Dewi Tanuran Gagang Perempuan Berkelamin Api

- Februari 15, 2019
Dalam legenda Sunda dikisahkan bahwa Dewi Tanuran Gagang adalah wanita misterius anak Dewi Mandapa. Selama hidupnya Dewi Tanuran Gagang pernah berganti-ganti suami, diantaranya pangeran dari Jayakarta, Cirebon, Mataram serta beberapa pedagang kaya dari Belanda dan Inggris, tapi rupanya kebanyakan suaminya itu tidak sanggup menidurinya, sebab kemaluan Dewi Tanuran Gagang mengeluarkan api yang berkobar-kobar.

Asal-Usul Dewi Tanuran Gagang

Dalam legenda Sunda, sebagaimana yang dikabarkan dalam beberapa naskah Cirebon, disebutkan bahwa, dahulu ketika Cirebon diperintah oleh Sunan Gunung Jati, Cirebon terlibat peperangan dengan kerajaan bawahan Pajajaran, dalam peperangan itu kerajaan tersebut dapat ditaklukan Cirebon, sementara Raja dari negeri itu dapat ditawan.

Meskipun demikian, ada keluarga Raja yang berhasil melarikan diri, keluarga Raja Bawahan itu adalah adik perempuan sang Raja yang bernama  Dewi Mandapa.

Dalam pelariannya, Dewi Mandapa begitu dendam terhaap Sunan Gunung Jati, sehingga ia ingin melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang menaklukan negerinya, terutamanya pada Sunan Gunung Jati.

Untuk menyongsong cita-citanya, Dewi Mandapa  bertapa  di Gunung Padang, dalam pertapaannya itu ia terus-terusan berdoa agar anak keturunanya kelak dapat memerintah kembali tanah Pasundan yang dizamanya telah direbut oleh Sunan Gunung Jati.
Gunung Padang Jawa Barat
Ketika Dewi Mandapa bertapa, ternyata di Gunung Padang itu juga ada seorang tua yang sedang melakukan pertapaan, rambutnya putih bajunya compang-camping. Namanya Ki Ajar Sukarsa.

Selepas mengamati dan memahami tujuan Dewi Mandapa bertapa, Ki Ajar Sukarsa kemudian berkata padanya;
"Bertapalah di bawah pohon Pinang selama satu tahun, pohon Pinang yang dijalari pohon Sirih. Sudah dijanjikan kepadamu bahwa kelak bila ada daun sirih kering jatuh, menjatuhi pusar ananda, maka ananda ambil dan makanlah daun itu segera. Kelak nanti ananda akan dapat membalas dendam kepada yang telah menyakiti hatimu".
Dewi Mandapa kemudian menyanggupi perintah Ki Ajar Sukarsa. Selepas itu, Dewi Mandapa yang dahulu bertapa sesuai dengan nasihat Ki Ajar Sukarsa, telah bertapa dari setahun menjadi dua puluh lima tahun.

Pada suatu hari dalam tapanya di bawah pohon Pinang, ada daun Sirih yang jatuh, menjatuhi dirinya seperti yang telah dijanjikan. Segera dia mengambil dan memakannya. Setelah tiba waktunya maka kemudian lahir seorang bayi perempuan yang cantik rupawan dan diberi nama Dewi Tanuran Gagang.

Dewi Tanuran Gagang Dinikahi oleh Para Pangeran dari Jayakarta, Cirebon dan Mataram

Setelah menginjak usia dewasa, kecantikan Dewi Tanuran Gagang terdengar oleh Pangeran Jayakarta yang bernama Raja Lahut. Dewi Tanuran Gagang lalu diambilnya untuk dijodohkan dengan anaknya yang bernama Pangeran Tlutur.

Namun manakala Pangeran Tlutur hendak menyetubuhinya, keluar hawa panas yang berkobar-kobar dalam kelamin Dewi Mandapa, sehingga Pangran Tlutur tidak menginginkannya lagi.

Suatu waktu, Pangeran Tlutur berkunjung ke Cirbon, di Cirebon ia membawa serta Dewi Tanuran Gagang, di Cirebon sang dewi diserahkan kepada Pangeran Cirebon. Oleh Pangeran Cirebon sang Dewi kemudian diperistri, namun lagi-lagi ketika hendak disetubuhi, Dewi Tanuran Gagang rupanya mengeluarkan hawa panas dari dalam kemaluannya, sehingga pangeran Cirebon merasa heran.

Selanjutnya, ketika Cirebon dibawah kekuasaan Mataram, rombongan Raja dan Keluarga Raja dari Cirebon mengunjungi Mataram untuk melakukan seba tahunan, dalam seba itu Dewi Tanuran Gagang dibawa serta oleh Pangeran Cirebon.

Dalam kunjungan itu Dewi Tanuran Gagang kemudian dipersembahkan oleh Pangeran Cirebon kepada Sunan Mataram. Untuk membalas persembahan itu, Sunan Mataram kemudian menghadiahkan Arya Cirebon seorang Putri Mataram yang bernama Putri Sidapulin.

Selepas menjadi hak miliknya, dikisahkan Sunan Mataram hendak menyetubuhi Dewi Tanuran Gagang, akan tetapi lagi-lagi hal yang terjadi tetap sama, Dewi Mandapa mengeluarkan hawa panas berupa api dalam kemaluannya, merasa aneh atas kejadian itu Sunan Mataram berniat membunuhnya, akan tetapi berkat nasehat para abdinya tentang larangan membunuh orang yang tak melakukan kejahatan, Sunan Mataram kemudian tidak jadi membunuhnya.

Dewi Tanuran Gagang Di Tukar Dengan Meriam

Selepas kejadian aneh yang menimpa Sunan Mataram, ia akhirnya memutuskan untuk menjual Dewi Tanuran Gagang kepada pedagang Belanda yang hendak berlayar pulang ke negerinya.

Dewi Tanuran Gagang kemuian dibeli oleh pedagang Belanda dengan cara ditukar dengan 3 meriam. Kegia meriam itu adalah meriam Sapujagat, Si Antu, dan Si Amuk. Meriam Si Antu dan Si Amuk kemudian dihadiahkan oleh Sunan Mataram kepada Cirebon dan Jayakarta.
Kapal Layar Belanda
Melalui pedagang Belanda, Dewi Tanuran Gagang dibawa ke Eropa, di Eropa, ia kerap berganti tuan dan suami sebab  banyak yang tak sanggup menyetubuhinya. Hingga akhirnya ada seorang Belanda yang bernama Raja Ngaladiwasa yang tinggal di Inggris, orang itu dikisahkan dapat memadamkan penyakit aneh dalam kemaluan Dewi Tanuran Gagang.

Dewi Tanuran Gagang kemudian tinggal di Inggris hingga memiliki keturunan, kelak keturunan Dewi Tanuran Gagang itu yang kemudian turut merebut kekuasaan dari keturunanya Sunan Gunung Jati di tanah Pasundan. Yaitu merebut Jayakarta, menaklukan Banten dan Cirebon. Begitulah legenda mengenai Dewi Tanuran Gagang perempuan berkelamin api dari tanah Sunda. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search