Sejarah Isra Mi’raj dan Jejak Peninggalannya

- April 08, 2019
Bungfei.com-Bagi kaum muslimin, tentu sudah tidak asing lagi dengan peristiwa Isra Mi’raj, sebab peristiwa itu selalu diperingati dalam tiap tahunnya, jejak peninggalan dari peristiwa itupun juga masih ada hingga kini, bahkan menjadi amalan wajib bagi tiap-tiap orang Islam, Shalat lima waktu merupakan peninggalannya.

Ditinjau dari bahasanya, kata Isra dan Mi’raj mempunyai pengertian diperjalankannya (Isra) Nabi Muhamad dari Mekah (Majid al-Haram) ke Palestina (Masjid Al-Aqsha) dan diperjalankannya Nabi Muhamad dari Palestina menuju langit (Mi’raj) oleh Allah.

Sementara ditinjau dari kejadinnya, peristiwa Isra Mi’raj beragam versi, terutama mengenai waktu terjadinya peristiwa itu. Setidak-tidaknya ada beberapa pendapat yang berbeda seputar kapan peristiwa itu terjadi.

Ada yang menyatakan peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi pada 5 tahun selepas pengangkatan Nabi Muhamad menjadi Rasul, ada yang menyatakan pada tanggal 27 bulan Rajab tahun ke 10 setelah pengangkatan menjadi Rasul, ada juga yang menyatakan tejadi setahun sebelum hijrah ke Madinah (Al-Mubarakfuru, hlm 153).

Di Indonesia, pada umumnya masyakat mempercayai bahwa peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, mengikuti pendapat Al-Alamah Al-Mansurfuri. Maka tidak mengherankan jika pada tanggal 27 Rajab kaum muslimin di Indonesia memperingati Isra Mi’raj dengan khidmat.

Kondisi Kaum Muslimin Sebelum dan Sesudah Peristiwa Isra Mi’raj

Sebelum terjadinya peristiwa Isra Mi’raj, orang-orang Islam dan Nabi Muhamad telah menjadi bulan-bulanan sasaran penghinaan dan penganiyayaan yang dilakukan oleh orang-orang Kafir, bahkan Nabi Muhamad sendiri dianggap sebagai seorang yang gila karena kerap sekali mengajarkan hal-hal gaib seperti adanya malaikat, Jin, Hari Kiamat dan lain sebagainya, kala itu orang-orang yang dianggap pintar dari kalangan Kafir tidak mempercayai hal-hal semacam itu.

Belum lagi surut penghinaan dan cemoohan tersebut, rupanya muncul lagi peristiwa yang menghebohkan, Nabi Muhamad mengaku hanya dalam satu malam saja, beliau melakukan perjalanan dari Masjid Haram ke Masjid Aqso, kemudian dilanjutkan dengan terbang ke langit untuk bertemu tuhannya dengan mengndarai Buraq.

Pengakuan Nabi Muhamad mengenai peristiwa ini membuat orang-orang Kafir merasa kegirangan, sebab mereka kini punya alasan kuat untuk menghujat Muhamad sebagai seorang yang sudah gila. 

Dalam hal ini, mereka membantah dan menyanggah pengakuan Nabi Muhamad dengan sanggahan dan bantahan berdasarkan logika-logika mereka, melalui itu, orang-orang  kafir rupanya berhasil mempengaruhi sebagain kecil kaum muslimin untuk keluar dari agama Islam.

Meskipun demikian, ketika sebagaian kaum muslimin diliputi ketidak percayaan terhadap peristiwa itu, Abu Bakar tampil sebagai orang pertama yang mempercayai kejadian itu, dari itulah kelak Abu Bakar dijuluki dengan “Ashidiq” yang bermaksud orang yang pertama-tama mempercayai/membenarkan Isa Mi’raj.

Rincian Peristiwa Isra Mi’raj

Rincian lengkap mengenai peristiwa yang terjadi dalam Isra’ Mi’raj diceritakan dalam beberapa Hadist, adapun ringkasan kejadiannya dapat diapapakan sebagai berikut:

  1. Nabi Muhamad melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj pada malam hari.
  2. Nabi Muhamad melakukan perjalanan itu dengn jasdnya, bukan ruhnya saja atau melalui mimpi.
  3. Perjalanan dimuli dari Masjid Al-Haram ke Masji Al-Aqso dengan mengendari kendaraan yang disebut buraq. 
  4. Ketika sampai di Masjid Al-Aqso Palestina, Nabi Muhamad Shalat (berdoa) sejenak disana. 
  5. Selepas itu, Nabi Muhamad kemudian naik kelangit dengan mengendarai Buraq disertai dengan Malaikat Jibril.
  6. Dilangit pertama Nabi Muhamad berjumpa dengan Nabi Adam, dilangit kedua beliau berjumpa dengan Nabi Yahya dan Isa, dilangit ketiga beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf, dilangit ke empat beliau betemu dengan Nabi Idris, dilangit ke lima beliau berjumpa dengan Nabi Harun, dilangit ke enam beliau berjumpa dengan Nabi Musa, dilangit ke tujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim. 
  7. Dari langit ke tujuh, Nabi Muhamad kemudian naik ke Sidratulmuntaha, lalu dibawa naik lagi ke Baytul Makmur, kemudian dibawa naik lagi untuk menghadap Allah, sehingga jaraknya tinggal sepanjang dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Lalu Allah mewahyukan dan mewajibkan kepada hambanya Muhamad Shalat limapuluh kali. Selepas ini beliau kembali turun hingga bertemu Nabi Musa kembali dilangit ke enam. 
  8. Nabi Musa menyarankan kepada Nabi Muhamad agar meminta keringanan jumlah Shalat kepada Allah. 
  9. Nabi Muhamad kemudian menuruti saran itu dan kembali dipertemukan dengan Allah hingga jumlah Shalat menjadi 5 kali. (Al-Mubarakfuri, hlm 154-155)

Demikianlah ringkasan kisah mengenai peristiwa Isra Mi’raj yang termaktub dalam beberapa hadist yang ada. Dari kisah tersebut dapat dimengerti bahwa peninggalan dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah wahyu dan perintah pelaksanaan Shalat 5 waktu.

Debat Nabi Muhamad Dengan Penentang Peristiwa Isra Mi’raj

Keesokan hari selepas peristiwa itu, Nabi Muhamad mengumumkan kepada para pengikutnya tentang kejadian yang dialaminya, peristiwa itu kemudian menjadi geger hingga menjadi viral, orang-orang Kafir kemudian besuka cita, mereka yakin bahwa Muhamad memang-benar-benar sudah gila.

Meskipun melalui berita itu orang-orang Kafir beruaha sekuat tenaga untuk mempengaruhi orang-orang Islam dari kalangan kerabat dekat mereka untuk keluar dari Agama Islam, tapi rupanya hanya sedikit saja yang terpengaruh, mereka pun tidak puas, oleh karena itu, orang-orang Kafir tersebut berniat mempermalukan Muhamad didepan orang banyak.

Mereka yakin, bahwa apa yang diucapkan oleh Muhamad adalah kebohongan saja, oleh karena itu mereka mendatangi Muhamad untuk mengetes kebenaran peristiwa itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan, terutamanaya pertanyaan-pertanyaan seputar Masjid Aqso yang ada di Palestina.

Selama hidupnya, Nabi Muhamad belum pernah berdagang ataupun mengunjungi Palestiana, sehingga dengan demikian, pertanyaan seputar kondisi Palestina dan Baytul Maqdis kepada Muhamad dianggap sebagai pertanyaan mematikan untuk membongkar kebohongan Muhamad, begitu anggapan orang-orang Kafir waktu itu.

Maka tatkala orang-orang Kafir itu mempertanyakan kondisi Palestina dan Baytul Maqdisnya kepada Nabi Muhamad didepan orang banyak, rupanya dengan gamblang dan terperinci Nabi Muhamad mampu menjelaskannya, bahkan penjelasan tersebut sangat-sangat tepat sehingga membuat heran orang-orang Kafir yang pernah mengunjungi Palestina.

Selepas kejadian ini, makin teguhlah keimanan kaum muslimin tentang peristiwa yang dialami Nabinya, sementara bagi orang-orang Kafir, peristiwa ini makin membuat malu mereka, meskipun demikian mereka tetap pada kekafirannya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search