Sultan Nuku, Piawai Mengadu Domba Blanda dan Inggris

- September 07, 2019
Bungfei.com-Salah satu politik yang dimainkan penjajah Eropa dalam rangka menguasai Kerajaan-Kerajaan di Nusantara adalah dengan menggunakan politik adu domba, meskipun demikian bukan berarti bangsa kita tidak ada yang piawai mengadu domba penjajah, ada juga yang piawai, salah satunya adalah Sultan Nuku, Sultan ke 27 dari Kesultanan Tidore Maluku.

Sultan Nuku atau Sultan Muhammad Amiruddin saat kecil dinamai “Kaicil Syaifuddin”, adapun gelar yang disandangnya pada saat menjadi Sultan Tidore adalah Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan” Rakyatnya lebih senang memanggilnya Sultan Nuku atau Jou Barakati, yang mempunyai maksud “Sultan (tuan) yang diberkahi”.

Sultan Nuku merupakan anak dari Sultan Jamaluddin, pada saat ayahnya memerintah (1757–1779) Negerinya Tidore telah dikuasai Belanda sehingga kebijakan Kerajan dikendalikan Belanda. Pada zaman itu Tidore tidak lagi memiliki wibawa dan kemerdekaan.

Pada tahun 1779 Sultan Jamaluddin wafat, Belanda mulanya berniat menghapuskan waris keturunan Jamaluddin untuk menduduki tahta Kesultanan, sehingga Belanda mengangkat seseorang dari luar keturunan raja-raja Tidore untuk menduduki tahta. Sultan Tidore yang bukan dari Keturunan Sultan-Sultan Tidore sebelumnya itu dikenal dengan nama “Patra Alam”.
Kota Tidore Maluku Utara
Patra Alam memerintah Tidore dari Tahun 1779 hingga 1784 dan selama 5 Tahun Rezim Patra Alam, Nuku memilih untuk melakukan perlawanan pada Belanda. Perlawanan Nuku didukung oleh rakyatnya sehingga menyebabkan kerugian besar pada pihak Belanda.

Kapal-Kapal Belanda yang berdagang di kepulauan Maluku selalu diganggu oleh Armada laut yang dibuat Nuku, banyak juga yang ditenggelamkan. Dalam mempersenjatai armada lautnya Nuku bekerja sama dengan pedagang Inggris.

Belanda Mengadu Domba Nuku dan Kamaludin

Merasa kerepotan dengan perlawanan rakyat Tidore yang dipimpin oleh Nuku, Belanda melancarkan taktik adu domba. Belanda membebaskan adik Nuku yang bernama Kamaludin untuk kemudian dijadikakan Sultan di Tidore ke 26, dengan harapan, rakyat yang dahulu marah karena Sultannya diangkat bukan atas dasar waris mereda.

Taktik Belanda tersebut memang berhasil memancing amarah Nuku, namun tidak demikian dengan pengikut Nuku, mereka berjanji akan setia pada Nuku. Kesetiaan pengikut Nuku pada akhirnya membuat Nuku dapat berfikir secara objektif.

Dahulu, sebelum adiknya diangkat menjadi Sultan Tidore, Nuku tidak segan-segan menyerang kepentingan Kesultanan Tidore yang dianggap antek-antek Belanda, namun selepas adiknya diangkat menjadi Sultan,  Nuku merasa bingung, oleh karena itu demi menghilangkan kebingungannya, ia mengirim sepucuk surat kepada adiknya.

Surat itu berisi ajakan kepada adiknya agar sama-sama memerangi Belanda, namun jawaban adiknya rupanya membuatnya kecewa, adiknya malah menyuruhnya untuk menyerahkan diri pada Belanda.

Selepas mengetahui sikap adiknya yang sudah menjadi kaki tangan Belanda, perlawanan Nuku pada Kesultanan Tidore dan Belanda bertambah sengit saja, Nuku membentuk angkatan tempur darat dan memperbanyak armada lautnya sebagai persiapan untuk menaklukan Tidore dan pengusiran terhadap Belanda.

Nuku Mengadu Domba Belanda dan Inggris

Dalam upaya merebut kekuasaan di Kesultanan Tidore dan mengusir Belanda, Nuku meniru taktik Belanda, yaitu menggunakan politik adu domba. Yang di adu domba oleh Nuku adalah Inggris dan Belanda.

Kala itu, di Maluku banyak pedagang Inggris yang berkepentingan di Maluku, mereka mencari rempah-rempah untuk dijual di wilayah jajahan mereka dan Eropa.

Nuku bersama pengikutnya yang sebelumnya mempelajari bahasa Inggris dan diplomasi mengabarkan kepada orang-orang Inggris bahwa Belanda berencana akan memonopoli seluruh perdagangan rempah-rempah di Maluku. Sementara pada pihak Belanda, para pengikut Nuku mengabarkan bahwa Inggris sedang berupaya menggalang kekuatan untuk menguasai Maluku.

Teknik adu domba Nuku rupanya berhasil membuat Belanda dan Inggris bersitegang di Maluku, Armada Inggris dan Belanda saling serang di laut Maluku sehingga menyebabkan kerugian pada kedua belah pihak.

Disisi lain, merasa kegiatan perdagangannya terancam, orang-orang Inggris mempersenjatai Nuku dengan persenjataan canggih dizamannya. Maka selepas itu Armada laut bentukan Nuku tidak lagi dianggap remeh, karena memiliki persenjataan paling mutakhir dizamannya.

Keberhasilan Perjuangan Nuku 

Dengan Armada laut yang solid serta dipersenjatai senjata moderen, Nuku berhasil memporak-porandakan armada laut Belanda di laut  Maluku, sementara di sisi lain Inggris menghalang-halangi armada bantuan Belanda yang didatangkan dari Batavia.

Selain itu, Nuku juga menempatkan Armada lautnya diberbagai kepulauan di Sekitar Maluku dan Papua, serta memasang ranjau-ranjau laut untuk menggangu armada laut Belanda, dari peperangan demi peperangan yang dihadapi, rupanya Belanda menderita banyak kekalahan, oleh karena itu Belanda mengajukan tawaran berunding dengan Nuku dan menawarkan kekuasaan kepadanya jika bersedia berunding dengan adiknya Sultan Kamaluddin.
Jangkauan Kekuasaan Kesultanan Tidore-Ternate
Memahami siasat licik Belanda, Nuku menolak secara tegas, selanjutnya ia semakin menggiatkan serangan pasukannya terhadap pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yang setia terhadap Sultan Kamaluddin.

Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka mampu merebut Ibukota Kesultanan Tidore dan membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate.

Dengan direbutnya Ibu Kota Kesultanan maka rakyat Tidore secara bulat menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi Sultan Tidore. Selepas diangkat menjadi Sultan, Nuku tidak serta merta mengendorkan perjuangannya, ia terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate hingga pada tahun 1801 Ternate dapat dibebaskan dari cengkraman Belanda. Maka Mulai Selepas itu Tidore dan Terntae menjadi wilayah kekuasannya dan dinyatakan terbebas dari penjajahan Belanda.

Penghargaan Pemerintah Pada Sultan Nuku

Sultan Nuku dianggap sebagai Sultan yang mampu membawa kejayaan bangsa-bangsa Nusantara di laut, armada lautnya disegani kawan dan ditakuti lawan, bahkan sekelas Belanda dan Inggrispun fikir-fikir jika berhadapan dengan Armada laut Sultan Nuku.

Dizaman Sultan Nuku berkuasa, wilayah Kesultanan Tidore-Ternate membentang luas mencakup kepulauan Maluku utara dan selatan hingga Papua Barat. Kejayaan Tidore dari penjajahan Belanda dapat dipertahankan oleh Sultan Nuku hingga kewafatannya pada tahun 1805 di usia yang ke 67 Tahun.

Melalui Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1995, tanggal 7 Agustus 1995 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Sultan Nuku sebagai " Pahlawan Nasional Indonesia" karena jasa-jasa kepahlawannya sangat membanggakan bagi bangsa dan negara. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search