Tuduhan Antek Belanda dan Beridirnya KRIS

Sikap rakyat dan pejuang pada orang-orang yang bersal dari Indonesia Timur terutamanya yang beragama Kristen diawal mula tersingkirnya Jepang hingga masuknya tentara sekutu penuh curiga, kala itu orang Kristen yang berasal dari timur diasumsikan antek-antek Belanda mengingat sebagaian besar diantara mereka yang ada di pulau Jawa kala itu berprofesi sebagai KNIL (Kooninklijk Nederlands Indisch Leger).

Sikap semacam itu bagi sebagaian orang Kristen yang kebetulan juga berasal dari Timur Indonesia merasa sakit hati, namun tak bisa berbuat apa-apa, mengingat fakta dilapangan sebagaian dari kaum mereka memang menjadi antek-antek Belanda.

Menanggulangi rasa minder dan tersisih karena citra buruk yang melekat sebagai antek Belanda, Para Pejuang Kristen yang kebetulan juga berasal dari Indonesia timur mendirikan KRIS, organisasi yang mewadahi para Pejuang Kristen asal Timur Indonesia sebagai upaya pembuktian bahwa orang Kristen dan orang Indonesia timur juga tidak seluruhnya bersikap macam saudaranya yang memilih menjadi antek-antek Belanda.

KRIS adalah kependekan dari Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, mulanya didirikan oleh orang-orang Sulawesi  dari Manado dan Minahasa yang Bergama Kristen, pada perkembangannya meskipun organisasi ini membawa nama Sulawesi (Indonesia Tengah) akan tetapi mampu menaungi  dan membangkitkan rasa percaya diri orang-orang Timur Indonesia seperti dari Ambon dan lainnya untuk ikut berjuang, maka tidaklah mengherankan anggota KRIS dikemudian hari dipenuhi oleh orang-orang timur Indonesia selaian Manado dan Minahasa (Sulawesi).

Masuknya Sekutu dan Munculnya Tuduhan Antek Belanda

Sebelum jatuhnya Hindia Belanda pada Jepang, orang-orang Kristen dari Timur Indonesia banyak ditempatkan di Jawa, mereka pada umumnya berprofesi sebagai Tentara Hindia Belanda dari golongan Pribumi (KNIL) .

Masyarakat kala itu menganggap orang-orang Kristen dari Indonesia Timur yang menjadi KNIL sebagai anak emas dan anteknya Belanda. Sikap anggota KNIL masa ini dikenal angkuh dan sombong, meskipun sebetulnya banyak juga yang tidak begitu.

Selepas Jepang resmi menaklukan Hindia Belanda pada Tahun 1943, para anggota KNIL termasuk yang berasal dari Indonesia Timur banyak yang mati, sebagaiannya dipenjara oleh Jepang , melarikan diri ke wilayah-wilayah terpencil dengan melepas baju KNIL-nya, sementara sebagaian lainnya yang beruntung diungsikan bersama tentara Belanda yang lainnya  ke Australia.

Nasib baik bagi KNIL muncul kembali selepas Jepang menyerah pada Sekutu di tahun 1945, mereka yang dipenjara, yang menyelamatkan diri ke tempat-tempat terpencil serta yang diungsikan ke Australia kembali lagi ke Jawa untuk menemui sanak kerabatnya yang telah bertahun-tahun (1943-1945) tidak ditemui.

Hal tersebut sesuai dengan catatan Warouw  (1999:40) yang menyatakan bahwa  “Orang-orang KNIL (Kooninklijk Nederlands Indisch Leger) itu di Indonesia yang pertama mereka lakukan ialah mencari anak, istri serta keluarga yang yang telah ditinggalkan. Usaha mereka itu tentu mudah diketahui para tetangga terutama yang berada di kampung-kampung yang dalam situasi dan kondisi yang serba kacau dengan sendirinya menimbulkan kecurigaan karena : Kunjungan dilakukan dengan menggunakan jeep Sekutu. Meraka datang lengkap dengan pakaian lapangan tentara dengan menyandang senjata .  Mereka datang dengan suatu kelompok kecil. Kebanyakan mereka adalah orang-orang Ambon, Manado dan orang-orang Indonesia Timur lainnya

Kembalinya para anggota KNIL yang berasal dari timur Indonesia selepas masa suramnya selama 3 tahun itu, memperkuat dugaan dan sikap rakyat Indonesia khususnya orang-orang di Pulau Jawa bahwa orang-orang Kristen dan Timur Indonesia sebagai antek Belanda, terbukti dengan kembalinya mereka membela Belanda selepas diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia (1945) dan tersingkirnya Jepang.

Anggapan semacam itulah yang membuat para Pemuda Sulawesi Utara, khususnya yang bergama Kristen untuk segera bertindak. Para pemimpin organisasi-organisasi masyarakat Sulawesi di pulau Jawa sepeti Pertolongan Kaum Celebes (PKC), Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) yang sebelumnya bernama Angkatan Muda Sulawesi (AMS), Gerakan Pemuda Sulawesi Selatan (GPSS) dan Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi (GAPIS) mengadakan perundingan, yang kemudian diperoleh kesepakatan bahwa mereka bersepakat untuk meleburkan diri kedalam satu wadah organisasi.

Akhirya, pada tanggal 10 Oktober 1945 terbentuklah satu badan baru secara resmi dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang anggotanya kebanyakan diisi oleh orang-orang Kristen dari Indonesia Timur yang nama daerahnya tidak mau dirusak oleh sauduara sedaerah dan seagamanya yang lebih memilih menjadi antek Belanda.

Dikemudian hari, salah satu anggota Kris banyak yang menjadi Pahlawan Nasional, diantaranya Jhon Lie, Pahlawan Nasional Berdsarah China dan dan Mr. A.A. Maramis, keduanya kelahiran Sulawesi dan juga beragama Kristen. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel