Kaisar Nero, Membakar Ibu Kota Kerajaanya Sendiri

- Juni 16, 2019
Antara tahun 60 hingga 64 Masehi Kota Roma dipenuhi gembel yang datang dari berbagai penjuru dunia, umumnya mereka datang ke Roma untuk mencari penghidupan. 

Kondisi Kota menjadi kumuh, jalanan Kota sesak dipenuhi orang-orang miskin yang populasinya terus meningkat dari tahun ketahun. Sementara ditinjau dari tata atur bangunan perkotaannya, Roma kala itu dipandang sebagai kota yang semrawut, dinggap tidak layak menjadi Ibu Kota Kerajaan besar sekelas Romawi.

Dari Tahun 54 hingga 68 Masehi, Kekaisaran Romawi dirajai oleh Kisar Nero, nama lengkapnya Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus. Dalam sejarah Romawi, Nero dikenal sebagai raja terkejam namun mencintai seni dan keindahan.

Kekejaman Kaisar Nero boleh dibilang melampaui batas, adik, beberapa istri, serta Ibu Kandungnya sendiri ia bunuh karena dianggap menggangu serta merintangi kekuasaannya. Selain dikenal kejaam Kaisar juga adalah orang yang gemar menikmati musik, membuat bangunan-bangunan indah dan megah serta menyenangi keteraturan tampilan kota.

Sebagai seorang yang mencintai seni dan keindahan, maka ketika melihat kondisi Kota Roma yang semrawut dan dipenuhi orang-orang miskin, Nero merasa tidak nyaman, ia malu melihat Ibu Kota negaranya semrawut. 

Kaisar Nero ingin Roma menjadi kota yang sedap dipandang mata, kota yang penuh dengan bangunan-bangunan indah yang dihuni oleh penduduk dengan starta berkelas bukan dihuni oleh gembel. 

Cita-cita Nero untuk membuat Ibu Kota Kerajaannya tanpak indah tentu bukan perkara sulit, ia tinggal perintah bawahanya. Tapi cara itu menurutnya membutuhkan waktu yang lama, serta biyaya yang besar, belum lagi menghadapi protes dari rakyat yang rumah dan bangunan-bangunan bisnisnya tergusur karena dampak penertiban.
Ilustrasi Penduduk Miskin Kota
Diluar dugaan, Kaisar Nero menggunakan cara-cara biadap untuk membuat Roma menjadi indah dan tertib, ia berencana membakar seluruh Kota Roma yang kumuh sehingga nantinya dapat dibangun kota baru diatas puing reruntuhannya.  

Rencana kemudian dilaksanakan sementara Kaisar Nero sendiri membuat desas-desus seolah-olah terbakarnya Kota Roma diakibatkan oleh musibah.

Pada tengah malam tanggal 18 Juli Tahun 64 Masehi, dengan diam-diam Kaisar Nero memerintahkan prajuritnya untuk membakar Kota Roma. 

Kobaran api yang dahsyat menjalar dari satu rumah ke rumah lainnya, menghanguskan hampir seluruh kota. Saking besarnya tragedi kebakaran, api dikisahkan terus berkobar selama 28 hari. 

Sementara di sisi lain, di atas bangunan Istana yang letaknya dipuncak bukit, Kaisar Nero justru menikmati pemadangan Ibukota kerajaannya yang terbakar sambil mengunyah anggur dan mendengarkan alunan musik.
Ilustrasi Kota Roma Baru
Selepas 28 hari masa-masa terbakarnya Kota Roma, kondisi rakyat kota yang selamat, terutamanya dari kalangan glandangan, serta dari kalangan orang-orang miskin yang tempat tinggalnya terdampak kebakaran hidupnya bertambah sengsara.

Merasa berhasil dengan rencananya, maka tidak lama selepas padamnya api, Kaisar Nero kemudian memerintahkan para pejabat serta prajuritnya untuk membangun ulang Kota. Desain dan tata kelola kota diatur sedemikian rupa sehingga tanpak indah dipandang mata. Jadilah selepas itu muncul kota baru yang dibangun ulang di atas reruntuhan kota lama yang semrawut.

Sementara untuk menangani gembel dan orang-orang miskin yang masih hidup di Roma, Kaisar Nero membuat rencana baru, orang-orang gembel dan miskin yang kala itu didominasi oleh orang-orang kristen yang datang dari berbagai wilayah jajahan dijadikan kambing hitam. Mereka dituduh sebagai pelaku dan penyebab kebakaran.

Para gembel, orang-orang miskin yang tak berdaya itu ditangkap, dibunuh tanpa pengadilan, sebagiannya dipekerjakan secara paksa pada proyek-proyek pembangunan kota, sementara sisanya dijadikan tontonan dalam kesenian pertarungan manusia Vs binatang buas. Kesenian tersebut digelar di stadion dan gedung-gedung kesenian mewah yang telah dibuat.

Ketika Kota Roma dengan tampilan baru telah terbentuk, Kaisar Nero dengan bangganya mengucapkan “inilah kota Roma yang baru, kota yang layak ditinggali manusia”.  

Agaknya cara Kaisar Nero yang satu ini di tiru oleh peradaban sekarang, di Indonesia pembangunan pasar baru, pasar yang lebih modern dan bersih biasanya baru terlaksana selepas bangunan pasar yang lama tertimpa drama musibah kebakaran. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search