Mengenal Bukit Siguntang Palembang

- Juli 03, 2019
Kota Palembang mempunyai ciri khas yang tidak dapat dijumpai di Kota manapun di Nusantara, sebab di Kota ini berdiri peninggalan maha penting berupa Bukit yang dipercayai sebagai tempat turunnya Sang Sapurba, nenek moyang daripada Raja-Raja Melayu di Nusantara. Bukit itu bernama Bukit Siguntang/Seguntang.

Bukit Siguntang menjadi penting bagi Palembang, sebab keberdaannya dianggap sebagai bukti bahwa Raja-Raja Melayu Nusantara sejatinya berasal dari Palembang, bukan dari daerah manapun. Hal tersebut juga menjadi bukti pula bahwa Palembang memang sebagai pusatnya Melayu Nusantara.

Adanya anggapan bahwa ; Bukit Siguntang sebagai tempat munculnya nenek moyang Raja-Raja Melayu Nusantara berasal dari catatan klasik yang termaktub dalam Naskah Salalatus Salatin, yaitu Naskah Sejarah Melayu yang dianggap sebagai naskah terkomplit dalam Sejarah Melayu, meningat didalamnya membahas mengenai asal-usul munculnya Raja-Raja Melayu hingga masa setelahnya.
Petikan Teks "Bukit Siguntang" Dalam Naskah Salalatus Salatin

Bukit Siguntang Dalam Tinjauan Arkeologi

Bukit Siguntang terletak pada 4-5 Km dari Kota Palembang, tepatnya terletak di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) I Palembang, Sumatera Selatan. Dengan ketinggian 27 meter dari permukaan laut (dpl).

Pada tahun 1920 dan 1928, di daerah kaki Bukit Siguntang ditemukan beberapa fragmen dari sebuah arca. Setelah semua fragmen disatukan, fragmen- fragmen tersebut ternyata berasal dari sebuah arca Buddha Sakyamuni yang cukup besar. Kepala arca itu sendiri ditemukan oleh FM Schnitger yang disimpan di Museum Nasional Jakarta. (Suryanegara, Erwan. 2009: 43-44).

Selain Arca Budha Sakyamuni, di Bukit Siguntang juga ditemukan stupa dari batu pasir, 1 prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna, 1 prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Sanskerta, serta 1 pinggan emas dengan tulisan berupa ajaran Buddha.
Arca Budha Yang Ditemukan Di Bukit Siguntang
Selain itu, ditemukan juga 1 arca Bodhisattwa, 1 arca Kuwera, 1 kepala arca Bodhisattwa, dan pecahan-pecahan keramik yang berasal dari masa Dinasti T’ang (abad ke-8 sampai ke-10 Masehi). Arca Kuwera yang dibuat dari perunggu dan kepala arca Bodhisattwa sekarang sudah hilang.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, para Arkeolog kemudian menyimpulkan bahwa dahulunya yaitu pada zaman Kerajaan Sriwijaya, Bukit Siguntang merupakan tempat Ibadah (Candi) penganut agama Budha.

Bukit Siguntang Masa Kini

Oleh pemerintah Kota Plembang, Bukit Siguntang dijadikan sebagai obyek wisata situs arkeologi di Kota itu. Keberadaannya dilindungi oleh pemerintah Kota. Hingga kini situs arkeologi Bukit Siguntang masih menjadi tempat penelitian, banyak para peneliti dari dalam maupun luar negara melakukan berbagai penelitian di bukit itu.

Didalam komplek situs arkeologi bukit Siguntang, terdapat berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai hingga kini, diantaranya Makam Raja Sigentar Alam, Makam Puteri Kembang Dadar, Makam Panglima Bagus Karang, Makam Panglima Bagus Kuning, Putri Rambut Selako dan lain sebagainya.

Selain sebagai situs Arkeologi, Bukit Siguntang juga kadang dijadikan semacam tempat bertafakurnya orang-orang Melayu di Nusantara yang hendak terjun menjadi penguasa, tokoh-tokoh Politik Melayu baik yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunai konon banyak yang mengunjungi Bukit Siguntang untuk bertafakur atau sekedar bedoa sebelum mereka terjun ke dunia politik.

Baca Juga: Palembang Dalam Catatan Ma Huan Sekertaris Cheng Ho


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search