Gaya Belajar Menurut Para Ahli

- Maret 18, 2019
Bungfei.com-Menurut Ghufron dan Risnawati (2012: 42), gaya belajar merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan mengenai bagaimana individu belajar atau cara yang ditempuh oleh masing-masing orang untuk berkonsentrasi pada proses, dan menguasai informasi yang sulit dan baru melalui persepsi yang berbeda.

Gaya bersifat individual bagi setiap orang, dan untuk membedakan orang yang satu dengan orang lain. Dengan demikian, secara umum gaya belajar diasumsikan mengacu kepada kepribadian-kepribadian, kepercayaan-kepercayaan, pilihan-pilihan dan perilaku-perilaku yang digunakan oleh individu untuk membantu dalam belajar mereka dalam suatu situasi yang telah dikondisikan.

Termasuk apabila mereka bersekolah disekolah yang sama atau duduk dikelas yang sama”. Berdasarkan Sukadi, bahwa “gaya belajar yaitu kombinasi antara cara seseorang dalam menyerap pengetahuan dan cara mengatur serta mengolah  informasi atau pengetahuan yang didapat.”

Sedangkan menurut S. Nasution, “gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal.”

Menurut DePorter & Hernacki ( 2003: 112 ), bahwa pada awal pengalaman belajar, salah satu diantara langkah-langkah pertama adalah mengenali modalitas seseorang sebagai modalitas gaya belajar Visual, gaya belajar Auditorial dan gaya belajar kinestetik.

Seperti yang diusulkan istilah-istilah ini, orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka denga, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan.“gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari  bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.”Seluruh definisi gaya belajar di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara yang satu dengan yang lainnya. Definisi-definisi gaya belajar tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi.

Disebutkan oleh Ghufron dan Risnawati ( 2012: 138 ) tentang pentingnya setiap individu mengetahui gaya belajar masing-masing adalah meningkatkan kesadaran kita tentang aktivitas belajar mana yang cocok atau tidak cocok dengan gaya belajar kita, membantu menentukan pilihan yang tepat dari sekian banyak aktivitas, menghindarkan kita dari pengalaman belajar yang tidak tepat, dapat melakukan improvisasi bagi individu dengan kemampuan belajar efektif yang kurang, dan membantu individu untuk merencanakan tujuan dari belajarnya, serta menganalisis tingkat keberhasilan seseorang.

Kolb (1984) mengklasifikasikan gaya belajar (learning style) siswa kedalam 4 preferensi utama, yaitu Concrete Experience (CE), Reflective Observation (RO), Abstract Conceptualisation (AC), dan Active Experimentation (AE). Berdasar teori pengalaman belajar (experiential learning theory). Kolb (1971) mengidentifikasi empat fase dalam proses belajar, yaitu:

(a) Experiencing: belajar dari pengalaman sendiri (mengalami). Subyek belajar akan menjadi sensitif, karena ia telah merasakan sesuatu pengalaman (feeling). Sehingga ia tertarik pada manusia atau orang lain.

(b) Reflecting: memberikan alasan, atau per- timbangan, mengambil perspektif berbeda, mencari makna dibalik fakta yang diamati.

(c) Thinking: setelah memahami beberapa konsep dalam benaknya, ia mulai mencoba meng- hubungkan, menganalisis ide secara logis, bahkan melakukan perencanaan secara sistematik, dan penggunaan konsep

(d) Acting atau doing: berdasar pemahaman tentang adanya kaitan antara beberapa konsep tertentu, dalam hal ini subyek belajar telah mampu menunjukan kecenderungan untuk bertindak, berani mengambil resiko atas dasar pengetahuan, dan mulai berani mempengaruhi orang lain.

Keempat preferensi tersebut dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

(1) Concrete Experience (CE). Siswa belajar melalui perasaan (feeling), dengan menekankan segi- segi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru, siswa cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapi

(2) Abstract Conceptualisation (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis

(3) Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching), penekanan mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini atau pendapat, siswa mengobservasi dan merefleksi pengalamannya dari berbagai segi

(4) Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu, yang diklasifikasikannya dalam 4 tipe:

(1) Diverger, yaitu perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Reflective Observation (RO),

(2) Assimilator, yaitu perpaduan antara Abstract Conceptualisation (AC) dan Reflective Observation (RO),

(3) Converger, yaitu perpaduan antara Abstract Concep- tualisation (AC) dan Reflective Observation (RO), dan

(4) Accomodator, yaitu perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Active Experimentation (AE). Sehingga dalam pene- litian ini yang dimaksud Gaya Belajar, adalah klasifikasi kecenderungan cara mengolah dan merespons informasi dalam kegiatan belajar, yaitu tipe experiencing (feeling), thinking, watching dan acting (doing), yang diukur de- ngan Instrumen Gaya Belajar.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka dapatlah dimengerti bahwa gaya belajar yaitu suatu cara pandangan pribadi terhadap peristiwa yang dilihat dan di alami. Oleh karena itulah pemahaman, pemikiran, dan pandangan seorang anak dengan anak yang lain dapat berbeda, walaupun kedua anak tersebut tumbuh pada kondisi dan lingkungan yang sama, serta mendapat perlakuan yang sama.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search