Uzair Orang yang Dianggap Anak Allah

- Februari 23, 2020
Bagi kaum pagan, God (Dewa/Tuhan) mempunyai seorang putra adalah hal yang lazim, kepercayaan yang demikian dapat ditemui pada agama-agama orang-orang Mesir, Yunani, Romawi dan India kuno. Meskipun demikian kepercayaan tersebut juga pernah dipercayai oleh sebagaian kecil orang Yahudi pada abad ke 5 Sebelum Masehi. Sebagian kecil orang Yahudi itu pernah mempercayai bahwa Uzair adalah anak Allah.

Anggapan kaum Yahudi terhadap Uzair sebagai anak Allah, dapat ditemui dalam Al-Quran QS. At-Taubah: 30. Yang artinya: “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah ’ dan orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putra Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah mengutuk mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.”

Asal-usul Uzair, kenapa ia dianggap anak/putra Allah berbeda dengan asal-usul Isa Al-Masih/Yesus yang dianggap juga sebagai putra Allah oleh umat Kristen. Perbedaannya adalah kaum yang mempercayai Uzair sebagai putra Allah dari kalangan Yahudi sudah musnah, hanya tinggal sejarah sehingga untuk mengetahui alasan dan asal-usul mengapa golongan tersebut menganggap Uzair sebagai anak Allah tidak dapat dikonfirmasi. Hal tersebut tentu berbeda dengan asal-usul kenapa Isa dianggap anak Allah, kita dapat menanyakan langsung kepada orang-orang Kristen, mengingat eksistensi orang-orang yang percaya Isa sebagai anak Allah hingga kini masih lestari.

Meskipun asal-usul diperanakannya Allah oleh sebagian kecil kalangan Yahudi tidak dapat dikonfirmasi karena musnahnya para penganut kepercayaan itu, asal-usul Uzair dianggap anak Allah oleh orang Yahudi dapat ditelusuri dari para Mufasirin Al-Quran dan Sejarawan.

Menurut Ibnu Katsir, berdasarkan riwayat dari Ishak bin Basyar menceritakan, Said, dari Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Abdullah bin Salam, bahwa Uzair adalah seorang hamba yang diwafatkan Allah SWT selama seratus tahun, dan kemudian dibangkitkan kembali oleh-Nya. Kisah ini, disebut dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 259.

Demikian arti surat al-Baqarah ayat 259:
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama hamu tinggal di sini ?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratns tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'” (QS. al-Baqarah: 259)

Selanjutnya, menurut  Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, disebutkan bahwa Uzair adalah salah seorang ulama Yahudi. Beliau termasuk tawanan yang dibebaskan oleh Kursy Raja Persia dan diperbolehkan kembali ke Yerusalem pada tahun 451 SM. Uzair adalah tokoh agamawan Yahudi yang berhasil menghimpun kembali kitab suci Yahudi setelah sebelumnya lenyap. Karena kedudukannya itulah sehingga orang-orang Yahudi menamainya  “Anak Allah” pada mulanya sebagai penghormatan , bukan berarti Allah benar-benar punya anak, kemudian penghormatan tersebut berkembang sehingga akhirnya dipercaya oleh sebagian  mereka sebagai anak Allah dalam pengertian hakiki. Walaupun kepercayaan itu hanya dianut oleh sebagian mereka, tetapi karena sebagian yang lain tidak membantah atau meluruskannya, maka mereka semua dianggap menyetujui keyakinan sesat itu.

Uzair, selain kisahnya tercatat dalam al-Quran, juga ternyata tercatat dalam sejarah Yahudi, menurut sejarah Yahudi, Uzair disebut Ezra, merupakan Imam Agung Kaum Yahudi yang berhasil menyusun kembali taurat setelah sebelumnya dimusnahkan oleh Kerajaan Babilonia yang menguasai Yerusalem.

Pada Tahun 722 SM-586 SM Kerajaan Babilonia (Sekarang Iraq) mengalahkan Kerajaan Israel dan Yudea (Palestina), dalam penaklukan tersebut Ibu Kota Kerajaan Israel dan Yudea (Yerusalem) dihancurkan termausk didalamnya Haikal Sulaiman (Kuil Nabi Sulaiman) serta memusnahkan taurat warisan Nabi musa yang sebelumnya tertulis dalam loh-loh batu. Pada masa ini orang-orang Yahudi dijadikan tawanan, mereka dikirim ke Babilonia dijadikan budak.

Pada Tahun 539 SM-331 SM Kerajaan Persia (sekarang Iran), mengalahkan Babilonia, kerajaan ini akhirnya membebakan orang-orang Yahudi dari perbudakan bangsa Babilonia, dan mengijinkan mereka untuk pulang ke negeri asalnya Palestina. Pada masa inilah Uzair atau Ezra yang dianggap sebagai anak Allah itu hidup. Ia berjasa menyusun kembali kitab taurat yang sebelumnya telah dimusnakan, dalamkalangan Yahudi Ezara ini dianggap mampu menuliskan kembali taurat dari hafalannya, oleh karena itulah ia dianggap Anak Allah (mulanya bermakna orang shalih, bukan anak Allah secara hakiki) ia juga terlibat dalam pembangunan kembali Haikal Sulaeman yang telah dimusnahkan.

Sumber Bacaan: 

[1]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 5 (Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2005), hal. 576
[2]Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2005), hal 592
[3]Sejarah Yerusalem. Wikipedia.org


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search