Daftar Khalifah Bani Umayyah

- Januari 06, 2019
KHLAIFAH BANI UMAYYAH-Selama 90 tahun berkuasa dinasti Bani Umayyah menelurkan sebanyak 14 Khalifah, para Khalifah itu pada pelaksanaannya ada yang memerintah dengan adil dan bijaksana serta ada juga yang bersikap sebaliknya, kelak khalifah-khalifah adil lagi bijaksana itu yang kemudian membawa kejayaan Islam pada masa pemerintahan ini, sementara yang tidak bersikap demikian kelak akan membuat kemundran bahkan keruntuhan dari dinasti pertama dalam sistem pemerintahan Islam ini.
Ilustrasi
Rincian mengenai daftarparaf Khalifah dinasti Umayyah dalam artikel ini akan dibahas satu persatu sebagaimana berikut:

(1) Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/ 661-680 M)

Muawiyah dilahirkan kira-kira 15 tahun sebelum Hijrah, dan masuk Islam pada hari penaklukan kota Mekah bersama-sama penduduk kota Mekah lainnya. Waktu itu ia berusia 23 tahun.

Rasulullah ingin sekali mendekatkan orang-orang yang baru masuk Islam diantara pemimpin-pemimpin keluarga ternama kepadanya, agar perhatian mereka kepada Islam itu dapat terjamin, dan agar ajaran-ajaran Islam itu benar-benar tertanam dalam hati mereka. Sebab itu Rasulullah berusaha supaya Muawiyah menjadi lebih akrab dengan beliau. Muawiyah lalu diangkat menjadi salah satu anggota Penulis wahyu.

Muawiyah banyak meriwayatkan hadis, baik yang langsung dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat lain diantaranya dari saudara perempuannya, Habibah binti Abi Sufyan, isteri Rasulullah, dan dari Abdullah bin Abbas, Said bin Musayyab, dan lain-lain.

Inilah yang menyebabkan Khalifah Umar suka kepadanya. Selanjutnya pada masa Khalifah Usman, semua daerah Syam itu diserahkan kepada Muawiyah. Dia sendiri yang mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat pemerintahannya. Dengan demikian, Muawiyah telah berhasil memegang jabatan Gubernur selama 20 tahun. Dan sesudah itu ia menjadi Khalifah selama 20 tahun pula.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai gebrakan-gerbakan politik Muawiyah Bin Abi Sofyan dalam meraih kekuasaan dapat  anda baca pada artikel kami yang berjudul "Muawiyah Pendiri Dinasti Umayyah"

(2) Yazid bin Muawiyah (60-64 H/ 680-683 M)

Namanya Yazid bin Muawiyah, ibunya Maisun al Kalbiyah yaitu seorang wanita padang pasir yang dikawini Muawiyah sebelum ia menjadi Khalifah.

Tetapi Maisun ini tidak merasa betah dengan kehidupan di kota. Akhirnya Muawiyah memulangkannya kepada keluarganya bersama Yazid puteranya, karena wanita ini merindukan kehidupan di alam padang pasir dan betapa ia benci pada kehidupan dalam istana serta pakaian-pakaian yang serba mewah itu.

Penunjukan Muawiyah terhadap penggantinya adalah suatu tindakan yang bijaksana, dan adanya yang baru itu dari kalangan Bani Umayyah adalah suatu hal yang dapat diterima karena keadaan darurat. Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya.

Yazid. Meskipun dalam internal Bani Umayyah ada orang yang lebih baik daripada Yazid,  misalnya Abdul Malik bin Marwan. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Akhir riwayat hidup Yazid tidak panjang. Masa pemerintahannya berlangsung hanya tiga tahun. Ia mati dalam usia muda. Ia tidak sempat merasakan kenikmatan sebagai Khalifah.

Begitu ia naik tahta, dihadapannya telah berkecamuk bermacam-macam peristiwa, yang merupakan penyakit berat bagi negaranya, Ia mulai mengobati penyakit-penyakit itu, obat yang dipakainya itu malah lebih berbahaya daripada penyakit-penyakit itu sendiri.

Peristiwa-peristiwa yang merupakan penyakit berat bagi negaranya yang kemudian diringkas oleh penulis yaitu pemberontakan Husein terhadap pemerintahan khalifah Yazid. Husein enggan berbaiat kepada Yazid karena semangatnya yang begitu besar untuk menjaga prinsip musyawarah dan keinginannya untuk mendapatkan pemimpin yang baik.

Yazid mengirim utusan yang bernama Ubaidullah bin Ziyad tugasnya untuk mencegah Husein melarangnya dari urusan tertentu sekalipun memeranginya. Namun, Ubaidullah membunuh Husein dan memenggal kepalanya lalu dibawanya ke Syam.

Yazid sangat kecewa dengan peristiwa yang menyebabkan terbunuhnya cucu Nabi tersebut. Lalu Yazid menghukum dan melaknat Ubaidullah. Setelah peristiwa terbunuhnya Ustman, kini peristiwa terbunuhnya Husein pun menjadi sisi kelam pemerintahan Yazid dalam catatan sejarah dan merupakan penyebab fitnah terbesar umat ini yang tiada hentinya untuk menyalahkan khalifah Yazid padahal Yazid tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan atas peristiwa terbunuhnya Husein.

Peristiwa lainnya setelah terbunuhnya Husein adalah pemberontakan penduduk Madinah dan membatalkan baiatnya kepada Yazid serta mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka untuk meminta agar mereka taat kembali kepada Yazid tanpa adanya peperangan dan jika mereka tidak mentaati dalam waktu tiga hari maka, tentara Yazid akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka. Namun, Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekah.
Ilustrasi

(3) Muawiyah bin Yazid (64 H/ 683 M)

Ia hanyalah seorang pemuda yang lemah. Masa jabatannya tidak lebih dari 40 hari. Kemudian ia mengundurkan diri karena sakit. Dan selanjutnya ia mengurung dirinya di rumah sampai ia meninggal tiga bulan kemudian.

Alasan ia dipilih karena neneknya, yaitu Muawiyah I telah meletakkan asas-asas sistem warisan dalam jabatan khalifah itu. Ia telah bejuang selama bertahun-tahun untuk melaksanakan pengangkatan Yazid, disamping itu rakyatpun telah bersedia pula untuk menerima sistem warisan itu.

(4) Marwan bin al-Hakam (64-65 H/ 683-685 M)

Marwan bin Hakam memegang peranan penting dalam perang Jamal. Setelah perang Jamal selesai, Marwan mengundurkan diri dari kancah politik kemudian ia memberikan baiah dan sumpah setianya atas pengangkatan Ali menjadi Khalifah.

Muawiyah menganggap hal itu dilakukan Marwan hanyalah karena suatu sebab yang memaksa, yaitu untuk menjaga kemaslahatan Bani Umayyah yang berada di Mekah dan Madinah.

Marwan adalah seorang yang bijaksana, berpikiran tajam, fasih berbicara, dan berani. Ia ahli dalam pembacaan al-Quran. Dan banyak meriwayatkan hadis-hadis dari para sahabat Rasulullah yang terkemuka, terutama dari Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.

Ia juga telah berjasa dalam menertibkan alat-alat takaran dan timbangan. Ia meninggal pada bulan Ramadhan tahun 63 H, setelah ia membujuk lebih dahulu dua orang puteranya untuk menggantikannya berturut-turut, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz. Dengan demikian telah mengabaikan putusan Muktamar al Jabiyah.

Isinya adalah diputuskan adanya keharusan untuk mendirikan kekhalifahan, dalam pertemuan itu juga telah diputuskan juga sebuah prinsip yang sangat penting bahwa pemilihan seorang khalifah hanya terlaksana melalui prosedur pemilihan dari umat, aspirasi umat atau wakil umat yang aspiratif dan mempresentasikan kedaulatan umat, seperti para sahabat yang berkumpul pada hari Saqifah.

(5) Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/ 685-705 M)

Abdul Malik ini dipandang sebagai pendiri kedua bagi Daulah Umayyah. Ketika ia diangkat menjadi Khalifah, alam islami sedang berada dalam keadaan terpecah-belah. Bin Zubair di Hijjaz/Mekah memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. Kaum Syiah mengadakan pemberontakan. Dari kaum Khawarij membangkang pula.

Maka Al Mukhtar bin Ubaids as Tsaqafi (67 H/ 622-687 M)  mengerahkan sejumlah besar tentara untuk mengganas, dan dia sendiri tidak mengerti apa sebabnya dia mengganas.

Namun, semua kekacauan ini mampu dilewati oleh Abdul Malik. Ia berhasil mengembalikan seluruh wilayah taat kepada kekuasaannya. Begitu pula, ia dapat menumpas segala pembangkangan dan pemberontakan. Sebab itulah ia berhak disebut sebagai “pendiri yang kedua” bagi Dinasti Umayyah.

Khalifah Abdul Malik memerintah paling lama, yakni 21 tahun ditopang oleh para pembantunya yang juga termasuk orang kuat dan menjadi kepercayaannya, seperti al-Hajjaj bin Yusuf yang gagah berani di medan perang dan Abdul Aziz, saudaranya yang dipercaya memegang jebatan sebagai Gubernur Mesir. Adapun karakter Abdul Malik, antara lain ialah percaya diri, dan diantara orang-orang yang semasa dengan dia tak ada yang dapat menandinginya.

(6) Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H/ 705-715 M)

Khalifah al Walid dilahirkan pada tahun 50 H. Tumbuh dengan semua kemewahan. Ia mempelajari Kebudayaan Islam. Tetapi pendidikannya tentang bahasa Arab sangat lemah, sehingga ia berbicara kurang fasih. Khalifah al Walid bin Abdul Malik memerintah sepuluh tahun lamanya.

Pada masa pemerintahannya kekayaan dan kemakmuran melimpah ruah. Kekuasaan Islam melangkah ke Spanyol dibawah pimpinan pasukan Tariq bin Ziyad ketika Afrika Utara dipegang oleh Gubernur Musa bin Nusair.

Karena kekayaan melimpah ruah ia sempurnakan pembangunan gedung-gedung, pabrik-pabrik, dan jalan-jalan yang dilengkapi dengan sumur untuk para kafilah dagang yang berlalu lalang di jalur tersebut. Ia membangun masjid al-Amawwi yang terkenal hingga masa kini di Damascus.

Disamping itu ia menggunakan kekayaan negerinya untuk menyantuni para yatim piatu, diberinya mereka jaminan hidup, dan disediakannya para pendidik untuk mereka.

Begitu pula untuk orang-orang yang cacat, disediakannya pelayan- pelayan khusus,  untuk orang-orang buta, disediakannya pula para penuntun. Orang-orang itu semua diberinya gaji yang teratur.  Khalifah itu wafat tahun 96 H/715 M, dan digantikan oleh adiknya, Sulaiman sebagaimana wasiat ayahnya.

(7) Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/ 715-717 M)

Sulaiman bin Abdul Malik dilahiran pada tahun 54 H/674 M. Ia dilantik menjadi Khalifah setelah saudaranya, Al Walid meninggal dunia. Sebelum wafatnya, Al Walid pernah bermaksud untuk memecat Sulaiman dari kedudukannya sebagai putera mahkota, karena ia ingin mengangkat puteranya sendiri yang bernama Abdul Aziz.

Khalifah Sulaiman tidak sebijaksana kakaknya, kurang bijaksana, suka harta sebagaimana diperlihatkan ketika ia menginginkan harta rampasan perang (ganimah) dari Spanyol yang dibawa oleh Musa bin Nusair.

Ia menginginkan harta itu jatuh ke tangannya, bukan ke tangan kakaknya, al Walid yang saat itu masih hidup walau dalam keadaan sakit.

Musa bin Nusair diperintahkan oleh Sulaiman agar memperlambat datangnya ke Damascus dengan harapan harta yang dibawanya itu jatuh ke tangannya. Namun Musa enggan melaksanakan perintah Sulaiman tersebut, yang mengakibatkan ia disiksa dan dipecat dari jabatannya ketika Sulaiman naik menjadi Khalifah menggantikan al-Walid.

(8) Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/ 717-720 M)

Khalifah ketiga yang besar ialah Umar bin Abdul Aziz, meskipun masa pemerintahannya sangat pendek, namun Umar merupakan lembaran putih Bani Umayyah dan sebuah periode yang berdiri sendiri, mempunyai karakter  yang tidak terpengaruh oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan Daulah Umayyah yang banyak disesali.

Dia merupakan personifikasi seorang Khalifah yang takwa dan bersih, suatu sikap yang jarang sekali ditemukan pada sebagian besar pemimpin Bani Umayyah

(9) Yazid bin Abdul Malik Bin Marwan (101-105 H/ 720-724 M)

Ia tumbuh berkembang dalam kemewahan dan manja, membuatnya tidak merasakan nilai dan harga kekuasaan. Sebab, ia mendapatkan kekuasaan dan sama sekali tidak merasakan jerih payahnya. Ia menjadi khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz, sesuai dengan pesan saudaranya yang bernama Sulaiman bin Abdul Malik.

Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa pemerintahan Yazid ini, antara lain ialah pemberontakan yang dilakukan oleh Yazid bin Muhallab.

Khalifah Umar mencurahkan tenaga yang tidak sedikit untuk melenyapkan segala kezaliman dan memelihara Baitul mal milik kaum muslimin, tetapi Yazid segera meruntuhkan usaha Khalifah yang terdahulu dengan cara mengembalikan tanah- tanah dan hibah-hibah itu kepada para pemegangnya semula. Yazid meninggal pada tahun 105 H/723 M dan memerintah selama 4 tahun.

(10) Hisham bin Abdul Malik (105-125 H/ 724-743 M)

Masa pemerintahan Hisyam cukup lama, yaitu kira-kira dua puluh tahun. Hisyam termasuk Khalifah-khalifah yang terbaik. Terkenal sebagai seorang yang penyantun dan bersih pribadinya. Ia telah mengatur kantor-kantor pemerintahan dan membetulkan perhitungan keuangan Negara dengan amat teliti.

Musuh-musuh Bani Umayyah pun mengakui kebagusan pembukuan di masa Hisyam. Hisyam dikenal sebagai seorang Khalifah yang penyantun dan sangat taqwa. Hisyam bin Abdul Malik meninggal pada tahun 125 H/742 M. pemerintahannya berlangsung selama dua puluh tahun. Pada masa pemerintahannya negara mengalami kemerosotan dan melemah.

(11) Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H/ 743-744 M)

Al Walid dilahirkan pada tahun 90 H. Ketika ayahnya diangkat menjadi Khalifah, al-Walid berusia sebelas tahun, dan ketika ayahnya menderita sakit yang terakhir, al-Walid sudah berumur lima belas tahun.

Diriwayatkan bahwa, pada waktu kematian menghampiri ayahnya, al-Walid maju ke mimbar kemudian mengumumkan kematian ayahnya dan kemudian al-Walid mendeklarasikan dia sebagai khalifah, kemudian dia di bai’at. Al-Walid moralnya tidak begitu tinggi, dia mempunyai sifat kegila-gilaan, yaitu sifat yang diwarisinya dari ayahnya.

Faktor-faktor itulah nampaknya yang telah mendorong pemuda itu untuk menguburkan rasa pilu dan sedihnya kedalam gelas minuman keras, dan hidup dalam pelukan dayang-dayang dan hamba-hamba sahaya perempuan, bergelimang dosa dan maksiat.

(12) Yazid an-Naqis bin al-Walid (126 H/ 744 M)

Yazid tidak dapat menikmati kedudukannya sebagai Khalifah, yang telah dicapainya dengan usaha baik secara rahasia ataupun terang-terangan. Masa pemerintahannya berlangsung lebih kurang enam bulan. Dan masa yang pendek itu penuh dengan kesukaran-kesukaran. Yazid meninggal dunia setelah memangku jabatan Khalifah dalam masa beberapa bulan itu. Ia memberikan wasiat bagi saudaranya, Ibrahim untuk menjadi Khalifah sesudahnya.

(13) Ibrahim bin al-Walid Bin Abdul Malik (126 H/ 744 M)

Ibrahim bin al-Walid hanya memerintah dalam waktu singkat pada tahun 126 H sebelum ia turun tahta, dan bersembunyi dari ketakutan terhadap lawan- lawan politiknya. Karena kondisi pemerintahan saat itu mengalami goncangan, naiknya Ibrahim bin Walid sebagai Khalifah tidak disetujui oleh sebagian kalangan keluarga Bani Umayyah. Bahkan sebagian ahli sejarah menyebutkan di kalangan sebagian Bani Umayyah ada yang menganggapnya hanya sebagai gubernur, bukan khalifah.

(14) Marwan bin Muhammad (127-132 H/ 744-750 M)

Ia dibaiat sebagai khalifah setelah ia memasuki Damaskus dan setelah Ibrahim bin Walid melarikan diri dari Damaskus pada tahun 127 H/744 M. Marwan adalah orang besar, berani dan memiliki kebijaksanaan serta kelicinan.

Ia mempunyai pengalaman yang luas dalam bidang pertempuran. Ia berhasil membuat rencana untuk penyusunan kembali kekuatan-kekuatan Islam. Ia meninggalkan sistim pembagian balatentara kepada beberapa kesatuan, yang masing-masingnya terdiri dari orang-orang yang berasal dari satu kabilah. Dan sebagai ganti dari sistim tersebut ia menyusun suatu balatentara yang teratur, dimana masing-masing anggotanya mendapat gaji tertentu.

Demikianlah penjelesan mengenai para khalifah yang pernah memerintah Islam melalui Dinasti Muawiyah dari penjelasan di atas dapatlah dimengerti bahwa "Khalifah Muawiyah merupakan khalifah pertama dari 14 khalifah Bani Umayyah. Dan empat orang Khalifah diantara mereka memegang kekuasaan selama 70 tahun. Mereka itu ialah: Muawiyah, Abdul Malik, Al-Walid dan Hisyam. Adapun yang sepuluh orang lainnya hanya memerintah selama 21 tahun".


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search