Pembantaian Etnis Cina Pada Pristiwa Mangkuk Merah 1967

- September 06, 2019
Bungfei.com-Sebagai suku asli pulau Kalimantan, Suku Dayak tercatat pernah beberapa kali bersitegang dengan etnis pendatang, jika pada Tahun 1997-2001 Suku Dayak terlibat konflik dengan Suku Madura, maka pada tahun 1967 suku Dayak berkonflik dengan etnis Cina. Konflik itu kemudian berubah menjadi pengusiran dan pembantaian, dalam sejarah peristiwa itu dikenal dengan nama “peristiwa mangkuk merah”.

Pada tahun 1967 para ketua Suku Dayak seluruh wilayah Kalimantan barat berkumpul dalam meja perundingan, mereka menggelar adat mangkuk merah, yaitu suatu adat untuk menyatukan seluruh orang Dayak dalam menghadapi orang-orang dari etinis Cina di Kalimantan, maka mulai selepas itu meletuslah konflik berdarah antara Dayak Vs etnis Cina.

Pristiwa mangkuk merah tidak kalah mengerikannya dengan peristiwa peprangan antara suku Dayak Vs Madura, sebab dalam tragedi tersebut setidak-tidaknya 6000 etnis Cina terbunuh.

Asal-Usul Pristiwa Mangkuk Merah

Pristiwa mangkuk merah dipicu oleh pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Cina pada salah satu tokoh Suku Dayak, pembunuhnya berasal dari organisasi PGRS (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak) dan PARAKU (Pasukan Rakyat Kalimantan Utara), organisasi tersebut pada mulanya didirikan oleh orang-orang Cina Sarawak dan Kalimantan Utara yang berhaluan komunis dalam rangka menentang digabungkannya Sarawak dengan Malaysia.

Pada masa pemerintahan Soekarno, yaitu antara Tahun 1963 hingga 1965, Indonesia melancarkan aksi Ganyang Malaysia karena menanggap Malaysia merupakan negara boneka bentukan Inggris, orang-orang Cina dari Sarawak dan Kalimantan Utara pada masa itu hijrah ke Kalimantan barat guna dilatih perang oleh Indonesia untuk memberontak pada Inggris dan menggagalkan pembentukan Negara Malaysia. Akan tetapi selepas lengsernya Soekarno pada 12 Maret 1966 politik di Indonesia rupanya berubah.

Soeharto yang pro barat dan anti Komunis akhirnya memutuskan segala permusuhan dengan Inggris serta memutuskan untuk tidak lagi ikut campur dengan perjungan orang-orang Sarawak dan Kalimantan Utara yang hendak menghalang-halangi bergabungnya Sarawak dengan Malaysia.

Kekecewaan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara inilah yang kemudian menimbulkan Konflik, mereka kemudian menjadi pemberontak di Kalimantan, menentang pemerintahan Soeharto yang pro barat.

Pemberontakan PGRS dan PRAKU menyebabkan meletusnya bentrokan antara mereka dan TNI. Adapun asal-usul pemantik peristiwa mangkuk merah adalah isu terbunuhnya Camat Ledo oleh PGRS dan PRAKU. Camat Ledo dikisahkan sebagai orang Dayak Asli ia terbunuh karena dihujani peluru oleh PGRS dan PRAKU ketika menumpang mobil TNI.

Isu pembunuhan tersebut kemudian memantik amarah orang Dayak pada orang-orang Cina, meskipun yang melakukan pembunuhan Camat Ledo adalah oknum orang-orang Cina dari PGRS dan PARAKU akan tetapi imbas dari kemarahan orang Dayak rupanya ditanggung oleh seluruh orang Cina yang ada di Kalimantan Barat, karena selepas tersiar kabar mengenai terbunuhnya camat Ledo orang Dayak menggelar adat mangkuk merah.

Jalanya Pengusiran dan Pembantaian

Selepas tersiarnya kabar terbunuhnya Camat Ledo oleh orang-orang Cina PGRS dan PARAKU, maka dari mulai Bulan September hingga Desember 1967 orang-orang Dayak yang sebelumnya diikat dengan sumpah untuk memerangi orang-orang Cina dalam dalam gelaran adat mangkuk merah, mulai beraksi.

Mereka mendatangi perkampungan-perkampuan Cina di Pedalaman Kalimantan untuk kemudian memeranginya, perang antar keduanyapun kemudian meletus, namun karena kalah banyak dan persiapan, orang-orang Cina kemudian menjadi bulan-bulanan penganiyayaan, mereka dibantai dan terusir dari kampung halamannya.

Peristiwa pembunuhan etnis Cina oleh orang-orang Dayak di Pedalaman Kalimantan Barat menyebabkan masyarakat Cina yang ada di pedalaman mengungsi ke beberapa kota yang terletak di daerah pesisir. Salah satunya ke Kota Singkawang.

Unsur Polits Dibalik Tragedi Mangkuk Merah 1967

Berlalunya waktu, banyak orang yang beranggapan bahwa Tragedi Mangkuk Merah adalah tragedi berdarah yang sengaja diciptakan pemerintah. Sebab katanya selepas digulingkannya Soekarno kebijakan Politik Indonesai berubah, dari yang dahulu pro Komunis menjadi kontra terhadap Komunis.

Untuk menyingkirkan orang-orang komunis dari Kalimantan, terutama menyingkirkakn milisi Komunis dari organiasi PGRS dan PARAKU, pemerintah harus memishkan penduduk etnis Cina dengan aktifis PGRS dan PARAKU, sebab orang-orang Cina di pedalaman pada perkembanganya turut memasok kebutuhan perjuangan orang-orang PGRS dan PARAKU.

Oleh sebab itu,  pemerintah membuat konspirasi berita bohong seputar terbunuhnya beberapa tokoh Dayak oleh orang-orang Cina PGRS dan PARAKU. Rencana tersebut berhasil  hingga akhirnya orang-orang Cina di Pedalaman mengungsi ke kota-kota karena takut dengan serangan dari orang-orang Dayak.

Dengan berpindahnya seluruh orang-orang  Cina dari pedalaman menuju kota, maka pemerintah dapat dengan mudah memutus hubungan mereka dengan grilyawan PGRS dan PARAKU, sehingga pada akhirnya upaya pemerintah untuk menghancurkan PGRS dan PARAKU menjadi lebih mudah.

Adapun seputar terbunuhnya Camat Ledo oleh orang-orang Cina PGRS dan PARAKU ternyata dikemudian hari kabar tersebut terbukti tidak benar. Hal tersebut diungkapkan sendiri oleh Libertus Ahie anak dari Camat Ledo yang menyatakan;

“Saya pulang libur bersama adik saya dijemput oleh bapak saya. Sampai di Bengkayang kami ditawari untuk ikut mobil tentara kujang yang sedang melakukan pertukaran dengan RPKAD. Kira-kira 4 kilometer dari Ledo kami dicegat oleh PGRSParaku. 7 tentara kujang gugur. Saya sendiri kena peluru di kaki. Adik saya terkena tembakan dikeningnya. Saat itu bapak saya sebagai Camat Ledo. Orang Dayak marah, mereka tidak terima dikira bapak saya meninggal. Lalu terjadilah mangkok merah” (Wawancara dengan I. Libertus Ahie pada tanggal 15 Januari 2009 Dikutip Dari Jurnal Superman, 2017).


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search