Maung Panjalu Simbol Persudaraan Majapahit dan Sunda

- Agustus 28, 2019
Bungfei.com-Hubungan Sunda dan Majapahit tidak selalu dikisahkan tak harmonis saja, ada juga kisah yang harmonis. Jika pada masa Hayam Wuruk pinangan Raja Majapahit pada putri kerajaan Sunda (Dyah Pitaloka) berakhir dengan perang Bubat, maka pada saat Majapahit diperintah oleh Brawijaya rupanya yang terjadi sebaliknya, pinangan Raja Majapahit  pada putri Kerajaan Sunda (Kencana Larang) rupanya berjalan mulus bahkan perkawinan keduanya melahirkan dua anak kembar, keduanya kelak dikenal dengan sebutan Maung Panjalu

Maung dalam bahasa Sunda bermaksud harimau, binatang ini dalam tradisi masyarakat Sunda dijadikan simbol ketangguhan sebuah negara, maka tidaklah mengherankan Kerajaan-Kerajaan di Pasundan seperti Cirebon dan Pajajaran menggunakan Harimau sebagai lambang kebesaran kerajannya. Kedudukan harimau dalam masyarakat Sunda agaknya setara dengan kedudukan Garuda bagi bangsa Indonesia.

Hikayat Maung Panjalu tumbuh dalam legenda masyarakat Panjalu dikisahkan turun temurun dari generasi ke generasi. Kisah ini juga tertulis dalam Buku Sejarah Panjalu yang disusun oleh Cakradinata (2007, hlm 48)

Kisah bermula dari kesadaran Brawijaya mengenai betapa pentingnya persaudaraan, Brawijaya menghendaki permusuhan dengan Sunda yang pecah pada saat perang Buabat dizaman nenek moyangnya segera dihapuskan. Oleh karena itu Brawijaya mengutus Patihnya untuk mengirimkan lamaran pada putri kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) sebagai bentuk ajakan perdamaian dan persaudaraan.

Pinangan Brawijaya rupanya diterima oleh pihak Sunda, sehingga ketika waktunya tiba iring-iringan Raja Majapahit beserta Wadya Balanya mendatangi Pajajaran untuk menggelar prosesi pernikahan sebelum akhirnya Brawijaya memboyong Putri Kencana Larang ke Majapahit.

Berlalunya waktu, Ketika Putri Kencana Larang mengandung 7 Bulan, ada rasa kengen pada Ibu dan bapaknya, ia ingin pada saat melahirkan anak pertamanya disaksikan oleh kedua orang tuanya, iapun meminta izin pada suaminya agar diizinkan untuk melahirkan di Pajajaran. Kepergian Kencana larang ke Pajajaran diringi oleh Prajurit-Prajurit pilih tanding serta dayang-dayang Istana.

Setelah berminggu, dan berbulan-bulan menyusuri jalan, menyebrang sungai memotong gunung dan bukit demi sampai ke Pajajaran, Kencana Larang merasakan sakit yang begitu dahsyat, ia melahirkan anaknya di Kaki Gunung Sawal, wailayah yang dahulu masuk wilayah Panjalu dibawah kekuasaan Pajajaran.

Anak yang lahir rupanya kembar, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki kemudian dinamai “Bongbang Larang” sementara yang perempuan dinamai “Bongbang Kencana”. Dengan terjadinya peristiwa itu, Kencana Larang merasa cita-citanya gagal, sebab ia melahirkan anaknya tanpa diketahui ayah dan bundanya, meskipun begitu ia tetap melanjutkan perjalanan ke Pusat Kerajaan Pajajaran.

Di Pajajaran, Kencana Larang tinggal bersama  kedua anak dan orang tuanya, berlalunya waktu usia kedua anaknya menginjak remaja, sementara disisi lain Brawijaya sedang mengalami tekanan politik di Majapahit akibat pemberontakan sehingga tidak memungkinkan untuk menjemput istrinya di Pajajaran.

Ikatan batin antara kedua anak Kencana Larang dan Brawijaya rupanya pecah juga, ketika Bombang Larang dan Bombang Kencana nekad untuk pergi ke Majapahit menjumpai ayahnya yang belum sama sekali mereka lihat.

Tangis kemudian pecah selepas Bombang Larang dan Bombang Kencana bertemu dengan ayahnya, keduanya menceritkan prihal kelahirannya di Panjalu kepada ayahanya, kerinduan bertaun-tahun yang ditahan-tahan akhirnya pecah juga, maka mulai selepas itu,  Brawijaya menganugerahi keduanya dengan sebuatan Maung Panjalu yang maksudnya Sepasang Harimau yang menjadi lambang persaudaraan Sunda dan Majapahit yang lahir di Panjalu. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search