Mengenal Wahabi

- Januari 25, 2020
Wahabi adalah paham keagamaan dalam Islam yang muncul pada abad ke 18 Masehi. Dinamakan Wahabi karena aliran tersebut mengikuti pemikiran dan gerakan dakwah yang digagas dan digerakan oleh Muhamad bin Abdul Wahab.

Dalam Tradisi Arab, bilamana menamakan pengikut ajaran tertentu biasanya dinisbatkan pada nama pendiri, nama ayah, kakek atau nama buyut dari penggagas aliran. Contoh. Pengikut Imam Syafii disebut dengan “Syafi’iyah” dan sebagaimana diketahui bahwa nama asli Imam Syafii adalah “ Muhamad bin Idris bin Abbas bin Ustma Syafi’i”. Dengan demikian istilah Syafi’iyah untuk menamai pengikut Imam Syafi’i diambil dari nama buyut Imam Syafi’i. Dalam kaitannya dengan sebuatan Wahabi, orang Arab menamakan pengikut Muhamad bin Abdul Wahab dengan sebutan itu karena dinisbatkan kepada nama ayah dari pendiri Wahabi (Abdul Wahab).

Muhamad bin Abdul Wahab Lahir pada tahun 1703 M/1115 H. di ‘Uyaynah, Najd. Sebetulnya Najd merupakan daerah yang dimasa Nabi Muhamad hidup (Abad ke 7 Masehi) sudah ada, akan tetapi citra dari daerah tersebut dianggap buruk, karena Nabi pernah bersabda “ Di sana akan muncul kegoncangan dan fitnah, dan di sana pula nanti muncul tanduk setan” (HR: Al-Bukhari).

Para ulama menyakini bahwa, maksud dari munculnya fitnah dan tanduk setan di Najd adalah kemunculan orang-orang pembawa fitnah dan kerusakan, sebagaimana di ketahui bahwa dahulu di Najd lahir seorang Nabi Palsu bernama Musailamah al-Kadzab. Dalam kaitannya dengan Muhamad Bin Abdul Wahab juga demikian, pengikutnya yang kemudian dikenal dengan penganut paham Wahabi tidak henti-hentinya melakukan fitnah dan kerusakan, khususnya di dunia Islam.

Dikalangan pengikutnya, memang Muhammad bin Abdul Wahab sangat dipuja, dianggap sebagai Syekh yang luar biasa, akan tetapi dalam catatan sejarah diketahui bahwa Ayah kandung Muhammad bin Abdul Wahab sendiri sudah lama merasa aneh dan janggal melihat pemikiran anaknya. Bahkan, kakak kandung Ibnu Abdul Wahab, Sulaiman bin Abdul Wahab, mengkritk keras dan menolak pandangan keagamaan pendiri wahabi ini. Kritikan Sulaiman tersebut ditulis dalam buku al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fal-Radd ‘ala al-Wahabiyyah.

Sejak ayahnya meninggal, Muhammad bin Abdul Wahab merasa bebas berpendapat serta menyerang prilaku umat Islam yang bertentangan dengan pendapatnya. Pendiri wahabi ini memahami al-Qur’an dan hadis secara sempit dan sangat tekstual, sehingga mereka begitu mudahnya membid’ahkan dan mengafrkan orang yang tdak mengikut pemahaman mereka.

Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab sejak dulu kontroversial dan mengundang kritikan dan hujatan banyak orang. Dia ingin melakukan permunian terhadap ajaran Islam, sehingga menganggap ziarah kubur dan tawassul sebagai bentuk kemusyrikan. Sebab itu, tidak mengherankan bila pandangan Muhamad bin  Abdul Wahab ini dikritik banyak orang dan bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Selepas kematian Muhamad Bin Abdul Wahab dan tegaknya Kerajaan Arab Saudi, aliran Wahabi mengalami perkembangan pesat, karena memang aliran tersebut turut andil dalam berdirinya kerajaan Saudi.

Aliran Wahabi kemudian dikenal luas oleh masyarakat muslim dunia, akan tetapi mereka mengenal sisi negative dari pengikut aliran tersebut, Wahabi dikenal sebagai aliran yang mudah membid’ah-bidah’kan bahkan mengkafir-kafirkan sesama muslim, aliran tersebut juga dikenal luas sebagai aliran yang hobi membongkar kubur-kubur para Nabi, Sahabat, Wali dan Ulama yang biasa diziarahi, bagi mereka berziarah dianggap musyrik (Menyektukan Allah). Diantara penganut aliran Wahabi yang paling keras untuk saat ini adalah orang-orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok teroris seperti ISIS dan lain sebagainya.

Citra buruk Wahabi sebagai sebuah aliran memaksa para pengikut aliran Wahabi mengubah citra mereka, secara serempak banyak diantara mereka tidak mau lagi disebut “Wahabi” lalu sebagian diantara mereka juga ada yang membuat karangan seolah-olah bahwa yang disebut “Wahabi” adalah bukan mereka.

Mereka mengarang cerita baru bahwa aliran wahabi sebenarnya dinisbatkan kepada pengikut Abdul Wahab bin Rustum (211 H), bukan kepada Muhammad bin Abdul Wahab. Padahal jika dipahami secara jeli Abdul Wahab bin Rustum adalah pengikut paham khawarij yang mengafirkan muslim yang melakukan dosa, serta memberontak kepada pemerintahan Islam. Akan tetapi, fakta sejarah menunjukan, pengikut Abdul Wahab bin Rustum tidak dinamakan wahabi (الوهابية) tetapi wahbiyyah (الوهبية) Kelompok ini disebut wahbiyyah karena Abdul Wahab bin Rustum sebenarnya bukan pendiri aliran ini, pendirinya adalah Abdullah bin Wahbi al-Rasibi (38 H). Dengan demikian, penisbatan para pengikut wahabi kepada Abdul Wahab bin Rustum tidaklah tepat. Meskipun demikian masih ada juga beberapa tokoh wahabi yang mengakui dan bangga dengan nama wahabi sebagai pengikut Muhammad bin Abdul Wahab.

Baca Juga: Apakah Sama antara Salafi dan Wahabi ?


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search