Mengenal Cooperative Learning

- April 27, 2019
Bungfei.com-Dalam kegiatan pembelajaran dikenal suatu bentuk atau pendekatan pembelajaran yang disebut dengan Cooperative Learning atau pembelajaran koopeatif. Model pembelajaan ini biasanya digunakan untuk meningkatkan siswa dalam bekerjasama atau berkelompok untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran, seperti bekerjasama untuk menjawab soal-soal latihan dan lain sebagainya.

Pengertian Cooperative learning

Menurut Yusuf (2005:34)Cooprative Learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Cooperative Learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam Cooperative Learning, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Menurut Rusman (2012:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Pertukaran ide dan pemeriksan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme.

Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas seeta daya cipta. (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika didalam proses pembelajaran. Teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan pada masalah-masalah  kompleks untuk dicari solusinya.

Jadi, menurut penulis penggunaan strategi Cooperative Learning bukan sekedar pembelajaran dalam kelompok namun disini terlihat adanya suatu interaksi sosial antar siswa sehingga akan timbul jiwa solidaritas antar sesama dan menerima segala kekurangan yang ada serta saling membantu mewujudkan keberhasilan pembelajaran.

Cooperative Learning tidak hanya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun, menumbuhkan pemikiran-pemikiransiswadalam pembelajaran. Pengelompokkan dengan Cooperative yang bersifat heterogen ini agar setiap anggota kelompok saling memberikan pengalaman dan memberikan konstribusi dalam kelompok sehingga tidak ada anggota yang dominan dalam kelompok.
Belajar Berkelompok


Ciri-ciri Cooperative Learning

Menurut Sanjaya (2008:244), Cooperative Learning berbeda dengan strategi pembelajaran lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.

Selanjutnya Sanjaya (2008:244-246), menyatakan bahwa  Karakteristik Strategi Cooperative Learning yaitu sebagai berikut :

  1. Pembelajaran secara tim, semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim
  2. Didasarkan pada Managemen Cooperative. Berdasarkan manajemen cooperative yaitu yang pertama, fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaran cooperative memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa Cooperative Learning adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam Cooperative Learning perlu ditentukan criteria keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.
  3. Kemauan untuk bekerja sama, Setiap anggota kelompokbukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamnkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar membantuyang kurang pintar.

Keterampilan Bekerja Sama, Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikan melalui melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. 

Tujuan dan Manfaat Cooperative Learning

Abdul Majid (2013:175) dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat tiga tujuan pokok belajar kooperatif adalah :

  • Pertama, meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. ModelCooperative ini memiliki keunggulan dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit. 
  • Kedua, agar siswa dapat menerima teman-temanya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang. 
  • Ketiga, mengembangkan keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan idea tau pendapat, dan bekeja dalam kelompok.

Masih menurut Abdul Majid (2013:175), ada beberapa manfaat Cooperative Learning bagi siswa dengan pestasi belajar yang rendah, yaitu : meningkatkan pencurahan waktu pada tugas, rasa harga diri menjadi lebih tinggi, memperbaiki sikap, memperbaiki kehadiran, angka putus sekolah menjadi rendah, penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar, perilaku mengganggu menjadi lebih kecil, konflik antar pribadi berkurang, sikap apatis bekurang, pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan motivasi lebih besar, hasil belajar lebih tinggi, retensi lebih lama, dan meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

Unsur Penting dan Prinsip Utama Cooperative Learning 

Menurut Jamal (2016:47) tidak semua keja kelompok bisa disebut Cooperative Learning. Untuk itu harus diterapkan lima unsur dalam model Cooperative Learning yaitu :

  1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain
  2. Tanggung jawab perorangan. Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal 
  3. Tatap muka. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antar siswa. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. 
  4. Komunikasi antar kelompok. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. 
  5. Membantu siswa yang membutuhkan bantuan 

Siswatidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya.
Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa ada proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.

Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya.

Konsep utama dari belajar kooperatif menurut Trianto (2011:61) adalah sebagai berikut:

  1. Penghargaan kelompok, 
  2. Tanggung jawab individual, 
  3. Kesempatan yang sama untuk sukses.

Implikasi Model pembelajaran Cooperative Learning 

Menurut Trianto (2011:62) bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Trianto (2011:62) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Trianto (2011:62) memberikan sejumlah implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar kooperatif yaitu sebagai berikut:

  1. Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar. 
  2. Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa.
  3. Suatu masalah idealnya cocok untuk didiskusikan secara kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstasikan secara objektif. 
  4. Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teks, teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat. 
  5. Ruang lingkup materi dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan. 

Belajar kooperatif dapat berbeda dalam banyak cara, tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut, (1) tujuan kelompok (2) tanggung jawab individual (3) kesempatan yang sama untuk sukses (4) kompetisi kelompok (5) spesialisasi tugas; dan (6) adaptasi untuk kebutuhan individu.

Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning 

Secara umum Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning tergambar sebagaimana table dibawah ini:

Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning

Keunggulan Pembelajaran Cooperative
Menurut Sanjaya (2008:249-251)Keunggulan pembelajaran Cooperative sebagai suatu model pembelajaran diantaranya :
  1. Melalui pembelajaran Cooperative  siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi akan menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa lain.
  2. Pembelajaran Cooperative mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata - kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide – ide orang lain.
  3. Pembelajaran Cooperative dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Pembelajaran Cooperativedapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Pembelajaran Cooperativemerupakan suatu model yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekligus kemampuan sosial. 
  6. Melalui pembelajaran Cooperativedapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  7. Pembelajaran Cooperativedapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
  8. Interaksi selama Cooperative berlangsung apat meningkatkan motivsi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.
Kelemahan Pembelajaran Cooperative
Menurut Sanjaya (2008:90) Keunggulan pembelajaran Cooperative sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:
  1. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
  2. Ciri utama dari pembelajaran Cooperative adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa perteaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan di pahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
  3. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran Cooperative didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prsetasi yang diharapkan adalah prsetasi setiap individu siswa.
  4. Keberhasilan pembelajaran Cooperative dalam upaya mengembangkan kesadaran kelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi.  
Dafta Pustaka
  1. Asih, Triana. 2011. Pengembangan Keterampilan Proses Sains Siswa Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing Berbasis Portofolio  Siswa  SMA  Negeri 1  Purbolinggo. Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Metro.
  2. Cartono. 2007. Metode dan Pendekatan dalam Pembelajaran Sains. Bandung: Program Doktor Sekolah  Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
  3. Cartono. 2005. Biologi Umum untuk Perguruan Tinggi LPTK. Bandung. Prisma Press..
  4. Dimayati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
  5. Endaningsih, Nenden dkk. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Biologi Dengan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw. Universitas Indraprasta PGRI. Diakses 24 Januari 2017
  6. Hamdayama, Jumanta S. Pd., M.Si. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Bekarakter. Bogor : Ghalia Indonesia.
  7. Hake, Richard R. 1998.  Interactive-Engagement Versus Traditional Methods:A  Six-
  8. Thousand-Student Survey Of Mechanics Test Data For Introductory Physics 
  9. Courses.
  10. Indriyanto. 2010. Ekologi Hutan. Jakarta : PT Bumi Aksara.
  11. Jamal Makmur, Asmani. 2016 . Tips Eektif Coopeative Learning. Yogyakata : Diva Pess 
  12. Juhji. 2016. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Pendekatan Inkuiri Terbimbing. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran IPA.Vol. 2, No. 1, Juni 2016, Hal. 58-70 e-ISSN 2477-2038. 
  13. Malik, Adam, dkk. 2016. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Context Based Learning. Prodi Pendidikan Fisika, FTK UIN Sunan Gunung Djati, Jl. A.H. Nasution No 105. Bandung.
  14. Majid, Abdul . 2013. Stategi Pembelajaran. Jakarta : PT Remaja Rosdakarya
  15. Meltzer, David E. 2002. Journal The Relationship Between Mathematict Preparation and Conceptual Learning Gains in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostic Pretes Score. http://ojps.ajp.org/ajp/html. 23 November 2016
  16. Nuh, Usep. 2010. Keterampilan Proses Sains (online).http//fisikasma-online.blogspot.com/2010/03/keterampilan-proses-sains.html.20 November 2016
  17. Pratama, Ayu, Amanah, dkk. 2014. Jurnal Studi Keterampilan Proses Sains Pada Pembelajaran Fisika Materi Getaran Dan Gelombang Di Kelas Viii SMP Negeri 18 Palembang. Pendidikan Fisika FKIP Unsri.
  18. Riduwan.  2011. Belajar  Mudah  Penelitian  untuk Guru-Karyawan  dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta
  19. Rustaman, Nuryani Y. 2005. Strategi Belajar Mengajar Bilogi. Malang : UM press
  20. Rustaman, Nuryani Y. 2011. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Malang : UM press.
  21. Rusman. Dr.  2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press
  22. Semiawan, C. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta : PT Gramedia.
  23. Sanjaya, Winna. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : kencana Prenada Media Goup.
  24. Subiyanto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
  25. Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
  26. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
  27. Surapranata, S. 2004. Panduan Penulisan TesTertulisImplementasi Model pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
  28. Sudjiono, Anas. 2007.  Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  29. Solihati, Betari, dkk. 2015. Profil Keterampilan Proses Sains Siswapada Materi Sistem Gerak Manusia. Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lampung.
  30. Trianto, (2011). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. 
  31. Trianto, (2011). Model Pembelajaran Terpadu, Startegi dan Implementasinya dalam KTSP. Jakarta: Prestasi Pustaka.
  32. Wahono, Widodo, dkk. 2014. Ilmu Pengetahuan Alam Smp dan MTs Kelas VII. Edisi revisi 2014.  Jakarta : Kementrian, pendidikan dan kebudayaan.
  33. Wahidin. 2006. Metode Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (untuk program D-II dan S.1
  34. Wasis dan Irianto, Sugeng Y. 2008. dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  35. Wahono, 2013. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta : Politeknik Negeri Media Kreatif.
  36. Yatim, W. 2003. Kamus Biologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
  37. Zuriyani, Elsy. 2011. Literasi Sains dan Pendidikan. Depdiknas. Diakses tanggal 23 Januari 2017


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search