Kitab Al-Barzanji Dalam Tradisi Marhabanan

- Oktober 06, 2019
Kitab Al-Barzanji di Indonesia menjadi salah satu kitab kuno yang sering di baca orang, khususnya orang-orang Islam tradisional bermadhab Syafii. Pembacaan kitab al-Barjazi  sudah dijadikan tradisi turun temurun, dibaca ketika mempringati hari kelahiran (Maulid) Nabi, kitab ini juga dibaca pada acara Aqiqah maupun sukuran pada hari kelahiran bayi. Orang Jawa menyebut kegiatan pembacaan Kitab Al-Barzanji dengan sebutan “Marhabanan”

Dinamakan Marhabanan karena dalam bait syair kitab Al-Barzanji terdapat teks yang berbunyi “ Marhaban” yang maksudnya “selamat datang”. Kitab Al-Barzanji sebetulnya sebutan pada kitab sejarah Nabi yang ditulis dalam bentuk tembang/syair, judul kitab aslinya sebetulnya Iqd al-Jawahir fi Maulid an-Nabiyyil Azhar (kalung permata untuk maulid nabi agung)”. Adpun nama Al-Barzanji sejatinya adalah nama julukan pengarang Kitab.

Pengarang Kitab Al-Barzanji

Kitab Al-Barzanji atau 'Iqd al-Jawahir dikarang oleh seorang ulama kelahiran Kota Madinah bernama Syekh Ja'far al-Barzanji. Beliau sendiri hidup dari Tahun 1670 hingga 1766 Masehi. Meskipun Syekh Ja'far kelahiran Madinah akan tetapi karena asal-usul nenek moyangnya dari Kota Barzinj (Kurdistan dahulu Bagian Iraq) maka ia dijuluki dengan nama Al-Barzanji.

Selain dikenal sebagai pengarang Kitab Albarzanji, Syekh Ja'far merupakan seorang ulama besar dan terkemuka, kiprahnya yang paling menonjol adalah sebagai seorang Imam, dan guru besar (Profesor) di Masjid Nabawi. Belaiau juga dikenal sebagai ulama bermadhab Syafii. (Muhayyidin, 2004 hlm 299).

Tujuan dibuatnya Kitab Al-Barzanji adalah untuk meningkatkan kecintaan  kepada Nabi Muhammad SAW dan agar umat Islam meneladeni kepribadiannya, sehingga pembaca diharapkan  menjadi orang yang mampu memahami dan di harapkan bisa mencontoh sifat-sifat, perilaku serta akhlak mulia Nabi.

Tujuan tersebut, dapat dilihat dari kutipan awal Kitab yang menyertakan dalil al-quran Surat Al-Ahzab ayat  21:

*لقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا*

ِِArtinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.  (Depag RI, 2006 hlm 670).

Kitab Al-Barzanji

Kitab Berzanji terdiri dari tujuh puluh enam halaman yang terbagi menjadi dua bagian yaitu, dalam bentuk prosa dan dalam bentuk syair. keduanya bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. (Diani, 2018 hlm 57)
Kitab Al-Barzanji
Di dalam kitab Al-Barzanji dilukiskan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dengan bahasa yang indah, berbentuk puisi serta prosa dan kasidah yang sangat menarik perhatian orang yang membaca atau mendengarkan, apalagi yang memahami arti dan maksudnya (Sayyid Ja’far, 1899 hlm 647)

Tradisi Marhabanan di Indonesia

Mayorits umat Islam di Indonesia bermadhab Syafii, maka tidaklah mengherankan kitab-kitab yang dijadikan rujukan kaum muslimin di Indonesia bersumber dari para ulama pengamal Madhab Syafi’i, begitupun dalam urusan penggunaan kitab yang diperuntukan untuk memperingati maulid nabi. Umat Islam di Indonesia menggunakan kitab Al-Barzanji yang notabene dikarang oleh ulama yang bermadhab Syafi’i.

Pada perkembanganya, karena pembacaan peringatan maulid Nabi sudah menjadi tradisi yang digelar oleh umat Islam Madhab Syafii dalam tiap tahunnya maka secara otomatis pembacaan Kitab Al-Barzanjipun dilaksanakan sekurang-kurangnya satu tahun sekali setiap maulid Nabi.
Marhabanan Di Masjid Agung Buntet Pesantren
Pada tahap selanjutnya, pembacaan Kitab Al-Barzanji dilakukan oleh santri di pesantren maupun di Masjid-masjid seminggu sekali, biasanya dibacakan pada setiap hari senin, karena pada hari Senin Nabi Muhamad dilahirkan. Sehingga untuk mengenang Nabi dibacakanlah Kitab Al-Barzanji, lama kelamaan tradisi yang demikian itu disebut “Marhabanan”.

Selain dibaca untuk memperingati maulid Nabi, Kitab Al-Barzanji atau tradisi Marhababan juga dilaksanakan untuk mengisi acara Aqiqah maupun sukuran kelahiran anak, hal tersebut dilakukan dengan harapan anak yang lahir kelak dapat meneladani sifat-sifat Nabi Muhamad SAW. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search