Asal-Usul Munculnya Nama Aceh

- Januari 12, 2019
Aceh sebagai sebuah nama memang secara resmi baru digunakan pada tahun 1496 Masehi, di gunakan untuk menamai Kerajaan Islam yang terletak diujung pulau Sumatra. Kerajaan Islam itu dikenal dengan nama Aceh Darussalam. Meskipun demikian, Nama Aceh dipercayai muncul jauh sebelum itu, dalam catatan Ismail Suny (1980) nama Aceh pada mulanya muncul selepas orang-orang daerah itu mengangkat seorang wanita menjadi ratu mereka, wanita ini dikisahkan sebagai wanita terhormat dari India yang kebetulan tersesat dan terdampar di daerah itu.

Catatan Ismail Sunny (1980) mengenai asal mula munculnya nama Aceh itu didasarkan pada legenda yang muncul ditengah-tengah masyarakat Aceh, dalam catatanya itu ia menyatakan bahwa suatu hari ada seorang Putri Hindustan hilang dicari-cari oleh saudaranya hingga sampai kepulau Sumatera.

Sesampainya di daerah yang kini disebut Aceh itu, tiba-tiba saudaranya menjumpai putri itu. Kepada penduduk lalu dijelaskannya bahwa putri tersebut adalah “Aci” nya, yaitu adiknya. Karena putri itu berkelakuan baik dan terhormat, penduduk menyakininnya keturunan bangsawan juga. Atas mufakat pendududk, putri ini diangkat menajdi Ratu (Raja) mereka. Untuk menamai negri yang baru di bangun ini disebut sajalah “Aci”, diambil dari perkataan yang mula-mula diucapkan oleh saudaranya. Demikianlah selanjutnya sebutan “Aci” itu lama kelamaan berubah menjadi “Aceh”.

Selalin versi di atas, rupanya adalagi legenda yang menyebutkan tentang asal-usul munculnya nama Aceh, kali ini legenda itu diungkapkan oleh Mohammad Said (1981), dalam bukunya Said mengungkapkan bahwa nama Aceh bersal dari istilah Hindu “Aca atau Atca” yang mempunyai maksud “Indah”

Berpandangan demikian karena Mohamad Said mendasarkan pendapatnya pada legenda lama yang menyatakan bahwa katanya “Sebuah kapal Gujarat memasuki Sungai Cedah untuk berdagang. Ketika awak kapal turun ke darat dan tiba di kampung Pandai, tiba-tiba datang hujan, maka dengan terburu-buru mereka berlari ke tempat perteduhan dibawah sepohon kayu berdaun rindang. Merasa lega karena dengan begitu terlindung dari hujan, merekapun berkata Aca, Aca, Aca. Kemudian ketika mereka berada di Pidie, mereka bertemu dengan sebuah perahu dari sungai Cadah. Awak kapal bertanya kepada awak perahu tersebut apakah mereka tadinya singgah di kampong Pandai. Ketika awak perahu menjawab ya, merekapun mengucapkan Aca, Aca, Aca. Akhirnya Aca itu disebut menjadi Aceh”.

Sementara itu selain kedua pendapat yang didasarkan pada legenda rakyat aceh itu, ada juga pendapat yang dihimpun oleh H.M Zainudin (1961), dalam pendapat ini dinyatakan bahwa  bahwa Suku Aceh termasuk dalam rumpun bangsa melayu, yaitu Mante (Bante), Lanun, Sakai, Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus, Gangga, dan India.

Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khusunya di Kampung Seumileuk yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah. Letak kampung tersebut di atas Seulimun, antara Jantho dan Tangse.

Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sangoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut perpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut “Aceh” dengan sebutan Rami (Ramni). OrangTiongkok menyebutnya Lanli, Lan-wu-li dan Nanpoli yang sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri, sementara orang Melayu menyebutnya Lambri (Lamiri).

Dalam pendapat yang dihimpun oleh H.M Zainudin di atas memang tidak menyebutkan mengnai asal-usul terbentuknya nama Aceh, ia hanya memaparkan asal-usul Suku Aceh meskipun demikian pendapat ini sepertinya justru melegitimasi kedua legenda yang ada, bahwa asal-usul suku Aceh tidak terlepas dari orang-orang Hindu India yang datang diwilayah itu.

Baca Juga: Muhamad Syarif Penncetus pasukan Marsose Belanda

Daftar Pustaka
[1]Ismail Suny, Bunga Rampai tentang Aceh, (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1980), hlm. 19
[2]Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: PT. Percetakan Dan Penerbitan Waspada,1981), Jilid 1, hlm.139-140
[3]H.M Zainudin, Tarich Atjeh Dan Nusantara, (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961), Jilid 1, hlm. 23


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search