Murji’ah Aliran Islam Garis Tengah

- Januari 08, 2019
MURJI’AH- Secara bahasa Murji’ah berasal dari kata kerja-raja’ yang artinya menunda, menangguhkan, atau mengakhirkan. Murji’ah lahir pada abad ke I Hijriyah. Kelahiran aliran ini tidak terlepas dari realitas ideologi dan politik yang berkembang dan berkecamuk saat itu. Adapun pimpinan dari aliran Islam Murji’ah ini adalah Hasan bin Bilal.

Sementara itu ditinjau dari segi kemunculannya, Murji’ah layak dikatakan sebagai aliran Islam garis tengah dizamannya, dikatakan demikian karena aliran ini muncul sebagai akibat dari arogansi aliran Khawarij dan Syiah.

Waktu itu Khawarij mengkafirkan Ali dan Muawiyah, sementara Syiah sendiri mengkafirkan Khawarij karena berani mengkafirkan Ali. Ketika umat dalam keadaaan semacam inilah kemudian muncul faham keislaman yang kemudian disebut Murji’ah. Faham ini menolak konsep pengkafiran yang dilakukan oleh Khawarij dan Syiah.

Oleh karena itu, motif dari kelahiran Murji’ah patut diacungi jempol, sebab aliran ini cenderung moderat di antara dua aliran Syiah dan Khawarij. Sebab ketika situasi yang gawat Murji’ah menjauhkan diri dari pertikaian, yang tidak mau ikut menyalahkan orang lain, tidak ikut-ikut menghukum kafir atau menghukum salah, tidak mau mencampuri persoalan, seolah-olah mereka pangku tangan saja, sebab bagi kelompok ini segala sesuatunya sudah ketentuan Allah.
Ilustrasi
Pandangan Murji’ah terhadap konsep pengkafiran yang berbeda dengan konsep Khawarij dan Syiah ini pada kemudiannya menghasilkan teologi baru, tentang kafir dan pengkafiran, bagi aliran ini, iman adalah pengetahuan dan pengakuan kepada Allah, Rasul-Nya dan semua yang datang dari Allah.

Pernyataan bahwa iman adalah pengetahuan dan pengakuan merupakan manifestasi dasar keyakinan Murji’ah yang merasa tidak puas dengan pandangan bahwa iman adalah sesuatu yang bersifat lahiriah.

Murji’ah ingin menegaskan bahwa iman adalah sesuatu yang terletak dalam hati manusia, suatu peristiwa rohaniah yang terjadi sangat dalam di dalam jiwa. Karena itu dalam pandangan Murji’ah, perbuatan merupakan sesuatu yang sekunder dalam hal keimanan.

Mengenai keimanan, keislaman, dan kekafiran seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh perbuatannya. Asalkan hatinya mengucapkan keimanan kepada Allah maka ia tidak kafir, seburuk apapun perbuatan yang ia lakukan di dunia, oleh aliran Murji’ah tidak dianggap dosa besar, apalagi kafir. Kedudukan ia ditangguhkan sampai nanti di akhirat, sebab hanya Allah yang tahu secara pasti kebenaran seseorang.

Menurut Murji’ah bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir tetapi tetap Islam. Sedang dosa besarnya ditunda dan diserahkan pada putusan Allah kelak di akhirat. Jika ia diampuni, masuk surga dan jika tidak, maka ia masuk neraka, sekalipun pada berikutnya juga masuk surga.

Pada perkembangan selanjutnya Murji’ah tepecah menjadi beberapa sekte. Mengutip pendapat Jamali Sahrodi, sekte-sekte itu di antaranya Yunusiyah pimpinan Yunus as-Samiri, Ghasaniyah pimpinan Ghasan al-Kufi, Ubaidiyah pimpinan Ubaid al-Mikdad. Saubaniyah pimpinan Abu Sauban al-Murji’i, dan seterusnya.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search