Struktur Novel Satu Jodoh Dua Istikharah

- Oktober 19, 2019
Struktur Novel Satu Jodoh dua istikharah didalamnya terdiri dari tema, alur, penokohan, tema, sudut pandang dan sudut pandang. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Tema 

Novel Satu Jodoh Dua Istikharah adalah novel yang bertemakan cinta. cinta seorang pemuda dan pemudi yang pada awalanya berjalan buruk karena kesalahpahaman. Fatimah dianggap tidak mempedulikan cinta Salman, padahal Fatimah tidak menolaknya. Ia ingin agar Salman sabar menunggunya menyelesaikan studinya pada bidang Kedokteran di Australia. Berperasangka diauhkan oleh wanita yang dicintainya, kemudian Salaman menjadi seorang yang salah jalan, hari-harinya dihabiskan dengan menjadi petualang cinta hingga suatu waktu Salman menemukan wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta, seorang pelacur yang baik hati, bernama Tania.
Rasa cinta Salman yang tak diacuhkan oleh Fatimah tersebut tergambar dalam kutipan sebagai berikut :

“Dulu seingatku Pak Salman memang memuja satu perempuan. Ia tatap setiap hari fotonya, diletakan di atas meja, foto anak sekolah. Kalau ada yang masuk foto itu ditidurkan. Setiap kali datang ke kantor foto itu dikeluarkan, diletakan di atas meja. Hanya Pak Salman yang mengetahuinya.”

“Mungkin karena lama tak bertemu, semakin dinanti tak kunjung datang, tidak tahu nomer telelponya, mita ke saya dicarikan akun Facebooknya ternyata tidak ada, minta ke orang tuanya mungkin tak enak, akhirnya rasa kehilangan itu dilampiaskan sembarangan. Saya sangat sedih. Saya coba jaga Pak Salman, tapi saya sadar ini hanya bekerja,” Walda terlihat matanya berkaca-kaca.
Fatimah jantungnya berdetak kencang, ia takut itu dirinya, ia takut Salman demikian justru karena dirinya. Ia khawatir semua hanya karena bersumber darinya.

“Kalau saya kenal gadis itu, akan saya minta cepat datang, atau beritahu dimana tempat tinggalnya, saya akan jemput dia. Saya gemas dengan wanita itu. Dia tidak tau berapa beruntungnya dia karena Pak Salman yang mencintainya. Tapi kenapa cinta pertamanya tak pernah mempedulikannya.”

“Kamu tahu dimana Foto itu?”
“Mungkin di lacinya, atau di almarinya.”
Fatimah sangat penasaran, “Bisa carikan Foto itu?”
Walda tak berani gegabah membawa orang ke dalam ruangan Salman,
“Mba ini siapa?”
“Aku teman kecilnya. Siapa tau aku kenal gadis itu.”
Walda masih mematung bingung.
“Ayolah…..Salman sedang kesulitan,” Fatimah memohon.

Walda luluh. Berdua memasuki ruang kerja Salman. Di atas mejanya tidak ada lagi barang, hanya ada jam kecil dan beberapa alat tulis. Laci ternyata terkunci. Walda bingung dimana kuncinya. Hanya satu bagian itu yang terkunci, Walda bingung,” Ah, pintunya terkunci.”
Walda melihat ada kunci menggantung di sisi almari, “Mungkin ini kuncinya”
Benar, ternyata terbuka. Hanya ada satu barang di dalamnya. Satu Foto berbingkai, Foto ukuran 3R, ya masih sama gadis dengan baju sekolah, kerudungnya putih. Tapi seketika itu Walda terkejut, rasanya kini ia mengenal gadis itu. Apakah benar gadis dalam Foto itu kini ada didepan matanya?
“Kenapa mba liat ke saya dengan cara begitu?”
Fatimah tak enak dipandang dengan tajam.

“Mba kenal dengan Foto ini ?” Walda balikan Foto ditunjukan ke Fatimah.
Seketika Fatimah terkejut tertekan dan tertampar. Itu adalah Foto dirinya ketika menghadiri lulusan Salman. Ia tidak menyangka Salman menyimpan Fotonya sekian lama untuk dipandang. (Hlm 106-108)

Selanjutnya setelah Salman bertemu dengan Tania, seorang pelcur yang membuatnya insaf, ia kemudian berubah sepenuh hati, meninggalkan kebiasaan mengumbar syahwatnya dan mencurahkan hidup dengan Tania. Tapi rupanya keluarga besar Salman tak menghendaki seorang pelacur menjadi menantunya, Salman pun kemudian memaksa menikahi Tania, keduanya kemudian menikah sirri, menikah tanpa restu dari kedua orang tua Salman. Gambaran pernikahan Salman yang dibayang-bayangi penolakan oleh kedua orang tua salman tersebut tergambar dalam kutipan sebagai berikut:
“Saya nikahkan Tania..” tangan seorang ustadz menyalami Salman.

Ruangan hanya berukuran 3x3 meter. Berisi dua kursi saling berhadap-hadapan. Jarum jam berdetak terasa kencang terdengar, lampu terang menyala. Saat itupukul empat sore di kediaman seorang ustadz.

Salman dan Tania benar-benar menikah, pernikahan tersembunyi, tidak dihadiri penghulu dari kantor agama, hanya seorang ustadz dan dua saksi. Tania dan Salman menikah Sirri. Tania sepakat menjalankan hubungan sah antara dirinya dan pendambanya.
Salman mantap menjawab, “Saya terima nikahnya…”
Berdua memulai hidup baru di kota yang sebenarnya masih dekat Surabaya, Malang. (Hlm 145)

Keluarganya tetap kukuh menolak permintaan Salaman untuk menikahi Tania. Keluarganya kemudian melucuti kekayaan Salman. Waktu itu Salman menjabat sebagai direktur dalam perusahaan orang tuanya. Pada masa ini Salman hidup dalam kemiskinan.

Dengan sebab dorongan dari Ibu Salman agar Tania meninggalkan Salman dan didorong rasa kasihan terhadap keadaan Salman yang miskin selepas berhubungan dengan Tania, Tania pun kemudian meninggalkan Salman dengan harapan agar Salman melupakanya dan kembali hidup bersama keluarganya, tapi Salman justru makin gila, ia mencar-cari Tania istri sirinya yang menghilang itu.

Mulailah setelah itu Salman hidup sebagai seorang gelandangan. Hari-harinya dihabiskan untuk mencari Tania. Sementara itu selepas Fatimah menyelesaikan Studinya, Fatimah mencari Salaman guna untuk menerima Salman sebagai suaminya, namun Salman dikabarkan telah lama diusir dari rumahnya. Fatimah terus mencari Salman dari tempat satu ketempat lainnya, hingga ia kemudian menemukan Salman yang penampilanya tidak segagah dulu, badannya kurus berambut tak terurus, menjadi seorang gelandangan. Ia kemudian membawa Salman dari jalanan dan mengembalikannya kepada orang tuanya yang sudah menyesal karena dahulu mengusir Salman. Fatimah dengan tekad bulat kemudian mengajak Salman untuk menikah, meskipun orang tuanya melarang karena mengetahui Salman dahulu sering melacur. Salman pun sebenarnya tidak mau menikah dengan Fatimah karena baginya Fatimah terlalu suci untuk dijadikan sebagai istrinya, meski ia masih mencintainya.

Pernikahan dua insan itu kemudian digelar, akan tetapi setelah pernikahan Salman sepertinya sudah tidak mencintai Fatimah lagi. Setiap kali Fatimah mengajak berhubungan suami-istri, Salman selalu menolak. Hingga suatu hari karena perjuangan Fatimah yang gigih mengembalikan rasa cinta Salman terhadapnya ia berhasil meyakinkan Salman bahwa ia ingin mempunyai anak dari Salman. Dalam tahap ini Salman sudah kembali lagi mencintai Fatimah dan melupakan Tania.

Fatimah pun kemudian mengandung, tapi rupanya ketika kandungan Fatimah diperiksakan dokter kandungan, dokter mengabarkan ada sesuatu yang tidak normal dalam kandungan Fatimah yang disebabkan oleh penyakit kelamin yang diderita suaminya, Salman. Barulah kemudian Fatimah mengerti mengenai alasan mengapa Salman tidak mau dinikahi dan diajak berhubungan badan.

Salman kemudian terpuruk dan meninggalkan Fatimah. Sisa hidupnya dihabiskan dalam kamar pesakitan. Ia pergi menjauh dari Fatimah agar berharap dirinya tidak menjadi beban Fatimah. Salman hidup dalam pesakitan, tubuhnya hanya tinggal tulang dan hanya berdiam diri dalam pembaringan. Meskipun demikian Fatimah terus mencari suaminya yang menghilang itu. Ia mencari Salman dengan berbagai cara, hingga suatu hari ia menemukan Salman di rumah kakaknya. Fatimah  pun kemudian membawa Salman kembali ke rumah, dan mengurus Salman dengan telaten di sisa-sisa hidupnya.

Gambaran dari keterpurukan Salman yang mengidap penyakit kelamin itu digambarkan dalam kutipan sebagai berikut:

Dalam mobil pun Fatimah berulang-ulang bertanya “ Sejak kapan bersamamu?”
“sudah lebih satu bulan. Sejak dia tidak pulang”,Salim dikursi depan mobil menoleh kebelakang.
“Kenapa kau tidak beritahu aku?” Fatimah mulai kesal.
“Keadaanya sulit Fatimah, dia tidak mau, dan aku tidak tega memberikan adikku yang…” Salim tidak lagi meneruskan.
Tania sedikit khawatir, takut keadannya Salman jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.
“Aku istrinya, harusnya aku tahu…” Fatimah tak berhenti, kini ia emosi membela suami.
“Maaf Fatimah.”
Salim berhenti dekat satu pintu. Kamar kecil dibagian belakang rumah, “Masuklah, Salman ada di dalam.”
Fatimah buka perlahan-lahan, aroma Salman tercium. Dilihatnya satu sosok dengan tubuh sangat kurus, seperti tertinggal tulang, sedikit daging dan terbungkus kulit tipis. Begitu cepat tubuhnya habis. Badanya terbungkus kaos.
“Salman ayo kita pulang,” Fatimah mengajak.
“Aku mohon maaf Fatimah..”
“Sudah…..sudah…..Ayo kita pulang,” Fatimah terus berusaha menenangkan.
“Aku sakit seperti ini Fatimah. Aku..” Salman masih berbaring.
“Sudah….kau suamiku aku kan rawat dirimu”. (Hlm 335-336)

2. Alur

Alur (plot) dalam novel Satu Jodoh Dua Istikharah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian tengah (klimaks) dan bagian akhir atau penyelesaian kisah.

Bagian awal novel mengisahkan tentang kehidupan Salman sebagai seorang direktur muda sukses yang mampu mengendalikan empat belas perusahaan milik orangtuanya. Gambaran  Salman sebagai seorang direktur Muda yang gemilang digambarkan dalam kutipan teks novel sebagai berikut:

Gedung terbagi enam sektor, setiap sektor membawahi beberapa perusahaan. Satu sector terdiri satu ruangan direktur, satu ruangan manajer, satu ruangan staf, dan satu ruangan tamu di tengah. Semua direktur diisi orang yang benar-benar matang. Usia di atas empat puluh tahun. Kecuali sektor enam, posisi direktur diduduki anak muda usia duapuluh delapan tahun. Bawahanya lebih tua, tapi ia tetap percaya diri, bahkan ditangannya ada lebih empat belas perusahaan, semua menduduki jabatan komisaris utama. (Hlm 3)

Sementara Fatimah adalah seorang wanita dari keluarga baik-baik yang khusus menjalani masa kuliah di Fakultas Kedokteran di Australia. Pada masa-masa ini Salman mengajak Fatimah teman sekolah menegahnya dahulu untuk menjalin hubungan serius, tetapi Fatimah menangguhkanya karena merasa belum menyelesaikan studinya. Lamanya penantian tersebut kemudian menyebabkan Salman frustasi hingga ia menjadi petualang cinta dengan cara menyewa wanita-wanita pemuas nafsu.

Gambaran penjelasan di atas sesuai denga kutipan teks novel sebagai berikut:

Dulu seingatku Pak Salman memang memuja satu perempuan. Ia tatap setiap hari fotonya, diletakan di atas meja, foto anak sekolah. Kalau ada yang masuk foto itu ditidurkan. Setiap kali datang ke kantor foto itu dikeluarkan, diletakan di atas meja. Hanya Pak Salman yang mengetahuinya.”
“Mungkin karena lama tak bertemu, semakin dinanti tak kunjung datang, tidak tahu nomer telelponya, mita ke saya dicarikan akun Facebooknya ternyata tidak ada, minta ke orang tuanya mungkin tak enak, akhirnya rasa kehilangan itu dilampiaskan sembarangan. Saya sangat sedih. (Hlm 106)

Bagian tengah  novel Satu Jodoh Dua Istikharah berisi tentang kisah perkawinan Salman dengan Pelacur cantik Tania, hingga diusirnya Salman oleh kedua orang tuanya, serta melucuti kekayaannya. Dalam bagian klimaks ini juga diceritakan mengenai ditinggal perginya Salman oleh Tania, serta keadaan Salman yang menjadi gelandangan selepas ditinggal Tania, sampai pada ditemukanya Salman oleh Fatimah.

Gambaran penjelasan di atas sesuai dengan kutipan teks novel sebagai berikut:
“Kamu kemana saja? Kasihan ibumu. Tiap hari memikirkanmu,” Abah bersarung, berkopyah, duduk dengan dua kaki bersilah di atas kursi.
“Jemput Tania”
“Allahu Akbar. Kamu ingin menikah dengannya?” Abah geram.
“Iya Bah. Dia wanita baik-baik,” Salman menatap sejenak wajah Ayahnya,”Apa karena Tania dulunya seorang pelacur?, Salman juga punya masa lalu yang buruk, Bah”.
Abah menghela nafas yang panjang, “Bukan seperti itu. Allah mengampuni setiap hambanya yang bertaubat. Tapi manusia bisa memilih jodohnya kamu bisa memilih yang lain. (Hlm 135-136)

Adapun kisah  pelucutan kekayaan  Salman oleh kedua orang tuanya tergambar dalam kutipan teks novel sebagai berikut:

“Pak Salman dipecat oleh Abah dari semua perusahaan yang ada disini. Surat edarannya sudah keluar”. Walda tertunduk lesu, “Kalau Pak Salman datang kami tidak boleh menganggapnya sebagai pemimpin.” (Hlm 105)

Sementara itu kisah mengenai kenekadan Salman untuk menikah dengan Tania meski tidak direstui oleh kedua orang tuanya dan tergambar dalam kutipan teks novel sebagai berikut:

“Saya nikahkan Tania..” tangan seorang ustadz menyalami Salman.
Ruangan hanya berukuran 3x3 meter. Berisi dua kursi saling berhadap-hadapan. Jarum jam berdetak terasa kencang terdengar, lampu terang menyala. Saat itupukul empat sore di kediaman seorang ustadz. (Hlm 145)

Bagian penutup dari novel Satu Jodoh Dua Istikharah dimulai dari terungkapnya penyakit kelamin Salman yang menyebabkan Salman menjauhi Fatimah dan hidup dalam ranjang pesakitan, kemudian disusul oleh pencarian Fatimah dengan segala cara hingga kemudian Fatimah menemukanya dengan kondisi Salman yang hampir meninggal karena sakit. Kisah dalam novel ini kemudian ditutup dengan kisah di bawanya Salman dari tempat ia bersembunyi oleh Fatimah, sisa hidup Salman kemudian dihabiskan bersama Fatimah.

Pemaparan dari penjelasan mengenai bagian penutup dalam novel tersebut tergambar dari ktipan novel sebagai berikut:

Penyakit Kelamin Salman Terungkap
Selang dua jam Salman ingin pergi ke kamar kecil. Wisam lama menunggu, Salman tak kunjung kembali dari kamar mandi. Hampir tiga puluh menit Salman belum kembali. Wisam berulang-ulang melihat jam tangan.
Tiba-tiba satu pelayan berlari mendekat, “Pak Salman pingsan dikamar mandi.”
Wisam terkejut “Sudah dibawa ke kamar?”
Pelayan perempuan dengan nampan mengangguk.
Wisam berjalan cepat, mendapati Salman terbaring di kamar. Wisam merasa aneh, Salman tak biasanya demikian. Lemah dan Pucat. Telapak tangan Wisam ditempelkan di jidad Salman, tidak panas. Nafasnya berhembus lancar. Selang spuluh menit dibantu minyak kayu putih, Salman siuman.
“Kau kenapa?”
“Aku tak tahu, tiba-tiba kepalaku sangat pusing”
“Kita ke dokter” Wisam menarik tangan Salman, berusaha duduk.
“Sudah malam” Salman enggan.
“Kita kerumah Sakit,” Wisam membujuk.
Salman menurut. Berdua menggunakan mobil Toyota Avaza hitam. Salman duduk didepan dengan jok sedikit lebih rendah agar tiduran. “Wisam aku lemas sekali”
Wisam tak bisa melihat Salman sedemikian gugup. Wisam panic, tangan kirinya memegang tangan Salman erat, sesekali memindah gigi. Mobil dipacu sedikit kencang meski tempatnya tak begitu jauh. Di dekat taman Bungkul. Hanya butuh waktu lima menit jika sudah di atas pukul Sembilan malam, “Sebentar lagi sampai, bertahanlah”
Masuki lobi rumah sakit, Wisam langsung turun memanggil suster untuk segera menjemput Salman. Dua perawat mendekat, membawa satu kereta pesakitan. Wisam angkat tubuh kurus salman, ia begitu khawatir, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat karibnya. Selama ini belum terdengar gejala atau kabar tak sedap tentang kesehatan Salman.
Wisam menunggu sendirian dilihatnya jam tangan. Jarum pendek menunjuk angka sepuluh malam.
…….. Wisam mendekat ke dokter, duduk sesekali melihat Salman, “Bagaimana, dok?”
“Kamu saudaranya?”
Wisam menganguk
“Aku yakin saudaramu suka jajan perempuan”
Wisam terdiam.
“Saudaramu terkena penyakit dari hubungan seksual sembarangan. Ini sepertinya sudah lama, tetapi didiamkan. Sudah menjalar keseluruh ketubuhnya. Saya belum bisa memastikan pastinya apa. Tapi kuatkan saudaramu. Kesehatanya pelan-pelan akan terus memburuk”. Dokter menarik nafas panjang. (Hlm 274-277)

Salman Meninggalkan Fatimah
Tubuh Salman terbaring lemas, tak bertenaga, hanya bercelana pendek dengan dada terbuka, lehernya seperti mengecil, tangnya seolah mongering, kaki seperti tak pernah tersentuh air, matanya memandang ke atas, tubuh seakan sekarat, bibir kering kerontang bak lading dimusim kemarau panjang.

Salman sudah hampir seminggu terkulai lemas, kutukan Tuhan ternyata sudah menjalar ke sekujur badan. Mungkin besok sudah bisa kembali jalan, tapi mungkin lusa akan lemas sekujur badan. Salman mulai merasakan sakit menggrogoti badan. Salman sesekali menangis seorang diri, mengingat dirinya sendiri, mengingat perjalanan hidupnya, mengingat Fatimah yang terus menantinya…(Hlm 301-302)

Fatimah mencari Salman
Sesekali Fatimah hubungi teman-teman yang dikenal “Irvan, in Faimah”
“Oh..ya…kamu hamil ya..?” ah sedih mendengar, orang lain memperhatikan, suami sendiri menghilang,
“Iya…Van. Kamu lhiat Salman?”
“Dia pergi, entah kenapa”
“Dia tidak bilang kemana?”
“Tidak. Tolong kalau tahu di mana dia beri tahu aku” Fatimah berharap ada teman yang menemukan. (hlm 309)

Fatimah menemukan Salman dan membawanya pulang
Salim berhenti dekat satu pintu. Kamar kecil dibagian belakang rumah, “Masuklah, Salman ada di dalam.”

Fatimah buka perlahan-lahan, aroma Salman tercium. Dilihatnya satu sosok dengan tubuh sangat kurus, seperti tertinggal tulang, sedikit daging dan terbungkus kulit tipis. Begitu cepat tubuhnya habis. Badanya terbungkus kaos.
“Salman ayo kita pulang,” Fatimah mengajak.
“Aku mohon maaf Fatimah..”

“Sudah…..sudah…..Ayo kita pulang,” Fatimah terus berusaha menenangkan.
“Aku sakit seperti ini Fatimah. Aku..” Salman masih berbaring.
“Sudah….kau suamiku aku kan rawat dirimu”. (Hlm 335-336)

3. Penokohan

Penokohan dalam novel Satu Jodoh Dua Istikharah terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan, berdasarkan analisis terhadap isi novel tersebut telah didapat bahwa dalam novel ini terdiri dari tiga tokoh utama yaitu Salman, Fatimah, dan Tania, dan tokoh pendukung seperti kedua orang tua Salman, Fatimah dan Tania. Selain itu juga terdapat tokoh tambahan lain, seperti Ahmad orang yang mencintai Fatimah, Waldah sekertaris Salman yang mencintai Salman. Adapun dalam pembahasan kali ini hanya akan dibahas mengenai tokoh utamanya saja.

a. Salman

Tokoh Salman dikisahkan sebagai seorang yang mempunyai paras menawan, pintar, dan cerdas semenjak berada di bangku sekolah menengah, hal tersebut digambarkan dalam kutipan novel sebagai berikut:

Wisam hanya diam didalam kamar melihat Salman pergi dari hadapannya. Ah Salman, nasibmu seperti sebuah teka-teki tak punya jawaban. Wisam mengenang sepanjang hidup bersamanya. Sejak SD dia menjadi perhatian guru-guru dengan kecerdasanya dan ketangkasannya. Di Tsanawiyah dia mulai jadi perhatian lawan jenis di Aliyah sudah menjadi pujaan. (Hlm 279)

Selin itu juga dalam bidang kerja yang ia geluti sebagai direktur di perusahaan ayahnya, ia dikenal professional dan berwibawa, hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:

Ia memang generasi terbaik dalam keluarga Hasyim. Anak terakhir dari dua bersaudara. Tatapan matanya sangat tajam, begitu pula dengan arus pikirannya. Ia dikenal memiliki perhitungan matang, berbisnis sejak usia belasan. (Hlm 3-4)
Selain itu Salman juga dikisahkan sebagai seorang yang mudah Salah faham dan tak sabar menunggu hal-hal yang tidak pasti, terutamanya soal wanita, hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:

Salman..
Disini aku menjaga hati untukmu, selalu, percayalah. Ketika aku pulang nanti aku akan menemuimu. Tunggulah aku Salman. Dari Australia Aku bersimpuh cinta padamu.
Tania terlihat sudah selesai membaca, Fatimah bersandar ke dinding, “Dalam penantian itu tak sabar. Ia tak sanggup menanti. Tidak semua laki-laki bisa menunggu lama seperti kita. Laki-laki terkadang butuh pegangan btangan kita. Saat itulah Salman mencari pelampiasan,” Fatimah terdiam sejenak, butuh tarikan nafas panjang. (Hlm 158).

b. Fatimah

Fatimah digambarkan sebagai tokoh wanita muslimah yang cantik. Kecantikan Fatimah tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:

“Salman dimana mba?”
Walda seketika terperangah melihat wajah dihadapanya. Bagi wanita, gadis itu cukup cantik, bahkan sangat cantik. Ia seperti gadis-gadis dari Turki yang beredar di internet, sangat Sempurna. Lebih tinggi sepuluh centi dari Walda.
“Belum datang. Tapi sudah dua hari ini tidak masuk” Walda masih tertegun, “Ini dengan siapa?”
“Fatimah”. (Hlm. 62-63)

Selain dikenal cantik, tokoh ini juga dikenal sebagai tohoh yang amat mencintai Salman, pendiriannya teguh jika menginginkan sesuatu, hal tersebut tergambar dalam kutipan novel sebagai berikut:

Fatimah. Abah mondar-mandir mendengar niat Fatimah membatalkan pernikahan dengan Ahmad.
“Niat kamu apa?” Ibu menunjuk wajah Fatimah.
“Fatimah tidak suka dengan Ahmad. Tidak ada persaan”
“Umi tau alasan ini semua, Salman”. Ibu tarik nafas dalam, “ Dia itu bukan seperti dulu. Kamu bisa ikut hancur karenanya” tangan Ibu tak henti menunjuk wajah Fatimah.
“Pikirkan baik-baik ! jangan berfikir kau dulu indah bersamanya. Itu dulu. Kamu akan membangun rumah tangga, bukan pertemanan biasa!” Ibu berharap anak tercantiknya sadar. Ia tak ingin Fatimah menangis di satu hari kemudian.
“Fatimah sudah pikirkan baik-baik Umi”
“Kamu ini keras kepala, Bodoh,” Ibu emosi, suaranya meninggi kemarahan memuncak.
Ayah mengambil tempat duduk dekat Fatimah, mengelus punggungnya, “Fatimah kamu sudah besar, sudah dewasa, Abah yakin kamu bisa memilah mana yang baik dan mana yang salah” Ayah terdiam, bernafas berat, “Apa alasanmu kembali ke Salman?”
“Fatimah kasihan bah sama Salman”
“Nak, menikah itu tidak bisa hanya berdasar unsur kasihan. Kamu bukan sedang menolong. Kamu sedang membangun rumah tangga yang akan dibangun bersama-sama antara kamu dan pasanganmu, bukan hanya dirimu saja. Berat kalau hanya kamu yang sangat mencintai, hanya kamu yang membangun rumah itu, sedangkan dia menghancurkannya”
Fatimah kali ini terdiam.

“Abah sering mendengar Salman sering datang ke tempat hiburan malam, suka bermain perempuan, itu kebiasaan berat. Mungkin dengan cintamu kau bisa mengubahnya, tapi mungkin justru suatu hari ia bisa kembali pada kebiasaan itu. Kau hanya akan sibuk untuk menyelesaikan masalah suamimu, bukan membangun rumah tanggamu” Ayah terus memberi nasihat.

“Cinta itu penting, tapi dalam rumah tangga akhlak jauh lebih penting. Mungkin sebelum menikah cinta membuat akhlak menjadi sempurna, kau tak melihat dengan utuh, semuanya terlihat indah. Tapi setelah menikah, ahlaq buruknya justru membuat cinta tidak sempurna, kau melihatnya dengan utuh, kau akan rasakan keburukannya menjadi bebanmu. Kau pikirkan baik-baik”.

Sesaat semua diam, diam cukup lama. Emosi Ibu sedikit mereda, Fatimah berusaha keras berpikir. Ayah menunggu jawaban Fatimah. Ruangan hening tak ada yang terdengar.

Fatimah angkat wajahnya, beranikan sesekali menatap orangtua, “Abah, Umi. Sedari kecil Fatimah mau menuruti semua permintaan Abah dan Umi. Untuk bermain dengan Salman juga anjuran dari Abah dan Umi. Maka izinkan Fatimah memiliki satu permintaan untuk membangun masa depan itu bersama Salman,” Fatimah menarik nafas dalam, “Sebelum menikah yang Fatimah tahu hanyalah cinta. Izinkan Fatimah belajar membangun rumah tangga”
Ibu kecewa berat, menangis mendengarnya. Ayah kembali memberi pesan sampai lupa makan malam. (Halaman 203-205)

c. Tania

Tokoh Tania dalam novel ini digambarkan sebagai seorang pelacur yang bekerja menjadi pelacur selama enam bulan lebih, hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:
“Sudah lama jadi pelacur?”
“Enam bulan Sembilan hari,” Tania betul-betul hafal, rambut lurusnya terlihat manis kala jatuh beberapa kedepan telinganya. (Hlm 17)
Meskipun demikian, tokoh ini juga digambarkan sebagai seorang pelacur yang terpaksa menjadi pelacur, sebab ia menjadi pelacur karena dijual oleh ibunya ke mucikari, hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:
“ Aku takut miskin. Karena itu aku bekerja. Ibuku takut miskin, tapi enggan berusaha”
“Hingga minta tolong padaku untuk bekerja di kota mengikuti Bu Vina. Sial, ternyata dia mucikari. Aku ketika itu masih berjilbab, aku tidak tahu apa-apa. Aku langsung dijampi-jami dukun agar tampak terlihat lebih cantik dan pelanggan ketagihan. Aku masih belum sadar karena aku awam dan diguna-guna” (Hlm 31)
Selain itu tokoh ini juga digambarkan sebagai tokoh yang kepedeulian sosial terhadap saudara-saudaranya termasuk pada ayahnya terbilang baik, hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagai berikut:
Sejenak semuanya diam. Bapak memecah suasana, “Kamu suka Tania?”
Salman menganguk.
Alhamdulillah,” Bapak mengelus dada
“Bapak minta tolong dengan sangat, dengan sepenuh hati, Bahagiakan Tania. Bahagiakan Anakku ini, dari kecil dia sudah payah, hidupnya selalu susah,” Bapak peluk Tania erat, “Bukan karena miskin, bukan karena tak punya uang tapi dari kecil dia sudah menanggung adik-adiknya. Sudah besar justru dijual.” (Halaman 59)

4. Latar

Latar dalam dalam novel Satu Jodoh Dua Istikharah terdiri dari tiga bagian yaitu latar waktu, latar tempat dan  dan latar sosial.

Latar waktu kejadian kisah dalam novel ini tidak disajikan secara jelas, sehingga didalamnya tidak memuat unsur tangggal dan tahun, hanya saja dari alur cerita yang dimainkan novel ini memunyai latar kehidupan orang moderen sehingga dengan demikian latar waktu yang dimaksudkan pengarang adalah pada abad ke 21 atau tahun 2000 lebih. Hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagimana berikut:

Ini hari Rabu, hari yang unik bagi Salman atau terkadang hari Kamis. Yang terpenting ditengah pekan” (Hlm7)

“Ting…” Suara dering pesan hp terdengar sesaat setelah Salman duduk di mobil Honda Jazz. Pertanda wanita yang dipesan juga sedang berangkat. (Hlm 15)

Petikan novel tersebut memberikan jawaban bahwa latar waktu yang ditampilkan dalam novel tersebut tidak menyertakan unsure tahun hanya saja dari pemakian hp dan mobil Honda Jaz jelas latar waktu yang dimaksudkan dalam novel ini adalah tahun 2000 an keatas mengingat Honda Jaz pertama kali dipasarkan pada tahun 2001 adapun generasi Honda Jazz ke 3 diproduksi pada tahun 2008-2014.

Latar tempat dalam novel ini mengambil tempat di Surabaya Ibu Kota Jawa Timur, kisah yang dimainkan adalah kisah hidup kaum perkotaan. Hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagimana berikut:

Langit Surabaya mulai gelap, menghitam pekat, hujan akan turun di awal malam. Angin begitu kencang, jalanan padat, suara klakson mobil bersahutan, hotel yang dituju kali ini dekat kantor surat kabar besar Indonesia, Jawa Pos ( Hlm 15)

Latar sosial kehidupan  kelas menengah ke atas keluarga keturunan Arab di kota Metropolitan Surabaya.  Hal tersebut tergambar dari petikan novel sebagimana berikut:

Di Surabaya keturunan Arab dan Tionghoa mudah ditemui. Mereka ramai memenuhi kantor-kantor perdagangan dan took-toko. Orang Arab sangat gemar memegang nilai hidup berjama’ah, bahu membahu antar saudara, menguatkan sesame. Tampilan mereka khas dengan mata sedikit cekung, hidung mancung, dan tinggi melibihi rata-rata orang Jawa. ….

Ada satu keluagra yang membangun kerajaan bisnisnya. Antara marga dan keturunan sudah melebur menjadi satu…Kantor koloni Arab itu sangat luas, satu hektar.

Ia (Salman) memang genarasi terbaik dalam keluarga Hsyim. Anak terakhir dari dua bersaudara. Tatapan matanya sangat Tajam, begitu pula dengan arus pikirannya…..(Hlm 1-3)

5. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam novel Satu Jodoh Dua Istikharah adalah masuk dalam jenis sudut pandang third person limited atau diaan terbatas, sebab pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search