Tema pada Novel Maut ar-Rajul al-wahid A’la al-Ard Karya Nawal As-sa’dawy

- Oktober 20, 2019
Tema adalah makna cerita, atau dasar cerita.Tema dalam fiksi biasanya berpangkal pada motif tokoh. Tema berfungsi sebagai penyatu unsur-unsur lainnya. Tema juga berfungsi melayani visi, yaitu responsi total pengarang terhadap pengalaman dan hubungan totalnya dengan jagad raya.

Novel maut ar-rajul al-wahid a’la al-ard karya Nawal As-sa’dawy yaitu novel yang bertemakan kehidupan sosial keluarga petani kakak beradik, didalamnya mengangkat kisah kehidupan keluarga petani miskin di sebuah desa yang terletak di Mesir, kesengsaraan keluarga petani miskin itu diperparah dengan buruknya perlakuan kepala desa (Umdah) terhadap keluarga tersebut.

Gambaran tema kesengsaraan keluarga petani kakak beradik yang dimaksud dapat dipahami dari petikan novel pada bagian 1 halaman 16 sebagai berikut:
1
Keluarga petani miskin itu adalah kakak beradik Kufrawi dan Zakiyah, Kufrawi seorang duda yang ditinggal mati istrinya, ia mempunyai dua anak perempuan cantik dan lugu bernama Nafisah dan Zainab, sementara Zakiyah adik Kufrawi juga merupakan seorang janda yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Jalal.

Pada mulanya keluarga petani kakak beradik yang tinggal dalam satu rumah itu hidup bahagia meski penuh dengan kesederhanaan. Kebahagiaan itu kemudian sedikit demi sedikit hancur ketika sang kepala desa yang bernama Umdah berambisi untuk menodai kesucian anak-anak perempuan Kufrawi.

Melalui cara-cara liciknya, Umdah yang dibantu anak buahnya menekan keluarga miskin itu dengan pajak dan hutang, peristiwa itu yang kemudian menyebabkan Jalal anak Zakiyah tidak betah tinggal dikampung halamannya, Jalal kemudian menghilang dari desanya tanpa pamit kepada ibu dan uwaknya.

Ketika keluarga petani miskin itu ditinggalkan anak laki-laki pembela keluarga, Umdah mulai masuk mempengaruhui Kufrawi agar mempekerjakan Nafisah anak perempuan tertuanya untuk dipekerjakan di rumahnya, Kufrawi yang kala itu sedang kesulitan keuangan memaksa Nafisah untuk mau bekerja dirumah Umdah, akan tetapi Nafsiah yang pernah mengalami pelecehan seksual oleh Umdah menolaknya, ia memilih kabur meninggalkan desanya. Kaburnya Nafisah dari desanya tergambar pada petikan teks novel bagian 3 halaman 36 berikut:
2
Pada petikan teks di atas, digambarkan bahwa Nafisah melarikan diri dari desanya dengan mengendarai kreta kuda, ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi tida orangpun yang tahu,  ia pergi menuju Ramalah.

Selanjutnya, rencana jahat Umdah terhadap keluarga petani tersebut muncul kembali setelah Umdah mendapati Zainab tumbuh menjadi sosok perempuan remaja yang kecantikannya mirip kakaknya, ia ingin menggagahinya. Menganggap Kufrawi sebagai penghalang, Sang Kepala Desa kemudian memenjarakan Kufrawi dengan tuduhan fitnah. Gambaran ditangkap polisinya Kufrawi karena tuduhan fitnah tergambar pada petikan teks novel bagian 8 halaman 93 berikut:
3
Pada petikan teks novel di atas, dijelaskan bahwa Kufrawi yang sedang bersembunyi dibawah pohon Jeruk dari Kejaran Polisi merasa ketakutan, ia ketakutan seakan-akan melihat polisi bukan dari jenis mahluk adam melainkan dari jenis jin.

Selepas ditinggal Kufrawi, keluarga petani itu hanya tinggal Zakiyah dan Zainab, berbagai cara dilakukan Umdah untuk dapat memiliki Zainab, namun Zakiyah terus menghalanginya, Umdah kemudian menggunakan jasa tukang sihir untuk menguna-guna Zakiyah sehingga ia tertimpa penyakit aneh.

Zainab menjadi seorang putri remaja yang menderita selepas bibinya terkena penyakit aneh, sebab tidak ada lagi yang mecari nafkah untuk dirinya, iapun kemudian meminta bantuan orang-orang dikampung halamanya untuk menyembuhkan penyakit bibinya. Dalam keadaan itu Umdah melalui anak buahnya mengarahkan Zainab  untuk berobat kepada seorang dukun yang memang telah ia persiapkan sebelumnya.

Melalui pengobatan dari dukun tersebut Zakiyah sembuh, akan tetapi selepas mengamalkan mantra-mantra penyembuhan yang kebetulan dilakukan Zainab  itu, Zainab menjadi aneh, ia sering dibisiki mahluk yang mengaku tuhan, dalam bisikan itu tuhan memerintahkan Zainab  untuk bekerja pada Umdah sang kepala desa.

Zainab yang meyakini yang membisikinya adalah tuhannya, maka iapun kemudian memutuskan untuk bekerja di rumah Umdah, pada saat bekerja di rumah Umdah inilah keperawanan Zainab  hilang, dan selama beberapa waktu Zinab bekerja dirumah Umdah, dan selama itu pula Zainab mendapatkan pelecehan seksual, namun karena Zainab  merasa itu perintah tuhan ia menjalani hidup dengan biasa. Gambaran hilangnya keperawanan Zainab oleh Umdah tergambar pada petikan teks novel pada bagian 14 halaman 150 dibawah ini:
4
Dalam petikan teks novel di atas tergambar jelas bagaimana cara-cara Umdah menggagahi gadis belia (Zainab) yang bekerja dirumahnya, ia menggagahi Zainab mana kala ia sedang membersihkan kamar mandi di rumahnya.

Berlalunya waktu, Jalal anak Zakiyah yang dahulu menghilang dari rumah kembali ke desanya, kedatangan Jalal kerumahnya membuat keluarga petani itu seperti normal kembali, sebab  ladang pertanian milik Zakiyah yang lama terbengkalai kini ada yang mengurus kembali.

Jalal kemudian dinikahkan oleh Zakiyah dengan Zainab, pernikahan tersebut kemudian membuat marah Umdah, sebab  selepas perkawinan, Zainab  tidak lagi mau bekerja pada Umdah dan tentunya Umdah tidak lagi dapat melakukan pelecehan seksual.

Umdah kemudian memfitnah Jalal telah mencuri uangnya, Jalal dalam peristiwa ini kemudian ditangkap oleh polisi dan dipenjara di Kota. Suatu waktu Zainab pergi ke kota dengan sedikit uang, tujuannya hendak menjenguk suaminya, tapi Zainab  kemudian menghilang tanpa seorangpun yang tahu.

Selepas kepergian Zainab, Zakiyah hidup sendiri dirumahnya, ia tertekan hidupnya seperti orang gila karena kehilangan seluruh kelurganya, akan tetapi pada suatu waktu ia mengetahui tentang rahasia kehancuran keluarganya, ia mendapatkan berita bahwa penyebab kehancuran keluarganya adalah Umdah kepala desanya sendiri.

Seperti dirasuki setan, selepas mendengar berita itu Zakiyah membawa cangkul yang biasa ia gunakan untuk bertani, ia menuju rumah Umdah dan menghampirinya, Zakariyah memukulkan cangkul tersebut ke kepala Umdah hingga pecah, Umdah tewas. Begitulah matinya seorang laki-laki tamak ditangan Zakiyah. Matinya seorang laki-laki (Umdah) yang kemeudian dijadikan sebagai judul novel dapat diahami pada teks novel bagian 21 halaman 206 berikut:
5
Selepas pembunuhan yang dilakukan Zakiyah pada Umdah, Zakiyah kemudian ditangkap, ia dipenjara. Kini dirumah petani miskin itu tidak ada lagi siapapun, sebab Nafisah, Kufrawi, Jalal, dan Jaenab sudah terlebih dahulu dipisahkan dari Zakiyah.

Baca Juga: Penokohan pada Novel Maut ar-Rajul al-wahid A’la al-Ard Karya Nawal As-sa’dawy


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search