Abu Hurairah Shabat Nabi Penyayang Kucing

- Maret 20, 2020
Abu Hurairah adalah salah satu sahabat Nabi terkemuka, namanya hingga kini tertulis dalam banyak kitab hadist ternama. Hal tersebut dikarenakan ia banyak meriwayatkan banyak hadist, tercatat sebanyak 5.374 hadist yang beliau riwayatkan. Selain dikenal sebagai periwayat hadist Abu Hurairah juga dikenal sebagai penyayang kucing, sebab itulah ia dijuluki Abu Hurairah.

Abu Hurairah nama aslinya Abudrahman, nama ayahnya Shakr Al-Adzdadi, selain itu ada juga yang berpendapat bahwa Abu Hurairah nama aslinya Abdullah dari bapak yang bernama Amin. Baik Abdullah maupun Abdurahman sebetulnya artinya sama, yaitu hamba Allah.

Pada mulanya Abdurahman/Abdullah tidak dijuluki Abu Hurairah melainkan dijuluki Abdu Syam (Hambanya Matahari), pada saat masuk Islam julukan tersebut dihapus karena bertentangan dengan Syariat Islam.

Dijuluki Abu Hurairah

Secara bahasa, kata Abu Hurairah (أبو هريرة) berasal dari dua kata, yaitu “Abu” yang berarti bapak, sementara kata “Hurairah” bermaksud kucing kecil. Dengan demikian makna bahasa dari kata Abu Hurairah adalah bapaknya kucing, bisa juga diartikan penyayang kucing.

Ada kisah yang melatar belakangi mengapa Abdurahman/Abdullah dijuluki demikian. Pada suatu hari ketika Abdurahman sedang mengembala kambing milik keluarganya, ia mendapati disisinya ada seekor kucing kecil, kucing itu kemudian ia pungut. Apabila malam hari kucing tersebut ia letakan di atas pohon yang sudah dipersiapkan sebagai tempat tinggalnya, apabila siang hari kucing itu diambilnya untuk dirawat dan diajak bermain, sejak itulah keluarga, sanak kerabat serta tetangganya menjulukinya “Abu Hurairah”.

Memahami latar belakang munculnya julukan tersebut, dapatlah dimengerti Abu Hurairah memang seorang sahabat Nabi yang menyayangi kucing. Meskipun begitu tidak ada kisah lanjutan sejauh pemahaman penulis tentang banyaknya kucing yang dipelihara oleh Abu Hurairah.

Kondisi Keuangan dan Sikap Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah orang Mekah asli, beliau berasal dari keluarga miskin, pada saat masuk Islam Abu Hurairah termasuk sahabat yang ikut hijrah dan ditinggal di pelataran Masjid Nabi karena mulanya tidak mempunyai tempat tinggal di Madinah.

Keterbatasan Abu Huraiarah dalam urusan keuangan, membuatnya menjadi Ahlu Suffah (orang yang tinggal dipelatar masjid), meskipun demikian dari kondisinya yang semacam itu Abu Hurairah menjadi salah satu sahabat Nabi yang fokus mendalami ilmu-ilmu Islam yang disampaikan Nabi.

Dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya, Abu Hurairah mampu menghafalkan tiap-tiap ayat al-Quran yang disampiakan Nabi juga mampu menghafalkan tingkah laku dan perkataan (hadist) Nabi. Dari itulah dikemudian hari Abu Hurairah menjelma menjadi seorang cendikiawan muslim yang tidak bisa diragukan keilmuannya.

Nabi Muhamad dikisahkan menyukai Abu Hurairah sebab itulah dalam tiap-tiap perjalanan Nabi kadang bersama-sama dengannya. Pada suatu hari, Abu Hurairah pernah memohon kepada Nabi agar ibunya didokan masuk Islam, sang Nabi kemudian mendoakannya pada Allah, tidak berselang lama Ibunya masuk Islam.

Rasa syukur Abu Hurairah atas masuk Islamnya sang ibu menambah-nambah kecintaannya pada Nabi dan Islam, maka mulai setelah itu Abu Hurairahpun lebih giat mempelajari ilmu-ilmu Islam di pelataran masjid bersama sahabat-sahabat lain yang senasib dengannya.

Sikap Abu Hurairah yang paling menonjol adalah penyayang, selain menyayangi keluarganya, Abu Hurairah juga menyangi sesama mahluk hidup, salah satunya menyayangi kucing. Dalam bidang pergaulan, Abu Hurairah lebih menyukai hidup netral dan fokus pada ilmu pengetahuan.

Abu Hurairah adalah tipe orang yang tidak menyukai politik. Pada zaman Khalifah Umar, Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain, akan tetapi di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib Abu Hurairah memilih tidak mau diangkat menjadi Gubernur Bahrain untuk yang kedua kalinya, hal itu dilakukannya guna menghindari bentrok politik.

Pada zaman Ali bin Abi Thalib secara politik umat Islam terpecah menjadi dua golongan ada yang mendukung Ali bin Abu Thalib ada pula yang mendukung Muawiyah bin Abu Sufyan, dari itulah Abu Hurairah lebih memilih menanggalkan jabatan politiknya demi menjadi orang yang netral. Kenetralan Abu Hurairah pada urusan politik dan sikapnya yang condong pada ilmu pengetahuan menyebabkannya disenangi dari satu penguasa Islam ke penguasa lainnya. 

Akhir Hayat Abu Hurairah

Abu Hurairah diperkirakan lahir pada tahun 598 Masehi, meskipun sebelum masuk dan diawal-awal mula masuk Islam Abu Hurairah dikenal sebagai orang miskin, akan tetapi selepas ia menjelma menjadi cendikiawan muslim yang ilmunya diperhitungkan, ekonomi Abu Hurairah berangsur-angsur membaik.

Kondisi perekonomian Abu Hurairah bertambah stabil mana kala ia diangkat menjadi Gubernur Bahrain, selama hidupnya Abu Hurairah juga menikah dengan orang yang pantas, dalam pernikahannya ia memperoleh satu putri yang  kelak dinikahi oleh Said bin Musyayib, yaitu salah satu tokoh Tabiin Terkemuka.

Selepas berjasa besar pada pembukuan Hadist yang digalakan pemerintahan Dinasti Muawiyah, serta berjasa pada bidang pendidikan bagi kaum muslimin Abu Hurairah wafat, beliau wafat pada Tahun 678 Masehi pada umur yang ke 80 Tahun.
Abu Hurairah


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search