Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam

- Oktober 25, 2019
Bangsa Arab sebelum datangnya Islam mempunyai keunikannya tersendiri. Menurut  Koentjoroningrat bangsa Arab termasuk bangsa/ras Caucasoid dalam sub ras Mediterania, yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania (Mufradi, 1997: 5).

Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab dikenal bangsa yang hidup berpindah-pindah karena kondisi tanah di Arab bergurun yang sudah tentu jarang turun hujan, karena kebiasaan seperti itulah bangsa Arab disebut sebagai bangsa Badawi, Badawah, atau Badui yang maksudnya bangsa yang berpindah-pindah dengan mengembala ternak, apakah itu unta, kambing dan lain sebagainya adapun soal tempat tinggal mereka pada umumnya mendirikan kemah-kemah ditempat yang mereka lalui.

Sebelum datangnya Islam, secara umum bangsa Arab dibagi menjadi dua, yakni Qahtan dan Adnan, Qahtan berdiam di Yaman, tetapi hancurnya bendungan Ma’rib (120 SM), kemudian mereka berimigrasi ke utara dan mendiami kerajaan Hirah dan Ghassan. Sedangkan Adnan adalah keturunan Ismail bin Ibrahim yang banyak mendiami Hijaz (Hasan, 1989:17)

Bangsa Arab keturunan Ismail bertempat tinggal dan berpusat di kota Mekah, karena sebagai pusat kotanya Bangsa Arab Adnan Mekah selalu ramai didatangi oleh para haji pada bulan-bulan haji, suku Amaligah adalah suku yang berkuasa sebelum lahirnya Ismail, kemudian datang suku Jurhum ke Mekah yang bersamaan dengan kelahiran Ismail.
Mekah
Suku Jurhum kemudian digantikan oleh suku Khuza’ah (207 SM). Dan kemudian suku Khuza’ah dibawah pimpinan Qusai. Ia  mengatur urusan Ka’bah, setelah wafatnya (480 M) dan digantikan oleh anaknya Abdud Dar. Tetapi sepeninggal Abdud Dar terjadi perselisihan antara cucu-cucu dan anakanak saudaranaya Abdul Manaf pertentangan itu diselesaikan dengan membagi kekuasaan yakni, pengaturan air dan pajak atas Mekah diserahkan kepada Abduh Syam.

Penjagaan Ka’bah diserahkan pada cucu Abdud Dar, sedangkan Abduh Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim, tetapi anak Abduh Syam, Umaiyah, berlaku sombong kepada pamanya Hasyim. Urusan¬urusan itu Akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, yaitu Abdul Muthalib, kakek Nabi saw. Ia adalah orang yang terhormat dalam memegang tampuk pemerintahan Mekah, sehingga ia dapat bertahan selama 59 tahun di kota itu. (Syalabi, 1995:26-35)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search