Kronologi Peristiwa G 30 S/FPI

- Oktober 09, 2019

Peristiwa G 30 S/FPI mengacu pada pristiwa penculikan Ninoy Karundeng salah seorang pegiat media sosial pendukung Jokowi oleh sekelompok massa yang di dalamnya terdapat beberapa orang oknum ormas Front Pembela Islam (FPI) hingga menyebabkan yang bersangkutan babak belur. Istilah G 30 S/FPI dipopulerkan oleh beberapa akun pendukung Pemerintah (Jokowi). Peristiwa penculikan dan penganiyayaan terjadi pada hari Senin Tanggal 30 September 2019.

Cepat populernya istilah G 30 S/FPI yang di bagikan akun-akun pendukung Pemerintah di media sosial dikarenakan tanggal kejadian penculikan Ninoy Karundeng percis sebagaimana peristiwa Gerakan 30 Sepetember PKI yang terjadi pada Tahun  1965, dimana kala itu oknum Tentara Nasional Indonesia yang ditunggangi Partai Komunis Indonesia menculik beberapa Jendral Angkatan Darat sebelum akhirnya dibunuh. Presitwa kekejaman PKI tersebut pada akhirnya di Filemkan dan dijadikan sebagai alat Propaganda Rezim Orde Baru untuk menyingkirkan lawan plitiknya (PKI).
Unggahan Akun ProJo Tentang G30S/FPI-1
Selama pemerintahan Jokowi, beberapa orang dari Kubu yang anti Jokowi termasuk di dalamnya para petinggi ormas-ormas tertentu menuduh Jokowi sebagai PKI, dalam menanggapi masalah ini Jokowi pernah membantah, katanya " Jokowi dilahirkan pada Tahun 1961 Sementara PKI dibubarkan pada Tahun 1965, itu artinya Jokowi baru umur 4 Tahun ketika PKI dibubarakan, masa ada anggota Partai Komunis Indonesia Balita ?" begitu bantah Jokowi.

Meskipun Jokowi telah membantahnya, Isu Kebangkitan PKI tetap mencuat, diberitakan secara masif dan disebarkan oleh media dan ratusan akun media sosial penentang Jokowi. Bahkan demo anti PKI terjadi dimana-mana, salah satunya adalah demo yang dilakukan FPI, mereka membawa bendera Palu Arit Komunis kemudian membakarnya ketika demo berlangsung.

Menanggapi masalah tersebut para pendukung Jokowi menganggap viralnya isu kebangkitan PKI merupakan upaya lawan Politik Jokowi untuk menarik simpati masyarakat agar jangan memilih Jokowi dalam Pemilihan Umum Presiden.
Unggahan Akun ProJo Tentang G30S/FPI-2
Pada 30 September 2019, rupanya beberapa akun media sosial pendukung Jokowi seperti menemukan senjata yang pas untuk melakukan serangan balik pada orang-orang yang selama Pilpres menyerang Jokowi dengan Isu PKI, terutamanya terhadap FPI.

Dinyatakan pas karena mereka menganggap oknum anggota FPI yang selama Pilpres menuduh Jokowi dan Pendukugnya PKI justru mereka sendiri yang bertindak layaknya PKI, yaitu menculik lawan politiknya, disamping itu waktu penculikan sama kejadiannya sebagaimana dalam peristiwa Tahun 1965, yaitu terjadi pada malam 30 September.

Kronologi Peristiwa G 30 S/FPI 

Menurut pengakuan Ninoy sebagaimana yang diberitakan beberapa media disebutkan bahwa; peristiwa penculikan dan penganiayaan dirinya terjadi di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat pada 30 September. Peristiwa itu berawal ketika Ninoy merekam aksi unjuk rasa dan demonstran yang sedang mendapatkan pertolongan karena terkena gas air mata di kawasan tersebut.

Tiba-tiba, Ninoy diseret oleh sekelompok orang tak dikenal dan dibawa masuk ke dalam Masjid Al-Falah di daerah Pejompongan. Sebelum dibawa masuk ke dalam masjid, Ninoy sempat dianiaya selama dua menit. Ketika ia mengaku sebagai relawan Jokowi, ia kembali diintrogasi dan dianiaya di dalam masjid.

Selain itu, Ninoy mendapat ancaman pembunuhan dari seseorang yang dipanggil 'habib'. Ia mengaku tak melihat atau mengenal 'habib' tersebut karena ia terus dianiaya. Ninoy hanya bisa meminta perlindungan dengan alasan punya keluarga yang masih membutuhkannya.

Seseorang yang dipanggil habib memberi ultimatum kepada Ninoy bahwa waktu hidupnya pendek karena kepala saya akan dibelah, begitu ujar Ninoy di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin. 

Pegiat media sosial itu juga mendengar pernyataan dari orang-orang yang menganiayanya bahwa mayat dirinya akan dibuang di tengah-tengah kerumunan massa aksi unjuk rasa.

Selain menganiaya dirinya, sekelompok orang tak dikenal juga memeriksa barang pribadi Ninoy seperti telepon genggam dan laptop. Mereka bahkan menyalin sejumlah data dari laptop Ninoy. Penganiayaan itu berakhir setelah mereka memesan jasa GoBox untuk memulangkan Ninoy beserta sepeda motor yang telah dirusak.

Ninoy mengaku ia tidak jadi dibunuh untuk kemudian dilepaskan karena waktu sudah siang, Ninoy dipulangkan dengan menggunakan jasa GoBox kerumahnya beserta motor yang telah dirusak. Ninoy sampai kerumah pada pagi hari Tanggal 1 Oktober 2019.

Kejadian penculikan menjadi viral lantaran pelaku merekam kegiatan intimidasi dan intrograsi terhadap Ninoy. Vidionya kemudian disebarkan pelaku ke media sosial. Kelak video dan laporan Ninoy menjadi alasan polisi untuk melakukan penangkapan kepada para pelaku. Sejauh ini sudah 13 orang yang dijadikan tersangka oleh pihak Kepolisian, diantara para tersangka terdapat oknum ormas FPI.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search