Sejarah Kerajaan Sumedang Larang: Dari Masa Prabu Tajimalela hingga Rangga Gempol I

Sejarah Kerajaan Sumedang Larang
Sejarah Kerajaan Sumedang Larang dimulai ketika Prabu Tajimalela memproklamirkan diri sebagai penguasa yang membawahi bekas Kerajaan Tembong Agung.

Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Tajimalela pada Tahun 721 Masehi, pertama kali didirikan Kerajaan Sumedang Larang beribukota di Citembong Girang, saat ini masuk wilayah Desa Cikeusi Kec Darmaraja Kab Sumedang.

Prabu Tajimalela memerintah Sumedang Larang dari Tahun 721 hingga 778 M, dimasa pemerintahannya meskipun sebagai sebuah kerajaan, kedudukan Sumedang Larang hanyalah sebagai bawahan Kerajaan Sunda  yang harus mengirimkan upeti pada kerajaan tersebut.

Asal-Usul Nama Sumedang Larang

Asal-usul kata Sumedang Larang, diyakini diciptakan langsung oleh Prabu Tajimalela, kata Sumedang diyakini berasal dari gabungan dua kata yaitu kata Ingsun dan Madangan (Medal), yang berati “aku lahir”. 

Dinamakan demikian kerena kerajaan tersebut muncul bak kelahiran kembali seorang bayi selepas Kerajaan Tembong Agung runtuh. 

Sementara kata Larang adalah tambahan dalam bahasa Sunda yang biasa digunakan untuk menamai suatu negeri yang didalamnya mempunyai larangan atau hukum yang mengikat didalamnya (Pemerintahan). Makna lain dari kata Larang selain itu adalah “sesuatu yang tiada tandingnya”

Pendapat lain menyatakan bahwa Asal-usul kata Sumedang berasala dari kata "Su" yang mempunyai maksud "indah/baik" dan "medang" yang berarti pohon medang (Pohon Huru) dinamakan demikian karena dahulu di Sumedang banyak pohon medang yang bentuknya indah/baik.

Sumedang Larang Menjadi Bawahan Pajajaran

Jawa Barat pada abad ke 8-15 Masehi awal berdiri dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Sunda yang wilayahnya membentang dari Banten hingga Sumedang dan Kerajaan Galuh yang wilayahnya membentang dari Cilacap hingga Majalengka dan sebagai wilayah Kab Sumedang sekarang.

Kedua kerajaan tersebut pada tahun 1482 dilebur menjadi satu kerajaan dengan nama Kerajaan Sunda-Galuh, atau juga dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. 

Pada masa itu Sumedang yang sebelumnya menjadi bawahan Kerajaan Sunda turut masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Sumedang Larang Pewaris Pajajaran

Pada Tahun 1529 Ratu Pucuk Umun atau Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata atau Nyimas Setyasih selaku Raja Wanita Sumedang berhasil di Islamkan oleh Cirebon melalui jalan kekerabatan. 

Nyi Mas Ratu Dewi Inten dinikahi oleh Pangeran Santri yang merupakan anak dari Pangeran Panjunan, salah satu pembesar dan pendakwah Islam dari Kesultanan Cirebon.

Beralihnya Sumedang Larang dari yang semula bercorak Hindu-Budha ke Islam menjadikan wilayah ini tidak masuk dalam pusaran pertempuran antara persekutuan Cirebon-Demak-Banten melawan persekutuan Pajajaran-Portugis. Pada masa ini Sumadang menjelma menjadi Kerajaan bawahan Pajajaran yang bersikap netral.

Pada tahun 1579 Kerajaan Pajajaran runtuh sebabnya karena serangan Kesultanan Banten, meskipun demikian sebelum keruntuhannya, Prabu Surya Kencana (1567-1579) selaku Raja terakhir Kerajaan Pajajaran mengutus  4 orang panglima perangnya untuk menyerahkan mahkota emas Raja Pajajaran pada Sumedang, kerajaan tersebut didaulat sebagai pelanjut Kerajaan Pajajaran oleh Surya Kencana.

Ketika mendapatkan mandat sebagai Kerajaan penerus Pajajaran, Sumedang sedang diprintah oleh Prabu Gesun Ulun (Pangeran Angka Wijaya) putra Pangeran Santri dengan Nyimas Setyasih yang naik tahta pada 1578.

Konflik dengan Cirebon

Pada tahun 1585 atas hasutan 4 mantan Panglima Kerajaan Pajajaran, Prabu Geusun Ulun membawa lari Ratu Harisbaya, Istri Panembahan Ratu I (1568-1649) Sultan Cirebon ke dua dari Istana Kesultanan Cirebon.

Jaya Perkasa salah satu mantan Panglima Perang Kerajaan Pajajaran sengaja memacing peperangan dengan Cirebon memanfaatkan cinta buta Geusun ulun pada Ratu Harisbaya yang sebetulnya mantan kekasihnya ketika menuntut ilmu di Pajang.

Jaya Perkasa menghendaki kebangkitan Pajajaran dengan cara memantik konflik perang dengan Cirebon, harapannya Cirebon dapat ditakulkan oleh Sumedang. 

Kala ala itu Pajang sekutu terkuat Cirebon sedang dirundung kekacuan. sebab sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1586/1887  Kesultanan Pajang runtuh digantikan oleh Kesultanan Mataram.

Prediksi Jaya Perkasa yang menganggap remeh kekuatan Cirebon rupanya harus dibayar mahal Sumedang, peperangan yang terjadi antara Cirebon Vs Sumedang selama dua tahun (1585-1586) sebagai akibat dari dibawa larinya Ratu Harisbaya membawa dampak kerugian yang besar bagi Sumedang.

Selain kalah, dalam perang itu juga Sumedang terpaksa memindahkan pusat kerajaan karena serangan Cirebon, Sumedang juga harus rela menyerahkan wilayah Sindangkasih (Majalengka) kepada Cirebon sebagai tebusan talak dari dibawa larinya Ratu Harisbaya. 

Konflik Sumedang-Cirebon diakhiri dengan perjanjian damai di kedua belah pihak yang sangat merugikan Sumedang.

Lebih dalam mengenai konflik Sumedeng Vs Cirebon baca dalam : Ratu Harisbaya, Si Cantik Pemantik Konflik Cirebon Vs Sumedang

Sumedang Larang Menjadi Bawahan Mataram

Konflik Sumedang  Vs Cirebon yang meletus pada 1585-1586 membuat Sumedang Larang terkucil, sebab disisi lain, selain bermusuhan dengan Cirebon, Sumedang juga dibawah tekanan Kesultanan Banten yang bernafsu menaklukan Sumedang menjadi bagian dari kekuasaan kerajaannya.

Pada tahun 1613 hingga 1645 Kesultanan Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung tampil sebagai kerajaan kuat  di Pulau Jawa, keadaan tersebut dimanfaatkan oleh Sumedang sebagai cara melindungi kerajaannya dari upaya penaklukan total oleh Cirebon dan Banten.

Pada tahun 1620 Prabu Suradiwangsa yang menggantikan kedudukan ayahnya Prabu Geusun Ulun bertolak ke Mataram menemui Sultan Agung. 

Disana Prabu Suradiwangsa menyatakan dengan sukarela menjadi bagian dari Kesultanan Mataram. 

Peristiwa tersebut disambut baik oleh Sultan Mataram, hingga daerah Sumedang Larang kemudian ia namai Priangan. 

Pada masa menjadi bawahan Mataram Sumedang diubah kedudukannya menjadi Kadipaten dengan Adipati pertamanya Suradiwangsa dengan gelar Rangga Gempol I.

Sumedang Larang Selepas Runtuhnya Mataram

Runtuhnya Kesultanan Mataram akibat pemberontakan yang ditandai dengan mangkatnya Amangkurat I dalam pelarian (1677), membuat wilayah kekuasaan Mataram berdiri tanpa perlindungan, pada saat semacam itulah wilayah-wilayah tersebut termasuk Sumedang menjadi wilayah yang merdeka, sekaligus wilayah yang rentan dikuasai kekuatan besar. 

Pada tahun 1706 Sumedang secara resmi masuk kedalam wilayah kekuasan VOC Belanda sebelum akhirnya beturut-turut masuk menjadi bagian Pemernitah Kolonial Belanda dan Jepang hingga akhirnya bergabung menjadi bagaian Negara Republik Indonesia sampai sekarang.

Para Raja dan Penguasa Sumdang Larang

Berikut ini adalah raja dan penguasa Sumedang Larang ditinjau dari ststusnya:
  1. Prabu Taji Malela (Prabu Agung Resi Cakrabuana ) (Bahwan Kerajaan Sunda)
  2. Prabu Gajah Agung (Bahwan Kerajaan Sunda)
  3. Sunan Guling (Bahwan Kerajaan Sunda)
  4. Sunan Tuakan (Bahwan Kerajaan Sunda)
  5. Nyi Mas Ratu Patuakan (Bahwan Kerajaan Sunda/Pajajaran)
  6. Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata / Nyimas Setyasih (Bahwan Kerajaan Pajajaran)
  7. Pangeran Santri (Bahwan Kesultanan Cirebon)
  8. Prabu Geusan Ulun (Pangeran Angkawijaya) (Berdiri Merdeka)
  9. Prabu Suriadiwangsa (Raga Gempol I) (Bawahan Kesultanan Mataram)
  10. Pangeran Rangga Gede (Bawahan Kesultanan Mataram)
  11. Pangeran Rangga Gempol II (Bawahan Kesultanan Mataram)
  12. Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III (Bawahan Kesultanan Mataram-VOC Belanda)
  13. Penguasa selanjutnya menjadi bawahan Belanda, Jepang dan NKRI
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pajajaran: Dari Berdiri, Para Raja hingga Runtuh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel