Sri Suhita Raja Perempuan Majapahit Terakhir

- Maret 13, 2020
Suksesi kepemimpinan di Majapahit tidak serta merta madeg ketika Raja tidak mempunyai seorang putra untuk dijadikan penggantinya. Putri seorang Rajapun dapat menjadi kepala negara apabila ia memang seorang anak Raja dari Permaisurinya. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa sejak dahulu orang Jawa memandang antara perempuan dan laki-laki  sederajat.

Sri Suhita atau dalam naskah sastra disebut juga sebagai ratu Kencana Wungu adalah raja perempuan Majapahit. Raja perempuan kedua dan terakhir yang pernah memerintah Majapahit cukup lama, yaitu dari mulai tahun 1429 hingga 1447 Masehi.

Sri Suhita menjadi Raja perempuan Majapahit menggantikan kedudukan ayahnya Wikramawardhana (1389-1429). Sri Suhita naik tahta selepas Majapahit lolos dari kebangkrutan, sebab dizaman ayahnya, Majapahit diguncang perang Paregreg dan bencana kelaparan.

Meskipun seorang wanita, nyatanya Sri Suhita mampu membalik keadaan, Majapahit yang dizaman ayahnya dirundung kekacuan dan kemrosotan ekonomi berusaha ia bangkitkan lagi, usaha Sri Suhita rupanya tidak sia-sia, ia mampu menjadikan Majapahit stabil kembali.

Penobatan Sri Suhita

Sebelum menjabat sebagai Raja Majapahit, Sri Suhita sudah kenyang pengalaman, sebab ia dahulu merupakan seorang Bre Daha, yaitu Raja bawahan Majapahit yang memerintah di Kediri. Selepas ayahnya meninggal, Sri Suhita menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Majapahit, gelar yang disematkan padanya adalah “Bhatara Prameswara”.

Sri Suhita menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh suaminya yang bernama Bhra Hyang Prameswara Ratnapangkaja. Pararaton menyebutnya Aji Ratnapangkaja.

Masa Pemerintahan Sri Suhita

Masa Pemerintahan Sri Suhita diwarnai dengan gebrakan-gebrakan menyetabilkan kerajaan, terutama menyetabilkan kerajaan dengan jalan memperbaiki perekonomian rakyat yang sempat hancur akibat dampak perang Paregreg yang berkepanjangan. Selain itu, dalam masa pemerintahannya juga tercatat bahwa Sri Suhita menjatuhkan hukuman mati pada Raden Gajah (Bhra Narapati), di masa pemerintahannya juga tercatat bahwa ia mengangkat Arya Teja sebagai Bupati Tuban, pengangkatan Arya Teja dipandang unik karena ia merupakan seseorang muslim berdarah Cina.

Arya Teja adalah ayah dari Tumenggung Wilwatikta yang juga seorang Bupati Tuban yang beragama Islam, kelak Tumenggung Wilwatika mempunyai anak yang dinamai Raden Said, tokoh ini juga dikemudian hari dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, salah satu anggota Walisongo yang masyhur.

Meskipun Kronik Cina Kuil Sam-Pokong menyatakan Arya Teja (Gan-Eng-Chu) sebagai seorang Cina, Babad Tuban berpendapat berbeda, dalam Babad Tuban disebutkan bahwa Arya Teja adalah seorang Ulama yang masih kerabat dengan Sunan Ampel, dalam babad ini juga dijelaskan bahwa Rya Teja menjadi Bupati Tuban setelah sebelumnya menikahi putri Bupati Tuban sebelumnya.

Sri Suhita Mangkat

Sri Suhita Mangkat lebih akhir ketimbang suaminya, ia dikisahkan masih memerintah Majapahit sepuluh tahun selepas kewafatan suaminya. Sri Suhita Mangkat pada tahun 1447, arwahnya kemudian sama-sama dicandikan bersama suaminya di Singhajaya. namun karena tidak memiliki putra Mahkota, dikemudian hari kedudukan Raja Majapahit diserahkan kepada adik kandungnya yakni Dyah Kertawijaya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search