Muawiyah Pendiri Dinasti Umayyah

- Januari 06, 2019
MUAWIYAH-Tokoh ini merupakan salah satu Sahabat Nabi, beliau merupakan salah satu sahabat yang digolongkan sebagai sahabat yang masuk Islam belakangan setelah penaklukan Mekah, meskipun demikian tokoh ini kiprahnya besar dalam sejarah dan Perkembangan Islam, sebab ditangan Beliau Islam semakin menyebar kepenjuru dunia.

Tokoh Muawiyah juga adalah tokoh yang merubah sistem pemerintahan dari yang semula Khalifah diangkat berdasarkan kesepakatan menjadi sistem disasti ala Kerajaan yang menggunakan sistem darah atau keturunan, oleh sebab itulah kelak kehalifahan yang didirikan oleh Muawiyah ini dikenal sebagai Dinasti Muawiyah.

Biografi Muawiyah

Muawiyah dilahirkan kira-kira 15 tahun sebelum Hijrah, dan masuk Islam pada hari penaklukan kota Mekah bersama-sama penduduk kota Mekah lainnya. Waktu itu ia berusia 23 tahun.

Rasulullah ingin sekali mendekatkan orang-orang yang baru masuk Islam diantara pemimpin-pemimpin keluarga ternama kepadanya, agar perhatian mereka kepada Islam itu dapat terjamin, dan agar ajaran-ajaran Islam itu benar-benar tertanam dalam hati mereka. Sebab itu Rasulullah berusaha supaya Muawiyah menjadi lebih akrab dengan beliau. Muawiyah lalu diangkat menjadi salah satu anggota Penulis wahyu.
Ilustrasi
Muawiyah juga sebai sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, baik yang langsung dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat lain diantaranya dari saudara perempuannya, Habibah binti Abi Sufyan, isteri Rasulullah, dan dari Abdullah bin Abbas, Said bin Musayyab, dan lain-lain.

Inilah yang menyebabkan Khalifah Umar suka kepadanya. Selanjutnya pada masa Khalifah Usman, semua daerah Syam itu diserahkan kepada Muawiyah. Dia sendiri yang mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat pemerintahannya. Dengan demikian, Muawiyah telah berhasil memegang jabatan Gubernur selama 20 tahun, dan kelak juga selepas peristiwa terbunuhnya Sahabat Ali ia menjadi Khalifah selama 20 tahun pula.

Latar Belakang Muawiyah Menjadi Khalifah 

Setelah Umar meninggal Muawiyah beserta saudara-sadaranya menyokong atau mendukung pencalonan Utsman sebagai khalifah dalam musyawarah yang dilakukan oleh enam orang sahabat.
Sejak saat itulah Umayyah mulai meletakkan dasar-dasar untuk menegakkan Khilafahan Umayyah.

Pada masa Utsman bin Affan inilah Muawiyah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk memperkuat dirinya, dan menjadikan daerah Syam sebagai pusat kekuasaannya.

Di masa khalifah Utsman bin Affan yang merupakan salah seorang anggota klan Bani Umayyah, Muawiyah dikukuhkan menjadi Gubernur  di Syiria, sehingga tercapailah kekuasaan Umayyah atas orang-orang Quraisy di zaman Islam, sebagaimana pernah mereka alami pada zaman Jahiliah.

Ketika khalifah Utsman terbunuh, Muawiyah masih tetap memegang kekuasaan disana. Hal ini memungkinkan baginya untuk dapat berjuang terus mempertahankan kedudukannya di Syiria menentang Khalifah Ali Bin Abu Thalib.

Pengangkatan Umayyah menjadi Khalifah dilatarbelakangi oleh peristiwa tahkim pada perang Siffin. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, Muawiyah bin Abi Sufyan beserta sejumlah sahabat lainnya angkat bicara di hadapan manusia dan mendorong mereka agar menuntut darah Utsman dari orang-orang yang telah membunuhnya.

Tragedi kematian Utsman bin Affan, selanjutnya dijadikan dalih untuk mewujudkan “ambisinya”, Muawiyah dan pengikut menuntut kepada khalifah Ali, pengganti Utsman agar dapat menyerahkan para pembunuh Utsman kepada mereka.

Karena tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka pihak Muawiyah menjadikannya sebagai alasan untuk tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan memisahkan diri dari pemerintahan pusat.

Langkah pertama yang diambil oleh khalifah Ali bin Abi Thalib dalam menghadapi pembangkangan Muawiyah adalah mengutus Abdullah al-Bajali kepada Muawiyah agar bersedia mengakui dan membalasnya seperti yang dilakukan oleh gubernur-gubernur dan kaum muslimin lainnya dan tidak memisahkan diri dari pemerintahan pusat.

Muawiyah tidak segera menjawab ajakan tersebut dengan maksud untuk memberi kesan tidak baik. Untuk menentukan sikap dalam menghadapi himbauan khalifah tersebut Muawiyah bermusyawarah dengan Amru bin Ash, hasilnya menolak ajakan damai, dan memilih mengangkat senjata memerangi pemerintah pusat.

Karena kebuntuan tersebut pecahlah pertempuran antara kedua belah pihak. Setiap hari Ali bin Abi Thalib mengirim seorang pemimpin pasukan untuk maju bertempur. Begitu juga dengan Muawiyah. Perang saudara ini terjadi pada 1 Shafar tahun 37 H/ 26-28 Juli 657 M.

Perang saaudara pertama dalam sejarah peradaban Islam itu terjadi pada zaman fitnah besar. Peperangan ini berlangsung imbang sehingga kedua belah pihak setuju untuk berunding dengan ditengahi seorang juru runding.

Kemudian juru runding terus bolak balik menemui Ali dan Muawiyah, sementara kedua belah pihak menahan diri dari pertempuran. Pertempuran dan perundingan membuat posisi Ali bin Abi Thalib melemah tetapi tidak membuat ketegangan yang melanda kekhalifahan mereda. Perang saudara antara kubu Muawiyah dan Ali akhirnya mereda.

Kedua belah pihak akhirnya bertemu di meja perundingan melalui Tahkim, yakni penunjukan dua pihak yang berselisih terhadap seseorang yang adil dengan tujuan agar memberi keputusan terhadap dua pihak tersebut.

Peristiwa tahkim ini dimenangkan oleh pihak Muawiyyah, dengan mengajukan usulan kepada pihak Ali untuk kembali kepada hukum Allah. Dalam peristiwa tahkim, Ali terpedaya oleh taktik dan siasat Muawiyyah yang pada akhirnya ia mengalami kekalahan secara politis.

Sementara itu, Muawiyyah mendapat kesempatan untuk mengangkat dirinya sebagai khalifah sekaligus sebagai seorang raja.

Muawiyyah mendapatkan kursi kekhalifahan pada tahun 41 H setelah Hasan bin Ali berdamai dengannya. Karena pasca meninggalnya Ali, sebagian umat Islam membaiat Hasan sebagai penerus kepemimpinan umat Islam, namun ia menyadari kelemahannya sehingga ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyyah. Sehingga tahun itu dinamakan amul jamaah (tahun persatuan). Umur sistem khilafah genap tiga puluh tahun ketika Hasan bin Ali dibaiat menjadi khalifah. Beliau melepaskan kekhalifahan kepada Muawiyah pada bulan Rabiul Awal tahun 41 H.

Begitulah kisah ringkasan mengenai bagaimana Muawiyah kemudian menjadi soerang Khalifah sekaligus juga sebagai Raja, kelak dinsati yang Muawiyah bangun dari pertentangan sesame kaum muslimin ini dikenal dengan nama Dinasti Umayah.

Nama Umayyahsendiri pada mulanya  berasal dari nama Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy di zaman Jahiliah. Atau nenek moyah dari Umayah bin Abi Sofyan yang sedang dibahas dalam artikel ini.

Keluarga Bani Umayah

Naiknya Muawiyah sebagai khalifah menandai fase baru dalam babakan Sejarah Peradaban Islam yang lantas disebut sebagai era kekhalifahan Umayyah, sistem suksesi (penggantian pemimpin) ini kenyataannya telah berubah menjadi pemerintahan dinastik, yang secara normatif tidak dikenal dalam ajaran Islam.

Oleh karena itu Muawiyah merupakan orang yang mengawali tradisi pengangkatan seorang putra mahkota dalam sistem kehalifahan Islam. Waktu zaman ini Muawiyah mengangkat anaknya Yazid, sebagai pewaris kekuasaannya.

Keluarga Bani Umayyah itu terdiri atas dua cabang, merekalah yang memegang jabatan khalifah itu. Cabang pertama ialah keluarga Harb bin Umayyah dan cabang kedua adalah keluarga Abdul Ash bin Umayyah.

Kebanyakan khalifah-khalifah Bani Umayyah adalah berasal dari cabang yang kedua itu. Adapun Khalifah-khalifah yang berasal dari cabang pertama hanyalah Muawiyah, puteranya Yazid, dan cucunya Muawiyah II. Yazid hampir tidak dapat menikmati jabatan Khalifah itu, karena kesulitan-kesulitan yang timbul pada masanya.

Adapun Muawiyah II hanyalah beberapa hari saja menduduki singgasananya. Demikianlah, walaupun Muawiyah telah berjuang dalam waktu yang begitu panjang untuk mendapatkan jabatan Khalifah, namun setelah ia meninggal, jabatan tersebut tiadalah tetap pada anak cucunya.

Muawiyah telah berusaha dengan sepenuh tenaga agar puteranya Yazid diangkat menjadi Khalifah sesudah wafatnya, tetapi kesulitan-kesulitan yang besar telah menunggu puteranya itu. Maka Muawiyah pada hakekatnya bukanlah mendudukkan puteranya itu di atas singgasana kekuasaan, tapi hanyalah di atas sebuah roda yang terus menerus berputar, sampai dia jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas yang penghabisan.

Demikianlah pemaparan mengenai Umayah seroang tokoh Islam dari kalangan sahabat Nabi yang berhasil menancapkan kekuasaannya sebagai Khalifah dengan cara melakukan pemberontakan dan taktik politik. Kerajaan yang ia bangun kelak bertahan hingga 90 tahun lamanya.

Orang Tua, Istri dan Nak-Anak Muawiyah

Orang Tua Muawiyah adalah Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah, keduanya merupakan pembenci Nabi Sementara Istr-Istri dari Muawiyah adalah sebagai berikut:

  1. Maisun binti Bahdal al-Kalbiyah 
  2. Fakhitah binti Qarazhah bin Abd Amr bin Naufal bin Abdi Manaf
  3. Kanud binti Qarazhah 
  4. Na'ilah binti Imarah al-Kalbiyah 

Sementara anak-anaknya adalah sebagai berikut:

  1. Yazid bin Muawiyah 
  2. Abdurrahman bin Muawiyah 
  3. Abdullah bin Muawiyah 
  4. Ramlah binti Muawiyah 
  5. Hindun binti Muawiyah 
  6. Aisyah binti Muawiyah
  7. Atikah binti Muawiyah
  8. Shafiyyah binti Muawiyah

Demikianlah penjelesan mengani Muawiyah Bin Abu Sofyan, seorang sahabat Nabi pendiri Dinasti Muawiyah. Makam dari tokoh ini tidak dapat dijumpai karena sewaktu penaklukan Bani Umayyah oleh Bani Abasiyyah makam Para Khalifah dinasti ini dihancurkan oleh tentara Abasyiah.

Daftar Bacaan
[1]Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 2 terj, Mukhtar Yahya (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003)
[2]Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)
[3]Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam I, 27.
[4]Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, 34.
[5]Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, 537.
[6]Ahmad Amin, Fajr al-Islam, (Kairo: Maktabah al-Nahdah, 1965)
[7]Al-Imam Jalal uddin, Abd al-Raman Abi Bakar al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, editor Wail Mamud [8]al-Sharqi. (Beirut: Dar al-kutub al-Ilmiyah, 2008)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search