Uji Autokorelasi dalam Statistika

- April 24, 2019
Dalam statistika dikenal istilah uji autokorelasi, ditinjau dari fungsinya uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2016:107).

Apabila terjadi korelasi, maka dinamakan ada masalah autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.

 Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena “gangguan” pada seseorang individu atau kelompok cenderung mempengaruhi “gangguan” pada individu atau kelompok yang sama pada periode berikutnya. Model regresi yang baik adalah model regresi yang terbebas dari autokorelasi.

Salah satu cara untuk mendeteksi autokorelasi adalah menggunakan Uji Run Test. Run test sebagai bagian dari statistik non-parametrik yang dapat digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi, jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa residual acak atau random Ghozali (2016:116).

Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara acak atau tidak. Dasar pengambilan keputusan dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan.

  1. Nilai asympSig (2-tailed) dengan signifikansinya < 0,05 yang berarti terjadi autokorelasi
  2. Nilai asympSig (2-tailed) dengan signifikansinya > 0,05 yang berarti tidak terjadi autokorelasi.
Baca Juga: Uji Multikolinieritas dalam Statistika


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search