Mengintip Peristiwa Mahapralaya Dalam Runtuhnya Kerajaan Medang

- Mei 08, 2019
Kerajaan Medang, kerajaan besar yang meninggalkan peninggalan candi megah Prambanan dan Borobudur ini rupanya tumbang juga, runtuh pada umur yang ke 274 tahun, tepatnya runtuh pada tahun 1006 Masehi. Keruntuhannya terbilang tragis, sebab diserang musuh manakala Raja dan para Punggawa kerajaan sedang berpesta. Peristiwa maha sial bagi kerajaan Medang ini dalam sejarah dikenal dengan peristiwa Mahapralaya.

Meskipun menurut sebagaian besar sejarawan peristiwa Mahapralaya terjadi pada tahun 1006, ada juga sejarawan lain yang berpendapat bahwa  peristiwa Mahapralaya terjadi pada tahun 1016 Masehi. Peristiwa Mahapralaya yang menandai hancurnya kerajaan Medang dikabarkan dalam prasasti Pucangan.

Ditinjau dari alur kisah keruntuhannya,  dapatlah dipahami bahwa runtuhnya kerajaan Medang seperti memberitahukan pada generasi selanjutnya bahwa pertahanan Medang dalam menghadapi gempuran tak terduga Kerajaan Lwaram rupanya lemah. Dalam peristiwa ini pula tergambar bahwa untuk menyingkirkan musuh-musuhnya, terkadang Sriwijaya perlu juga menjalankan taktik licik untuk menghancurkan lawan yang sulit ditundukan.

Sebelum meletusnya peristiwa Mahapralaya yang menyebabkan kehancuran Istana dan Ibukota Kerajaan Medang yang terletak di Watan (Madiun) itu didahului oleh kisah pesta besar-besaran yang digelar kerajaan.

Waktu itu Raja Darmawangsa Teguh, selaku Raja Medang punya hajatan besar, ia menggelar pesta pekawinan besar-besaran di Istana dan Ibukota Kerajaan, pesta ini digelar sebagai rasa sukurnya, mengingat putri kesayanganya mendapatkan jodoh yang sepadan.

Rasa gembira yang ditunjukan sang Raja untuk menghormati putri kesayangannya itu, rupanya membuat Darmawangsa abai terhadap  pertahanan kerajaaan.

Para Prajurit yang sedianya selalu waspada melindungi Raja, Istana dan Ibukota Kerajaan menjadi lalai, mereka ikut larut dalam gelaran peseta perkawinan yang digelar secara besar-besaran selama berhari-hari.

Sementara disisi lain, Kerajaan Lwaram sekutu Sriwijaya di Pulau Jawa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kerajaan yang pernah diporak porandakan oleh Medang dalam peperangan di Desa Candirejo (Nganjuk) itu berniat menutup riwayat Kerajaan Medang manakala Raja dan seluruh Punggawa Kerajaan Medang larut dalam puncak pesta perkawinan.

Aji Wura-Wuri selaku Raja Lwaram melakukan persekongkolan dengan Sriwijaya untuk  membumi hanguskan Medang. 

Pada waktu yang telah ditentukan, ketika Raja, para Punggawa Kerajaan, serta penduduk kota Raja Medang larut dalam pesta, tanpa diduga-duga gabungan tentara Sriwijaya dan Lwaram melakukan penyerbuan besar-besaran.

Dalam penyerbuan itu, pertahanan Kerajaan Medang yang sedang lemah-lemahnya jebol, sehingga Ibukota dapat dikuasai, Istana Kerajaanpun kemudian dapat direbut sementara Raja Darmawangsa Teguh sendiri terbunuh dalam peristiwa itu.

1006 adalah tahun dimana Sirna Ilang Kartaning Bhumi bagi Kerajaan Medang, sebab pada tahun itu Medang telah runtuh. Meskipun demikian sisa-sisa para pembesar kerajaan itu ada juga yang berhasil menyelamatkan diri, salah satunya Airlangga, menantu Darmwangsa Teguh, kelak tiga tahun kemudian, Airlangga mampu mendirikan Kerajaan baru yang kemudian dapat membalaskan dendam mertuanya. Kerajaan  baru itu dikenal dengan nama 'Kahuripan"

Baca Juga: Kerajaan Kahuripan Berdiri Untuk Balas Dendam


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search