Beberapa Teknik Melengserkan Gusdur dalam Buku: Menjerat Gus Dur

Gus Dur atau K.H Abdurahman Wahid adalah Presiden ke empat Indonesia yang turun dari jabatannya akibat dilengserkan oleh lawan-lawan politiknya. Meskipun begitu pada mula-mula dilengserkan, tidak ada yang tau pasti kenapa Gus Dur dilengserkan, hanya saja 18 Tahun selepas lengser, alasan pasti mengapa Gus Dur dilengserkan oleh lawan politiknya mulai terkuak, ketika Virdika Rizky seorang Reporter Majalah Gatra menemukan dokumen penjatuhan Gus Dur di tempat sampah Kantor DPP Partai Golkar pada  Oktober 2017. Saat itu, Virdika Rizky  sedang meliput satu tahun perkembangan renovasi kantor Golkar yang dihadiri Setya Novanto.

Dokumen penjatuhan Gus Dur yang ditemukan sontak mengagetkan Virdika Rizky, karena didalamnya berisi rincian dan teknik-teknik melengserkan Gus Dur dari tampuk kekuasannya sebagai Presiden, bahkan bukan itu saja tokoh-tokoh yang terlibat dalam upaya penjatuhan Gus Dur nama dan serta fungsinya gambalang terpampang.

Dokumen penjatuhan Gus Dur yang ditemukan membuat Virdika Rizky tertantang untuk melakukan analisis kevalidan data dengan melakukan observasi dan wawancara kepada tokoh-tokoh yang terlibat dalam upaya pelengserkan Gus Dur, salah satu tokoh yang dikonfirmasi adalah Amin Rais. Pada akhirnya ketika Virdika Rizky merasa dokumen yang ada ditangannya valid, iapun memberanikan diri  membuat buku dengan berdasarkan data primer “Dokumen Penjatuhan Gus Dur” yang ia temukan, buku itu kelak diberi judul “ Menjerat Gus Dur”.

Muatan teknik-teknik melengserkan Gusdur dalam buku Menjerat Gus Dur tergambar dalam ringkasan tulisan Virdika Rizky yang bertiti mangsa Minggu, 29 Desember 2019, yang mana didalamnya menyebutkan bahwa:

Sebagai presiden di masa transisi, Gus Dur memiliki tugas yang amat berat. Ia harus memenuhi tuntutan reformasi yang ingin diadakannya penuntutan dan pembersihan rezim lama. Celakanya, anasir Orde Baru begitu menggurita di segala sendi kehidupan.

Dengan kata lain, kekuatan Orde Baru masih teramat kuat. Sedangkan, konsolidasi kekuatan baru belum mencapai titik temu. Akibatnya, posisi Gus Dur menjadi sulit, karena Gus Dur tak memiliki modal politik yang cukup kuat. Gus Dur terpilih karena adanya koalisi Poros Tengah yang digagas Amien Rais dan Partai Golkar.

Kenapa mereka mendukung Gus Dur? Mereka berpikir akan dengan mudah menyetir Gus Dur. Poros Tengah punya kepentingan membawa semangat sektarian Islam, yang sebagian faksi kecewa dengan dicopotnya Habibie sebagai presiden. Sebab, Habibie dianggap sebagai representasi Islam karena keterlibatannya sebagai Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Sedangkan Partai Golkar mendukung Gus Dur karena tak punya pilihan lain. Dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), mereka punya perselisihan sejarah yang terjadi selama Soeharto berkuasa. Jika maju sendiri mencalonkan diri sebagai presiden, Golkar tak berani karena elemen reformasi ingin membubarkan Golkar. Maka, dengan hanya mendukung Gus Dur, mereka berharap.

Namun pada kenyataannya, jauh panggang dari api. Gus Dur tak bisa diajak kompromi. Di awal penyusunan kabinet, misalnya, Amien Rais meminta Menteri Keuangan harus dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan orangnya adalah Fuad Bawazier. Akan tetapi, Gus Dur menolaknya.

Titik kulminasi kegeraman partai koalisi saat Jusuf Kalla (JK) dan Laksamana Sukardi dipecat. Keduanya dituduh melakukan Korupsi Kolisi dan Nepotisme (KKN), tapi Gus Dur menolak merinci pernyataannya. Isu ini direspons cepat oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Semua kekuatan yang dulu sempat berselisih menjadi satu; Golkar dan PDIP.

Dalam dokumen yang ditemukan, terdapat notulensi  rapat di rumah Arifin Panigoro pada 22 Juni 2000 yang ditulis oleh Priyo Budi Santoso kepada Akbar Tandjung. Priyo mengakui 70-80 persen di dalam catatan itu adalah idenya, tapi menolak mengakui bahwa ia yang menulis.

Fakhruddin, Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mengakui ada beberapa pertemuan rapat penjatuhan Gus Dur di rumah Arifin Panigoro dan Fakhruddin pun terlibat dalam beberapa rapat. Noviantika Nasution, Bendahara PDIP pun mengakui ada banyak rapat dan ia mengaku tahu rapat yang terjadi di rumah Arifin.

Golkar memainkan peran sentral, karena bukan hanya jumlah kursi di DPR yang sangat besar, melainkan juga koneksi ke jejaring mahasiswa. Sebab, dalam sejarah pelengseran kekuasaan dibutuhkan kekuatan parlementer dan ekstra parlementer.

Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Golkar merupakan aktivis senior HMI yang memiliki pengaruh kuat. Sedangkan, Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) adalah Fuad Bawazier. Koneksi eks-Orde Baru dan HMI memiliki peran penting dalam rencana dan strategi penjatuhan Gus Dur.

Hal itu diakui oleh M. Fakhruddin, menurutnya isu yang diusung beragam. Mulai dari Gus Dur tak berpihak kepada kelompok Islam dan isu Buloggate serta Bruneigate. Akan tetapi, dua isu  terakhir merupakan senjata paling ampuh.

Moral Gus Dur sebagai seorang Presiden dan Kiai yang dianggap sakral di Indonesia melakukan tindakan korupsi, disaat ia ingin melakukan pembersihan korupsi yang melibatkan kelompok lama.

Publik dibuat menjadi tidak percaya oleh Gus Dur, orang yang memainkan peran untuk melakukan demoralisasi kepada Gus Dur, berdasarkan dokumen tersebut adalah Amien Rais. Pada Oktober 2000, Amien merupakan orang pertama yang menyatakan bahwa dirinya menyesal telah mendukung Gus Dur dan ingin Gus Dur mundur.

Bukannya takut, Gus Dur justru malah tertantang melanjutkan “duel” ini. Mantan Ketua Kelompok Kerja Forum Demokrasi ini justru ingin langsung mengadili kekuatan eks-Orde Baru. Tak tangggung-tanggung, Gus Dur tak hanya menyeret kroni Soeharto seperti Ginanjar Kartasismita ke pengadilan, tapi juga mengadili Soeharto dan juga anaknya: Tutut dan Tommy.

Reaksi semakin besar, akibatnya tak hanya politikus sipil yang marah, tapi juga militer. Sebab, Gus Dur ingin melakukan reformasi di bidang militer yang masih sangat Orde Baru. Hal yang mengerikan dalam dokumen rencana militer untuk menjatuhkan Gus Dur termaktub dalam buku biografi Djaja Suparman.

Di buku itu ia memang menolak mentah-mentah, tetapi ketika rencana dan peristiwa yang terjadi pada saat itu sangat cocok. Salah satunya adalah melakukan pemboman di beberapa tempat seperti di Kedubes Malaysia, Filipina, Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan yang paling besar adalah Bom Natal 2000. Semua ditujukan agar masyarakat menganggap Gus Dur tak bisa menjaga keamanan negara.

Dengan akumulasi perlawanan ini, Gus Dur dipaksa harus menyerah. Sayangnya Gus Dur tak menyerah, ia justru membuat dekrit sebagai upaya perlawanan terakhirnya, yang sebenarnya saya yakin ia sudah tahu akan kalah. Poin dekrit kontroversi adalah pembubaran parlemen. Pembaca dekrit tersebut, Yahya Staquf meyakini bahwa poin pembubaran parlemen merupakan ide Gus Dur sendiri. Meski teman-teman Gus Dur di Forum Demokrasi yang dituduh sebagai pembisik menolak poin tersebut.

Baca Juga: Amin Rais: Antara Turun Gunung dan Glandangan Politik

Daftar Bacaan:
[1] Dok: Buku: Menjerat Gusdur Oligarki yang Tak Pernah Usai
[2] Kisah Penemuan Dokumen Penjatuhan Gus Dur dan Bahaya yang Mengancam. alif.ID

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel