Nasehat Snouck Hurgronje Yang Tak Digubris Belanda

- Juni 12, 2019
Tahun 1906 Snouck Hurgronje pulang kampung, ia  kecewa pada pemerintah Kolonial karena nasehatnya tidak lagi digubris, padahal dengan nasehat dan pandangan ilmiahnya, ia ingin Belanda tetap menjadi penjajah di Hindia. Kelak nasehat Snouck Hurgronje yang ditampik oleh pemerintah kolonial itu, dikemudian hari menjadi bom waktu dalam peristiwa terusirnya Belanda dari Indonesia.

Snouck Hurgronje adalah penasehat resmi pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Tokoh ini juga merupakan Orientalis yang sangat mengerti budaya Islam serta fasih ilmu-ilmu Islam. Tidak tanggung-tanggung ia pernah berpura-pura masuk Islam dan menjadi murid para Ulama terkemuka di Mekah selama beberapa tahun.

Snouck Hurgronje mendalami Islam dan kebudayaannya dengan tujuan mengetahui kelemahan orang Islam serta memecah belah kekuatan kaum muslimin dari dalam melelalui pandangan-pandangan keagamaannya, kala itu orang kebanyakan mengangapnya sebagai seorang ulama besar. Ia sukses menyamar menjadi Ulama besar di Jawa dan Aceh. Bahkan sempat mengawini wanita-wanita Islam di pulau Jawa dan Aceh. Dari ide dan gagasan Snouck Hurgronje pula, Belanda mendapatkan taktik jitu untuk menaklukan Kesultanan Aceh serta memadamkan perlawanan rakyat Aceh.

Setelah takluknya Kesultanan Aceh pada Tahun 1903 yang ditandai dengan menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah kepada Belanda, pemerintah kolonial selanjutnya semacam menyepelekan nasehat Snouck Hurgronje. Padahal Snouck Hurgronje menghendaki agar pemerintah kolonial terus menggunakan ide dan gagasannya agar mampu meminimalisir perlawanan orang-orang Islam diwilayah jajahan.

Nasihat Snouck Hurgronje secara keseluruhan kepada pemerintah Kolonial Belanda dalam menghadapi orang-orang Islam di wilayah jajahan adalah “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, tapi Islam sebagai doktrin politik. Dalam soal ini, Snouck membagi Islam dalam tiga aspek: (1) ibadah, (2) sosial-masyarakat, dan (3) politik“

Tafsirnya adalah, bahwa menurut Snouck Hurgronje "pemerintah kolonial harus memberikan kebebasan kepada orang Islam dinegeri jajahan untuk melakukan Ibadah dan hubungan sosial masyaraktnya dengan cara-cara Islami dan semaksimal mungkin dalam urusan ini tidak boleh mencampurinya, akan tetapi manifestasi politik Islam atau Islam sebagai doktrin politik menurutnya harus dihancurkan sejak dini".

Nasehat pengahncuran Islam sebagai doktrin Politik ini rupanya yang sedikit demi sedikit tidak digubris Belanda, terbukti dari pembiaran lahirnya Sarekat Islam di Jawa pada 16 Oktober 1905 oleh pemerintah kolonial.
Ilustrasi Gerakan Sarekat Islam Mempengaruhi Politik Umat
Pemerintah kolonial bahkan kalah cedras hingga akhirnya tertipu dengan embel-embel organiasai kemasyarakatan dan perdagangan yang didengdangkan Sarekat Islam. Padahal dalam gerakan Sarekat Islam disusupi ide-ide Pan Islamisme oleh para anggotanya, sehingga nantinya pada tiap-tiap anggota SI tertanam politik Islam untuk bebas dari penjajahan.

Tercatat alumni-alumni organiasai Sarekat Islam seperti  HOS Tjokroaminoto, Abdoel Moeis,  Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Alimin, H. Agus Salim, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Soekano adalah orang-orang yang nantinya berkiprah dalam memperjuangkan kemerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Politik Islam yang didogmakan melalui organiasasi Sarekat Islam yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam itu pada nantinya menjadi bom waktu dalam peristiwa terusirnya Belanda dari Indonesia. Ini berarti nasehat Snouck Hurgronje yang tak digubris Belanda rupanya di kemudian hari betul-betul menjadi jalan bagi umat Islam Indonesia untuk mengusir Belanda.

Oleh karena itu, dapatlah diketahui bahwa nasehat dan ide Snouck Hurgronje yang ia tekankan pada pemerintah kolonial dalam rangka mempertahankan penjajahan di negerinya orang-orang Islam terbukti kebenarannya, sebab bilamana tidak digubris atau diterapkan lama kelamaan pemerintah kolonial akan terusir dari negeri jajahannya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search