmin turut memberikan sumbangsih pada ayahnya Sultan Trenggono ketika menaklukan negeri-negeri jauh seperti Banjarmasin, Sundakelapa, Banten, Cirebon, dan lainnya, bahkan diangkatnya Sultan Trenggono menjadi Sultan ke tiga Demak pun karena jasa Raden Mukmin, sebab  sebagaimana diketahui selepas Sultan Demak II meninggal, Raden Kikin yang terlibat perseteruan perebutan tahta dengan Trenggono dibunuh oleh Raden Mukmin.

Pembunuhan calon Raja Demak selain ayahnya itulah yang kemudian menjadikan ayahnya sebagai Sultan Demak ke tiga.

Oleh karena itu, sumpah Raden Mukimin pada saat dilantik menjadi Sultan Demak ke IV  bukan sumpah yang tak terukur, tapi sumpah yang sudah benar-benar akan terwujud jika saja Raden Mukmin bertindak.

Berhentinya upaya Raden Mukmin untuk dapat menjadikan dirinya sebagai Sultan di Nusantara yang kekuasaannya luas sehingga menyamai Sultan Turki dikarenakan suatu hal yang menyentuh hatinya. Dimasa paruh bayanya, Raden Mukmin rupanya banyak membaca ajaran-ajaran agama Islam tentang kasih sayang dan kesejatian abadi, ia mencintai sedikit demi sedikit ajaran cinta dan hakikat hidup selayaknya seorang Sufi.

Merasuknya ajaran itu, sedikit demi sedikit menghilangkan watak dan sikap masa lalunya, jika dahulu Raden Mukmin dikenal sebagai politikus ulung yang menghalakan segala cara demi kekuasaan, kini ia semacam menjadi seorang yang peka terhadap penderitaan sesama manusia.

Raden Mukmin selepas itu lebih memilih berkelana dari gunung satu ke gunung lainnya untuk melakukan penghayatan pada ajaran agama yang ia pelajari,sehingga akhirnya ia gandrung untuk bertafakur dan menyepi pada satu Gunung kecil yang dikenal dengan nama Prawoto.

Bagi Raden Mukmin Bukit Prawoto adalah tempat damai nan tenang, dari tempat ini ia bisa mengajarkan pengetahuan agamanya kepada sesamanya. Selepas gandrung dan terlampau cinta pada tempat tinggal barunya di Bukit Prawoto, Raden Mukmin rupanya membuat kebijakan menggemparkan, sebab  ia memindahkan Ibukota kesultanan Demak ke Bukit Prawoto.

Selepas peristiwa itu, Raden Mukmin kini tidak lagi dikenal sebagai seorang Sultan saja, melainkan juga dikenal sebagai seorang Sunan (Ulama). Itulah sebabnya dalam sejarah disebutkan bahwa nama lain dari Raden Mukmin adalah Sunan Prawoto, sebab  Raden Mukmin adalah seorang Raja dan Ulama yang bertahta di Bukit Prawoto.

Sebagaimana selayaknya seorang ulama Sufi sejati, maka bagi Sunan Prawoto, kematian adalah hal indah yang mestinya ditunggu-tunggu kedatangannya dengan senang hati, sebab  itulah dalam kesehariannya, Sunan Prawoto tidak lagi banyak dikrumuni pengawal kerajan meski ia juga seroang Sultan. Peristiwa inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Arya Penangsang anak Raden Kikin yang dahulu dibunuh oleh Sunan Prawoto ketika ia masih muda.

Raden Mukmin alias Sunan Prawoto wafat dalam tempat tidurnya karena dibunuh oleh Rungkud, Suruhan Arya Penangsang. Pembunuhan itu dikisahkan dapat dilakukan dengan mudah sebab  Sultan Demak ke IV itu hampir tanpa pengawalan dan penjagaan.  


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search