Ekspedisi Pamalayu dan Keteledoran Raja Kertanegara

- Agustus 26, 2019
Mpu Ratangga adalah orang yang mengingatkan bahaya yang mengancam Singasari apabila Raja Kertanegara bersikukuh melakukan ekspedisi Pamalayu. Tapi nasehat Mpu Ratangga itu rupanya tidak ditanggapi Kertanegara, keteledoran Raja yang gemar mabuk-mabukan itu pada akhirnya menutup riwayat Kerajaan Singasari yang baru saja mengecap kemenangan dalam Ekspedisi Pamalayu.

Pamalyu dalam bahasa Jawa bermaksud serbuan atau invasi ke Kerajaan Melayu (Damasraya/Sumatra). Kerajaan Singasari melakukan serbuan ke Melayu dimulai pada Tahun 1275, iring-iringan tentara Singasari yang berjumlah besar itu diberangkatkan secara serempak melalui Pelabuhan Tuban, sementara yang menjadi panglima perang utamanya adalah Kebo Anabrang. Adapun seremonial pelepasan tenatara Singasari dalam ekspedisi Pamalayu sendiri dihadiri oleh Mahisa Anengah Panji Anggragani.

Ekspedisi Pamalyu sebenarnya upaya terpaksa dari Raja Kertanegara karena Raja-Raja Melayu di Pulau Sumatra cenderung memilih mengirimkan Upeti tanda takluk pada Kekaisaran Mongol (Dinasti Yuan-China) ketimbang mencari-cari masalah dengan cara bergabung secara damai dengan Singasari untuk membendung ekspansi Kekaisaran Mongol yang kala itu sedang agresif-agresifnya.

Raja Kertanegara yang tidak mau bangsa-bangsa Nusantara diinjak-injak harga dirinya oleh Bangsa Mongol melakukan gerakan yang tidak terduga-duga. Mengirimkan puluhan ribu pasukannya untuk menaklukan negeri-negeri Melayu sekaligus meyakinkan mereka bahwa kekuatan Singasari setara dengan Mongol.

Eksepedisi Pamalyu lumayan alot sebab ekspedisi tersebut baru berhasil selepas memakan waktu 11 tahun (1275-1286), Bhumi Melayu dapat ditaklukan tepat pada tahun 1286. Meskipun demikian karena ekspedisi ini niatan utamanya adalah untuk membangun kekuatan bersama guna membendung Mongol, maka selepas ditaklukan, Kerajaan Melayu dirangkul kembali, terbukti dengan adanya pengiriman Arca Amoghapasa oleh Raja Kertanegara pada Raja Melayu sebagai tanda persahabatan yang dikirim pada 1286. Tanda persahabatan Singasari itu kemudian dibalas Kerajaan Melayu dengan pengiriman dua putri Raja Melayu yaitu Dara Petak dan Dara Jingga sebagai tanda takluk pada Singasari.

Dalam rangka membendung kekuatan Mongol, selain melakukan ekspedisi Pamalyu, Singasari juga rupanya melakukan ekspedisi sejenis, yaitu dengan cara menaklukan Gurun, Pahang, Bakulapura dan Bali, negeri-negeri itu takluk pada tahun 1284.

Monggol Merasa Ditantang 

Wilayah Nusantara yang sudah dikendalikan Singasari membuat murka Kubilai Khan, sebab baik Kerajaan-Kerajaan yang ada  di Sumatra maupun yang berada di Semenanjung Melayu tidak mau lagi membayar Upeti kepada Mongol karena merasa sudah dibawah perlindungan Singasari.

Peristiwa itulah yang kemudian memaksa Khubilai Khan mengirimkan utusan untuk menyampaikan surat ancaman. Pendek kata Singasari dalam surat itu diancam agar tunduk dibawah Mongol serta mengirimkan Upeti pada Mongol sebagai tanda takluk. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1289.

Ancaman Mongol pada Singasari rupanya tidak membuat gentar Kertanegara, Sang Raja justru berbalik menantang perang, caranya dengan menggores dan memotong telinga utusan Monggol dengan menggunakan sebilah keris.

Keteledoran Kertanegara

Tantangan perang yang diproklamirkan Raja Kertanegara pada Kubilai Khan pada 1289, menyebabkan Singasari bersiap siaga dari kemungkinan serbuan Mongol. Raja Kertanegara menempatkan banyak pasukan tempurnya di luar wilayah inti kerajaan. Sehingga pertahanan dalam negeri cenderung tidak rapat. Hal itulah yang kemudian membuat Mpu Ratangga merasa khawatir pada keselamatan kerajaan.

Mpu Ratangga menghendaki setengah kekuatan Singasari ditempatkan di sekitaran Ibu Kota Kerajaan sementara setengahnya lagi di luar Negeri. Setengah untuk menghalau kemungkinan serbuan monggol, sementara setengahnya lagi untuk menghadapi kemungkinan pemberontakan Jaya Katwang.

Nasehat Mpu Ratangga rupanya ditolak, Kertanegara beranggapan Jaya Katwang tidak mungkin brontak sebab selain sebagai besannya, Jaya Katwang dianggap sudah terlalu banyak mendapatkan anugrah dari Singasari sehingga tidak mungkin memberontak. Pada perkembangannya, nasehat Mpu Ratangga yang tak digubris Kertanegara menjadi Bumerang bagi Singasari, sebab Jaya Katwang ternyata benar-benar memberontak.

Tahun 1292 dengan puluhan ribu bala tentara yang menggengam bendera merah putih sebagai panji-panji perangnya, Jaya Katwang berhasil menaklukan Singasari, Istana dapat direbut sementara Raja Kertanegara sendiri tewas mengenaskan.

Pada Tahun 1293 ketika pasukan Mongol menyusuri Nusantara untuk menerima tantangan Singasari, kondisi Nusantara sudah berubah, dalam perjalanan menuju ke Pulau Jawa tidak ada halauan dari Singasari pada kapal-kapal Mongol, sehingga tentara Mongol mendarat mulus di Jawa. Selepas mendarat orang-orang Mongol rupanya baru tahu bahwa Singasari telah runtuh setahun sebelumnya.

Baca Juga: Bendera Merah Putih Dalam Genggaman Jaya Katwang


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search