Sejarah Kerajaan Pajajaran: dari Berdiri, Para Raja hingga Runtuh

Sejarah Kerajaan Pajajaran: dari Pendirian, Para Raja hingga Runtuh
Sejarah Kerajaan Pajajaran dimulai ketika ditabalkannya Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) sebagai Raja seluruh tanah Sunda pada tahun 1482 Masehi. Itulah titik awal dimulainya sejarah Kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Pajajaran mempunyai nama resmi Kerajaan Sunda-Galuh, dinamakan demikian karena kerajaan tersebut merupakan gabungan dari dua kerajaan di Jawa Barat, yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.  Kerajaan Pajajaran mampu tegak berdiri selama 97 tahun,  yaitu dimulai dari tahun 1482 hingga tahun 1579. Selama 97 tahun berdiri Kerajaan Pajajaran diprintah oleh 6 orang Raja.

Sebelum tahun 1482, Kerajaan Galuh dan Sunda berdaulat dengan wilayah dan rajanya masing-masing. Di Kerajaan Galuh yang memerintah adalah Prabu Dewa Niskala, kerajaan ini beribukota di Kawali (Ciamis), sementara Kerajaan Sunda diprintah oleh Prabu Suksuktungal, kerajaan ini beribukota di Pakwan Pajajar (Bogor).

Berdirinya Kerajaan Pajajaran 

Pada tahun 1475 hingga 1480, tanah Sunda kedatangan para pengungsi dari Majapahit, mereka meminta perlindungan kepada Kerajaan Galuh. Kala itu Majapahit sedang diguncang peperangan melawan Demak.

Salah satu yang ikut rombongan peminta suaka adalah Raden Babirin yang merupakan anak dari Prabu Kertabhumi. Karena kasihan Prabu Dewa Niskalamenerima para peminta suaka, bahkan Raden Babirin dinikahkan dengan salah satu putrinya.

Oleh Prabu Suksuktungal, perbuatan Galuh menerima para peminta suaka dari Majapahit masih dapat ia maklumi, akan tetapi menikahkan Putri Sunda dengan Pangeran Majapahit membuatnya marah, sebab hal tersebut merupakan pantangan dari leluhur Sunda sejak peristiwa perang bubat.

Prabu Suksuktungal memutuskan menantang perang terbuka, tantangan ini pada mulanya ditanggapi oleh Galuh, hampir-hampir saja terjadi perang diantara kedua kerajaan jika saja tidak di cegah oleh para Pendeta dan Pembesar dari kedua kerajaan.

Berdasarkan keputusan para Tetua Adat, Pendeta dan para pembesar di kedua Kerajaan, akhirnya perang digagalkan, namun demi kebaikan bersama Prabu Dewa Niskala dan Prabu Suksuktungal diturunkan dari tahta. Sementara jalan keluarnya, kedua kerajaan disatukan kembali sebagaimana pada zaman Prabu Westu Kencana (Meninggal 1475 M).

Kerajaan Galuh dan Sunda disatukan pada tahun 1482, yang ditabalkan menjadi Raja adalah Sri Baduga Maharaja, merupakan anak dari Prabu Dewa Niskala, sebelum dilantik menjadi penguasa dengan dua wilayah yang disatukan, Sri Baduga Maharaja dikawinkan dengan Putri Prabu Suksuktungal yang bernama “Mayang Sunda”. Selanjutnya karena yang dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan adalah Pakwan Pajajar, maka kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran.

Raja-Raja Kerajaan Pajajaran

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa selama 97 tahun berdiri, Pajajaran diprintah oleh 6 orang Raja, adapun raja-raja yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Sri Baduga Maha Raja/Prabu Siliwangi (1482-1521)

Sri Baduga Maha Raja adalah raja pertama sekaligus juga sebagai raja yang membawa kejayaan Pajajaran. 

Pada masa pemerintahannya, Sri Baduga Maha Raja berhasil membuat benteng yang mengelilingi keraton sebagai pertahanan kerajaan, juga membuat jalan-jalan penghubung antara satu wilayah dan wilayah lainnya serta juga memperkuat armada tempur dan menjalin kerja sama dengan negara-negara asing, salah satunya Portugis.  

Dalam upaya menjalin kerjasama dengan negara asing, Sri Baduga melibatkan putranya Pangeran Surawisesa sebagai duta Kerajaan. Namun pada saat yang bersamaan, Putra Prabu Siliwangi yang lain (Putra Mahkota) yang bernama Pangeran Walangsungsang dan keponakannya Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) mendirikan Kesultanan Cirebon yang merdeka dari Pajajaran.

2. Prabu Surawisesa (1521-1535)

Sepeninggal Sri Baduga Maha Raja (1521), yang melanjutkan tahta adalah Prabu Surawisesa, hal ini dikarenakan Pangeran Walangsungsang dianggap batal menjadi Putra Mahkota. 

Selama 14 tahun memerintah Kerajaan Pajajaran, Surawisesa terlibat peperangan dengan Cirebon, kerajaan yang didirikan kakak tirinya. Cirebon kala itu bersekutu dengan Demak sementara Pajajaran bersekutu dengan Portugis.

Selama memerintah, Surawisesa kehilangan Galuh, Banten dan Sunda Kalapa, karena berhasil direbut oleh gabungan pasukan Cirebon dan Demak, sementara Portugis yang sedianya membantu Pajajaran telah dihancur leburkan oleh persekutan Cirebon dan Demak sebelum benar-benar dapat membantu Kerajaan Pajajaran.

Perang Cirebon-Pajajaran terjadi selama 15 kali pertempuran, diakhiri dengan perjanjian damai yang disodorkan oleh Surawisesa, Perjanjian tersebut diterima oleh Pangeran Walangsungsang dan Syarif Hidayatullah selaku pembesar dan Sultan Cirebon. 

Perjanjian damai diantara dua kerajaan berdampak pada pengaturan ulang wilayah kekuasaan masing-masing kerajaan. Wilayah-wilayah yang sudah direbut Cirebon selama perang 15 tahun menjadi hak milik Cirebon dan sekutunya.

3. Ratu Dewata (1535-1543) 

Sepeninggal Prabu Surawisesa, tahta dilanjutkan oleh Ratu Dewata, raja ini kurang cakap dalam bidang politik, ia cenderung merasa aman dari gangguan luar karena merasa masih terikat perjanjian dengan Cirebon. 

Ratu Dewata dikenal sebagai raja yang lebih banyak beraktifitas selayaknya seorang pendeta, ia gemar mempelajari ajaran-ajaran agama dan mengabaikan politik. 

Pada masa Ratu Dewata kekuatan tempur Pajajaran yang dibangun sejak zaman Prabu Siliwangi dan dipergunakan pada masa Surawisesa tidak difungsikan secara baik sehingga kualitas kekuatan Pajajaran menurun.

4. Ratu Sakti (1543-1551)

Ratu Sakti adalah raja yang membawa keterpurukan bagi Pajajaran, raja ini digambarkan sebagai sosok raja yang lalim terhadap rakyat, sifatnya temperamental, tidak segan-segan menghukum mati bagi orang-orang yang dianggap merintangi kehendaknya. Ia dikutuk karena gemar bermabuk-mabukan dan bahkan mengawini bekas selir ayahnya sendiri.

Selama 8 tahun memerintah, ekonomi, politik dan pertahanan kerajaan diabaikan, sehingga pada zaman ini Pajajaran dirundung kekacauan, sementara disisi lain pajak yang ia terapkan pada rakyat begitu mencekik, dalam keadaan itu rakyat Pajajaran banyak yang brontak, bahkan sebagaian diantara mereka lebih memilih menjadi warga negara Kesultanan Banten. Pada masa ini Banten telah mandiri, bebas dari bayang-bayang Cirebon dan Demak.

Andai saja Ratu Sakti punya kualitas minimal seperti Prabu Surawisesa, maka Pajajaran kala itu dapat mungkin menaklukan Banten ataupun merebut wilayah-wilayah Pajajaran yang lainnya, mengingat Demak sedang dirundung perebutan tahta selepas wafatnya Sultan Trenggono (1546), Cirebon juga demikian, Pangeran Pasarean Putra Mahkota Kerajaan Cirebon yang bertugas sebagai Pangeran Dipati (Pelaksan Pemerintahan) wafat pada 1551/1551. Cilakanya  Ratu Sakti tidak peduli akan hal itu, ia lebih memilih menumpuk harta dengan cara memungut pajak yang mencekik serta berfoya-foya. Diakhir kisah Ratu Sakti, dibunuh oleh para Punggawa kerajaan, ia dikudeta dari tahta.

5. Ratu Nilakendra (1551 M-1567)

Selepas mangkatnya Ratu Sakti, yang menjadi Raja Pajajaran selanjutnya adalah Ratu Nilakendra, pada masa ini Banten benar-benar lepas dari Cirebon dan Demak, mejadi Negara yang merdeka. 

Perjanjian Cirebon dan Pajajaran yang dahulu dibuat pada masa Prabu Surawisesa tidak lagi menjadi tanggung jawab Banten, bagi Banten perjanjian tersebut sudah tidak relefan dengan kondisi Banten yang sudah mandiri. Oleh karena itu, Banten diam-diam memperkuat militernya dalam rangka menangulangi kemungkinan bentrok dengan Pajajaran.

Sementara disisi lain, sikap Ratu Nilakendra sebaliknya, ia menanggapi lepasnya Banten dari bayang-bayang Cirebon dan Demak sebagai hal yang tidak perlu ditakuti. Ia justru percaya pada kekuatan kerajaannya. Ia merasa akan dilindungi Dewa.

Ratu Nilakendra adalah penganut ajaran Tantra, ajaran ini meyakini kekuatan gaib yang akan berfungsi sebagai pertahanan negara, sehingga dalam mempertahankan keamanan negara dan ibu kota dari gempuran musuh, ia banyak membuat zimat-zimat untuk dipergunakan prajurit kerajaannya dalam menghadapi musuh. 

Pada masa Ratu Nilakendra, Pajajaran terlibat perang dengan Banten, sebabnya adalah soal perselisihan perbatasan, dalam perang, Banten berhasil mengalahkan Pajajaran bahkan berhasil memaksa Ratu Nilakendara mengungsi dari Ibu Kota Kerajaan sebab Ibu Kota dapat dikepung Banten.

6. Ragamulya/Prabu Surya Kencana (1567-1579)

Kondisi Ibu Kota Pajajaran yang dianggap tidak aman, memaksa Ragamulya/Prabu Surya Kencana tinggal di luar Pakwan Pajajar, meskipun kala itu Pakwan belum dikuasi Banten, Pakwan di kelola oleh pembesar Kerajaan yang masih bertahan disana.

Raga Mulya merupakan raja terakhir Kerajaan Pajajaran. Selama 12 tahun menjabat sebagai raja ia berkedudkan di Pulasari, Pandeglang. Oleh sebab itu, ia dikenal sebagai Pucuk Umun atau Panembahan Pulasari. Wilayah tersebut sekarang berada di Kaduhejo, Kecamatan Menes tepatnya di lereng Gunung Palasari.

Pada 8 Mei 1579 M pasukan Banten melakukan penyerangan ke Pakwan secara besar-besaran untuk merebutnya. 

Dahulu di zaman Ratu Nila Kendra meskipun Banten berhasil meyerang Pajajaran hingga Pakwan, mereka tidak dapat menembus Benteng dan gagal menguasai Pakwan, sehingga mereka akhirnya dipukul mundur Pajajaran.

Pada serangan yang sudah diatur sedemikian rupa dan di dasarkan pada serangan sebelumnya, akhirnya Banten benar-benar dapat menguasai Keraton di Pakwan. Selanjutnya Banten Juga melakukan serangan ke Pandegelang sehingga menyebabkan terbunuhnya Ragamulya/Prabu Surya Kencana. 

Direbutnya Pakwan Pajajar dan terbunuhnya Ragamulya/Prabu Surya Kencana (1579) di Pandaigelang menandai akhir dari riwayat kerajaan Pajajaran.
Sejarah Kerajaan Pajajaran

Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

Pajajaran runtuh pada 1579 seiring mangkatnya Prabu Surya Kencana. Namun sebetulnya keruntuhan Pajajaran dapat ditarik dari masa kemunduran pajajaran, yaitu dari mulai zaman Ratu Dewata hingga Ratu Nilakendara.

Raja-raja yang memerintah Pajajaran kualitasnya selalu menurun semenjak ditinggal mangkat Sri Baduga Maharaja, sehingga bukannya Pajajaran menjadi lebih kokoh dalam menghadapi serangan lawan justru malah semakin lemah, ditambah-tambah lagi rakyat Pajajaran sudah tidak mempunyai semangat mempertahankan kerajaannya karena menganggap kerajaan sudah bertindak sewenang-wenang terhadap mereka semenjak zaman Ratu Sakti.

Baca Juga: Keperkasaan Kerajaan Pajajaran pada Masa Prabu Siliwangi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel