Cara Orang Dulu Mengatahui Waktu Berbuka Puasa Ramadhan

- Maret 25, 2020
Waktu berbuka puasa Ramadhan untuk saat ini gampang dicermati, karena selain banyak TV yang secara langsung menayangkannya, juga hampir seluruh masjid dikampung-kampung mengumumkannya bersamaam dengan dikumandangkannya suara adzan yang gaungnya terdengar hingga pelosok desa. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi masyarakat tempo dulu, khususnya maysarakat yang hidup sebelum masuknya listrik.

Sebelum masuknya listik, bahkan jauh sebelum itu, orang-orang Islam berbuka puasa mengandalkan pada gejala-gejala alam yang ada, seperti tanda merah di langit sebelum masuknya magrib dan lain sebagainya, akan tetapi apabila cuaca sedang mendung tanda berbuka puasa tentu sangat menyulitkan, apalagi yang bersangkutan tidak memiliki jam.

Selain tanda merah dilangit (Tenggelamnya Matahari), ada beberapa gejala alam yang biasanya digunakan orang tempo dulu dalam mencermati waktu datanganya berbuka puasa, yaitu keluarnya kelelawar (kampret) dari rumah-rumah penduduk, cara inilah yang duahulu digunakan para penduduk desa untuk menandai watu berbuka puasa, khususnya di Pulau Jawa.

Dahulu, penduduk di pulau Jawa, menggunakan bambu sebagai bahan utama pembuatan rumah, khususnya pembuatan penopang genteng (kuda-kuda) nya. Lambat laun bambu-bambu penopang genteng rumah yang bolong itu menjadi sarang/rumah dari kelelawar. Sebagaimana diketahui kelelawar dalam kesehariannya apabila malam ia mencari penghidupan sedangkan apabila siang mereka memasuki sarang-sarang mereka.

Kelelawar biasanya akan keluar dari sarang tepat menjelang magrib, insting kelelawar sangat kuat dalam memahami waktu menjelang magrib, dari itulah kelelawar biasanya tidak akan salah mengindentifikasi waktu menjelang magrib baik kondisi cuaca normal maupun sedang dalam kondisi tak menentu (mendung).

Gejala pada kelelawar yang dimikian itu pada akhirnya dimanfaatkan oleh orang-orang dahulu sebagai tanda berbuka puasa, apabila kelelawar keluar dari bambu-bambu rumah mereka yang dijadikan sarangnya maka segera para penduduk berbuka puasa untuk kemudian menabuh kentongan dan mengumandangkan adzan di masjid atau mushala-mushala yang kala itu belum terdapat listrik, toa dan alat-alat moderen lainnya.

Kini, seiring dengan tidak digunakannya lagi bambu sebagai kuda-kuda atau penopang genteng oleh masyarakat di Pulau Jawa, kelelawar sudah jarang ditemuai lagi. Mereka seperti menghilang dan menjauh dari penduduk desa.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search