Pedang Cura Si Manjakini Sisa Kejayaan Bangsa Tamil Di Tanah Melayu

- Januari 23, 2019
Pedang Cura Si Manjakini adalah pedang kebesaran Kesultanan Perak Malayisa. Kesultanan Perak didirkan pada tahun 1528 atau 17 tahun selepas ditaklukannya Kesultanan Melaka oleh Portugis pada 1511. Pendiri kesultanan Perak adalah Raja Muzaffar Shah, anak sulung Sultan Melaka terakhir yang melarikan diri selepas Malaka ditaklukan Portugis.

Kesultanan Perak mewarisi pedang “Cura Si Manjakini” karena pedang tersebut dibawa serta Raja Malaka ketika melarikan diri dari Portugis. Sementara mengenai asal-usulnya, pedang Cura Si Manjakini berasal dari  Prameswara Sultan pertama Melaka (1344-1414), sementara Prameswara mendapatkan pedang tersebut turun temurun dari nenek moyangnya. Nenek moyang Prameswara dalam hikayat melayu disebut sebagai “Sang Sapurba” seorang berdarah India yang dahulu datang ke Sumatra.

Ditinjau dari penampilannya, tampak jelas bahwa Cura Si Manjakini merupakan pedang India, lebih tepatnya pedangnya orang Tamil. Oleh karena itu jelas pula bahwa pedang Cura Si Manjakini bukan Pedang Jepang, Cina, maupun Eropa apalagi Melayu.
Pedang Cura Si Manjakini
Menurut beberapa sejarawan, kata “Cura Si Manjakini” berasal dari bahasa Tamil yaitu "Curak" dan "Mandakini". Curak berarti "membelah/pembelah" sementara Mandakini berarti "nama Sungai yang berada di India". Dengan demikian pedang Cura Si Manjakini bermaksud "pedang pembelah yang berasal dari Sungai Mandakini".

Asal-usul Sang Sapurba yang berdarah India rupanya selaras denggan sisa-sisa  peninggalannya, mengingat pedang Cura Si Manjakini  juga ternyata pedang asing yang memang buatan India ditambah lagi ternyata nama dari pedang tersebut menggunakan bahasa Tamil India.

Hubungan antara orang-orang Melayu dengan orang India khususnya bangsa Tamil sudah terjadi sejak lama, akan tetapi catatan mengenai berkuasanya orang-orang Tamil di tanah melayu sehingga menjadi penguasa dan memrintah Melayu terjadi pada tahun 1030.

Dalam Prasasti Tanjore, disebutkan bahwa pada tahun 1017 dan 1025 masehi, bangsa Tamil dari Kerajaan Chola Mandala India menyerang Sriwijaya, dalam serangan itu pusat Kerajaan Sriwijaya dapat ditaklukan bahkan rajanya ditawan, selain itu bangsa Tamil melalui kerajaan Chola-nya juga berhasil menaklukan koloni/jajahan Kerajaan Sriwijaya seperti Khadaram (Kedah) dan lain sebagainya.
Prasasti Tanjore: verkedell.blogspot.com
Kabar yang termaktub dalam prasasti Tanjore rupanya susai dengan apa yang diberitakan dalam Kronik Cina abad XI, dalam Kronik Cina disebutkan bahwa pada tahun 1079 Sriwijaya dibawah kekuasaan Kerajaan Chola Mandala India. Dengan demikian maka secara sejarah, betul orang Tamil khusunya dari Kerajaan Chola dahulu pernah menjadi Raja atau penguasa di Sriwijaya yang kala itu berpusat di Palembang.

Selain disingung dalam catatan sejarah bangsa asing, kisah menjadi Rajanya orang Tamil (Chola) di tanah melayu juga dikisahkan secara samar-samar dalam beberapa hikayat Melayu, seperti Tambo Minang, Salalatus Salatin, Hikayat Negeri Perak dan lain sebagainya, hanya saja kisah-kisah yang terdapat dalam hikayat Melayu tidak akurat karena bercampur dengan hal-hal mistis.

Isinya cenderung lebih mirip dongeng ketimbang sebagai catatan sejarah. Hal tersebut bisa dimaklumi sebab hikayat Melayu pada mumnya ditulis ratusan tahun selepas peristiwa dan juga penulisannya dibumbui dengan hal-hal mistis serta bahasa kiasan yang tak sembarang orang dapat memahaminya.

Kedatangan orang asing, maksudnya Tamil Chola dalam hikayat melayu di indikasikan dengan adanya suatu kisah mengenai kedatangan seorang tokoh yang bernama “Sang Sapurba” tokoh Sang Sapurba digambarkan sebagai keturunan Iskandar Agung melalui salah seorang isteri yang berbangsa India.

Sang Sapurba, yang kemudian dikenali sebagai Sri Nila Pahlawan muncul bersama saudara-saudaranya yang lebih muda, yaitu Sri Krishna Pandita dan Sri Nila Utama di atas Bukit Seguntang, Sumatera. Putera Raja ini kemudian turun ke lembah Palembang di mana ia dikahwinkan dengan Wan Sendari, puteri Demang Lebar Daun penguasa Palembang. Di Palembang Sang Sapurba dinobatkan menjadi Raja, dari perkawinannya dengan Wan Sendari kemudian lahir raja-raja Melayu di Nusantara. Warisan Sang Sapurba yang diturunkan pada Raja-Raja Melayu dikemudian hari adalah “Pedang Cura Si Manjakini”.

Dari fakta-fakta sejarah yang telah diuraikan, ditambah dengan cerita yang bersumber dari beberapa hikayat Melayu di atas, maka dapat dismpulkan bahwa sepertinya Pedang Cura Si Manjakini adalah sebuah bukti sekaligus sisa kejayaan bangsa Tamil dari kerajaan Chola di tanah Melayu.

Baca Juga: 50 Tahun Bangsa Tamil Memerintah Melayu

3 Comments

avatar

Yg menulis ni confirm jawa ,jawa yg dengkikan melayu. Kesian jawa sudahlah bahasanya tdk menhadi lingua franca sbb bahasa orang hutan.
Sejarah yg sebenarnya sriwijaya lah yg menakluk tamil. Tamil menakluk melayu ini tiada dalam fakta sejarah melainkan fakta yg dibuat buat

avatar

Kalo punya sejarah bandingan tinggal tulis bahwa sriwijaya bisa tundukkan tamil. Jgn nyalahin suku lain

avatar

Di banyak literatur, Sriwijaya memang pernah dibawah kekuasaan Kerajaan Chola, India.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search