Tentang Buku Leces/Letjes yang Belum Banyak Diketahui Orang

- Oktober 02, 2019
Nama Leces atau dalam ejaan lama ditulis Letjes telah menjadi sejarah yang sulit dilupakan bagi anak-anak sekolah era Tahun 1980 hingga 1990 an. 

Pada tahun-tahun itu bagi anak sekolah, hususnya di kampung hanya mengenal satu jenis buku tulis saja, buku itu bermerek Leces/Letjes, sampulnya berwarna biru, apabila terkena hujan warnanya memudar, lucu memang, sebab pudaran warna birunya kadang melekat pada tas anak-anak sekolah yang kala itu kebanyakan terbuat dari kain, atau kadang juga melekat pada tangan bahkan baju seragam sekolah yang kebutulan berwarna putih.

Kenangan tentang buku tulis Leces memang sulit dilupakan. Kini buku yang bersejarah sekaligus buku yang mempopulerkan nama “Leces”  itu seperti musnah ditelan zaman. Sebab-sebab kemusnahan serta arti sesungguhnya dari Leces itu sendiri belum banyak diketahui orang, sebab itulah kami membuat artikel ini.

Buku Leces/Letjes diproduksi disebuah Pabrik kertas tua yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Yaitu didirikan pada Tahun 1939 di Probolinggo Jawa Timur. Pabrik kertas Leces didirikkan pemerintah Belanda dengan konsep pemanfaatan ampas tebu dari pabrik-pabrik gula milik pemerintah Belanda yang bertebaran di sekitaran Probolinggo.

Pabrik dari awal mula pendiriannya dikisahkan tanpa nama, hanya pabrik kertas saja, begitulah penduduk setempat mengenalnya, hanya saja di kemudian hari pabrik itu mendapatkan namanya, yaitu “Letjes/Leces”
Buku Tulis Leces
Nama Leces/Letjes sebenarnya adalah nama desa dimana pabrik kertas itu berdiri, sekarang selain menjadi nama desa, Leces juga menjadi salah satu nama Kecamatan di wilayah Kabupaten Probolinggo. Jadi sekarang anda sudah tahu bukan bahwa nama “Leces” itu pada mulanya adalah nama sebuah desa.

Selanjutnya, yang belum diketahui banyak orang juga adalah soal berhentinya produksi buku leces. 

Sampai pada penulisan artikel ini penulispun tidak tahu secara pasti mengenai sebab-sebab berhentinya produksi buku tulis leces, kecuali hanya dugaan-dugaan saja. Yang perlu dicatat adalah bahwa hingga kini Pabrik Kertas Leces masih beroprasi meskipun sudah tidak memproduksi buku tulis leces yang pernah populer itu.
Leces-Probolinggo
Pabrik kertas Leces kini menjadi PT Kertas Leces Perseoro, atau perusahaan milik Negara (BUMN), hal ini tentu wajar sebab aset-aset milik pemerintah Belanda selepas kemerdekaan tentu menjadi hak milikNegara.

Penulis menduga, mandegnya produksi buku tulis leces yang fenomenal itu diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu (1) munculnya beberapa buku tulis baru di era 1990 an yang kualitasnya lebih baik sehingga buku leces tidak lagi menjanjikan untuk dijual, (2) berkurangnya pasokan ampas tebu karena banyak pabrik gula disekitaran Probolinggo yang gulung tikar, juga (3) karena terpaan Krisisis ekonomi Tahun 1997 yang mengakibatkan BUMN banyak merugi.

PT Kertas Leces hingga kini masih memproduksi kertas, hanya saja produk-produk yang dihasilkan agaknya fokus pada jenis kertas print seperti kertas HVS A4, A5 dan lain sebagainya yang biasa digunakan untuk usaha fotocopy dan jasa pengetikan.

Pada Tahun 2010 PT Kertas Leces pernah dinyatakan pailit atau bangkrut, mereka tidak lagi mampu memproduksi produk-produknya sebab Perusahaan Gas Negara (PGN) menghentikan pasokan gasnya, lantaran PT. Kertas Leces sudah menunggak hutang sebesar Rp41 miliar. Meskipun demikian 5 Tahun setelah kematiannya, PT. Leces akhirnya bangkit lagi, hidup pada Tahun 2014 karena suntikan dana dari Pemerintah.  Pabrik kertas tertua kedua di Indonesia itu hingga kini masih berjalan meskipun dikabarkan sempoyongan. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search