Muhamad Syarif Pencetus Pasukan Marsose Belanda

- September 30, 2019
Pasukan Marsose adalah pasukan elit bentukan Belanda yang pada mulanya di ciptakan untuk menghancurkan perlawanan grilyawan di Kesultanan Aceh, orang Jawa menyebut pasukan ini dengan sebuatan Londo Ireng (Belanda Hitam).

Menurut Henk Schulte Nordholt (2002, hlm 6) sekurang-kurangnya 17.000 orang Aceh atau 15% dari penduduk Aceh kala itu terbunuh oleh pasukan marsose ketika Belanda menginvasi Aceh, yang menarik adalah pencetus atau pencipta pasukan marsose adalah Muhamad Syarif pribumi pulau Sumatra berdarah Minang.

Terbentuknya pasukan atau korps marsose betul-betul dilatar belakangi oleh pristiwa invasi Belanda ke Kesultanan Aceh Darusalam. Pemerintah penjajah Belanda merasa khawatir, suatu kekuatan asing dari negara penjajah lain akan mendahului Belanda merebut kekuasan atas Kesultanan Aceh.

Pemerintah Belanda menganggap penting untuk memfokuskan pada pencegahan terjadinya segala kemungkinan darurat, karena apabila Aceh dikuasai oleh penjajah lain jelas akan menggangu kedudukan Belanda di Pulau Sumatra dan Selat Malaka.

Langkah awal Belanda dalam menginvasi Aceh adalah membuat perjanjian baru dengan Inggris yaitu Perjanjian Sumatra atau Traktat Sumatra, dalam perjanjian ini Inggris lepas tangan apabila Belanda menginvasi Kesultanan Aceh (Vlekke, 1959 hlm 33)
Traktat Sumatra
Bermodalkan Traktat Sumatra, penjajah Belanda mulai menekan Kesultanan Aceh supaya tunduk. Tindakan Belanda yang demikian itu tentu saja ditentang keras oleh Kesultanan Aceh. Menghadapi keadaan ini Kesultanan Aceh mulai mencari bantuan keluar negeri. Sebaliknya  Belanda segera mengambil tindakan dengan mempercepat maklumat perang pada tanggal 1 April Tahun 1873, selanjutnya Belanda mengirimkan armada perang ke Aceh di bawah pimpinan Jendral Kholer (Said, 1985, hlm 758)

Selepas dibombardir Belanda, Istana Kesultanan Aceh dapat dikuasai Belanda pada tanggal 31 Januari 1874, yang ditandai dengan diambil alihnya kedudukan Sultan Aceh oleh Van Swieten. Akan tetapi, dengan jatuhnya Istana Kesultanan ke tangan Belanda, tidaklah mengakibatkan Kesultanan Aceh mau menyerah.

Sultan dan para pimpinan mengungsi ke daerah Lueng Bata, dan mendirikan kubu pertahan baru sambil terus melakukan perlawan. Sedangkan di luar Aceh Besar, kenegerian keulebalang banyak yang masih melancarkan perlawanan terhadap Belanda.

Baca Juga: Asal-Usul Munculnya Nama Aceh

Ketika banyak tokoh pimpinan Aceh yang gugur dan menyerah termasuk menyerahnya Sultan Aceh terakhir pada Belanda, komando pimpinan perlawanan diambil alih oleh para ulama dengan mengobarkan semangat perang sabil (jihad fi sabilillah). Maka rakyat Aceh mulai melancarkan perang gerilya menyerang benteng atau kubu-kubu pertahan tentara Belanda.

Bagi Belanda perang besar merebut Istana dan Kota-Kota di Aceh amatlah mudah, karena lawan yang dihadapi jelas dan terukur, akan tetapi melawan pasukan grilya yang dilancarkan rakyat Aceh amatlah sulit, hal  itulah yang mengilhami Muhamad Syarif untuk membentuk pasukan Marsose.
Potret Muhamad Syarif
Muhamad Syarif yang kala itu menjabat sebagai Jaksa Kepala di Kutaraja (Banda Aceh) mempunyai ide mengagumkan, baginya pasukan Grilya harus di lawan dengan pasukan berkemampuan grilya pula, pasukan yang khusus menguasai senjata tradisional seperti Klewang, bahkan Rencong, pandai berduel dan tentunya pandai pula bermain senjata api, serta mampu hidup di hutan dengan perbekalan minim. Ide Muhamad Syarif itu kemudian disampaikan kepada Kepala Gubenur Militer Aceh saat itu yaitu Jenderal Van Teijn, dan kepada Kepala Stafnya Kapten J.B. Van Heutsz, ide tersebut kemudian di terima dan untuk selanjutnya Belanda membentuk pasukan khusus yang dinamai “Marsose”. (Zentgraaff, 1983, hlm 469).

Pasukan Marsose direkrut dari orang-orang bumiputra atau inlander, terutama dari Ambon dan Menado, ada juga orang Jawa, Madura, Bugis dan suku-suku lainnya. Mereka yang direkrut harus mempunyai keberanian individual yang sama seperti orang Eropa dan disamping itu mereka juga harus menguasai ketrampilan yang mutlak diperlukan dalam perang kontra gerilya. Mereka mampu melacak jejak, sanggup hidup sementara waktu di rimba Sumatra dengan makan hasil hutan dan memiliki bakat mahir menentukan arah mata angin (Veer, 1985, hlm 143)

Pasukan khusus marsose resmi dibentuk pada 2 April 1890 dengan surat keputusan pemerintah Hindia-Belanda. Namun demikian, korps tersebut baru betul-betul terwujud beberapa bulan kemudian, dan baru pada Desember 1895 betul-betul menjadi pasukan para-komando. Komandan pertamanya ialah Kapten G.W.J. Graafland. (Djamhari, 2004, hlm 86)

Selanjtnya, pasukan marsose gagasan Muhamad Syarif itu akhirnya benar-benar berjalan efektif, para pejuang Aceh dibuat menderita oleh pasukan ini, bahkan rakyat Aceh yang tidak ikut berjuangpun menjadi sasaran kebengisan pasukan marsose. Berangsur-angsur perjuangan grilya rakyat Aceh berkurang bahkan hampir tidak ada, kecuali hanya kelompok perlawanan kecil saja.

Catatan Sukses Pasukan Marsose di Aceh

Dari mulai di bentuk hingga penghancuran benteng terakhir para grilyawan Aceh, setidak-tidaknya terdapat dua serangan pasukan masrose yang dianggap paling sukses sekaligus mematikan perjuangan grilyawan Aceh.

Serangan yang paling mematikan pertama terjadi pada 28 Juni 1896, dalam serangan ini pasukan marsose melancarkan serangan mendadak pada benteng Aneuk Galong di Aceh Besar, dalam serangan ini benteng dan penghuninya dihabisi pasukan marsose, mereka dibantai tanpa ampun.
Pasukan Marsose Berfoto di depan Tumpukan Mayat Pejuang dari Pedalam Gayo-Alas
Sementara serangan yang paling mematikan ke dua terjadi pada tahun 1904, dalam serangan ini pasukan masrose yang dipimpin Letkol G.C.E. Van Daalen melakukan ekspedisi di pedalaman Aceh untuk menguasai daerah Gayo dan Alas. Pasukan marsose bergerak dari arah utara menuju tanah Gayo.

Dalam menghadapi perlawanan rakyat Gayo, Van Daalen memerintahkan membakar lubang-lubang perlindungan, membakar rumah-rumah di dalam benteng, sehingga banyak pejuang-pejuang Gayo mati terpanggang di dalam tempat persembunyiannya. Setelah dapat menundukkan daerah Gayo, pasukan marsose menuju ke daerah Alas. Benteng Lengat Baru akhirnya dapat direbut maka secara militer seluruh tanah Alas telah jatuh ke tangan Belanda. Dalam melakukan ekspedisi ke Gayo dan Alas, pasukan marsose telah melakukan kekejaman dan teror, yang menyebabkan ratusan orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak terbunuh.

Baca Juga: Menyingkirkan Sultanah Aceh Bermodal Fatwa Mufti Besar Mekah

Daftar Bacaan
[1]Bernard H.M. Vlekke, Nusantara: A History of Indonesia, (Leiden: The Hague, 1959)
[2]Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Jilid 1, (Medan: Harian Waspada, 1981)
[3]H.C. Zentgraaff, Aceh (Jakarta: Buana, 1983)
[4]Paul van ’t Veer, Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, (Jakarta: Grafiti Press, 1985)
[5]Saleh A. Djamhari, Strategi Menjinakkan Diponogoro: Stelsel Benteng 1825-830, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2004)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search