Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis dan Indikatornya

- Maret 16, 2019
Bungfei.com-Keterampilan merupakan kecakapan melakukan suatu tugas tertentu yang diperoleh dengan cara berlatih terus- menerus, karena keterampilan tidak serta merta datang sendiri secara otomatis dan kebetulan, melainkan secara sengaja diprogram melalui latihan terus-menerus (Nurhayati, 2010: 27). Sementara itu yang dimaksud dengan pengertian berpikir menurut Gary (Wahidin, 2006: 123), adalah sebagai kebolehan manusia untuk membentuk konsep, memberi sebab dan membuat keputusan.

Adapun menurut Wade (2011:7), berfikir kritis adalah “kemampuan dan kesediaan untuk menilai berbagai pernyataan dan mengambil keputusan yang didasarkan pada alasan dan fakta yang memiliki dukungan yang baik, bukan berdasarkan emosi atau anekdote. Para pemikir kritis mampu mencari kekurangan yang terdapat dalam argumen-argumen dan menolak pernyataan-pernyataan yang tidak didukung oleh fakta”.

Berpikir kritis merupakan proses mental yang terorganisasi dengan baik dan berperan dalam proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah. Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh Dewey sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan. Jenis berpikir ini disebut juga berpikir tingkat tinggi (Nurhayati, 2011: 67).

Sejarah mengenai berpikir kritis dimulai dari John Dewey yang hidup pada 1909, seorang filsuf, psikolog, dan edukator berkebangsaan Amerika yang menamakan berpikir kritis sebagai berpikir reflektif yaitu pertimbangan yang aktif, persistent (terus-menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan- alasan yang mendukungnya dan kesimpulan- kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya (Fisher, 2008: 2).

Glasser pada tahun 1941 mengembangkan gagasan Dewey yang mendefinisikan berpikir kritis sebagai (1) suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang; (2) pengetahuan tentang metode- metode pemeriksaan dan penalaran yang logis; (3) semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode- metode tersebut. Berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan asumtif berdasarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan- kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya (Fisher, 2008: 3).

Adapun menurut Robert Ennis (Fisher, 2008: 4), “berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan”.

Sementara Richard Paul (Fisher, 2008: 4), mendefinisikan berpikir kritis adalah “mode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja, dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur- struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar- standar intelektual padanya”.

Adapun Michael Scriven( Fisher, 2008: 4), mendefinisikan berpikir kritis adalah “kompetensi akademis yang mirip dengan membaca dan menulis dan hampir sama pentingnya. Oleh karena itu, ia mendefinisikan berpikir kritis sebagai interpretasi dan evaluasi yang terampil dan aktif terhadap observasi dan komunikasi, informasi dan argumentasi”.

Berdsarkan penjelasan para ahli sebagaimana beberapa pengertian berfikir kritis di atas dapatlah kemudian dipahami bahwa yang dimaksud dengan berfikir kritis pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk menilai berbagai pernyataan dan mengambil keputusan yang didasarkan pada alasan dan fakta yang memiliki dukungan yang baik, bukan berdasarkan emosi.

Indikator Keterampilan Berpikir Kritis

Menurut Fisher (2008:8), berpikir kritis mempunyai indikatornya tersendiri yaitu, mampu:
  1. Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan- alasan dan kesimpulan- kesimpulan
  2. Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi.
  3. Mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan-pernyataan dan gagasan- gagasan
  4. Menilai akseptabilitas, khususnya kredibilitas, klaim- klaim
  5. Mengevaluasi argumen- argumen yang beragam jenisnya
  6. Menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan penjelasan- penjelasan
  7. Menganalisis, mengevaluasi, dan membuat keputusan- keputusan
  8. Menarik inferensi- inferensi
  9. Menghasilkan argumen- argumen
Berdasarkan indicator-indikator di atas dapatlah dipahami bahwa orang yang menguasai keterampilan berfikir kritis adalah olah yang mampu mengidentifikasi, mengkalisfikasi, menilai, mengevaluasi dan menerik kesimpulan dari apa yang difikirkannya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search