Biografi KH.Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlotul Ulama

- April 12, 2019
Bungfei.com- Hasyim Asy’ari nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim bin Asy’ari, beliau lahir di Jombang pada hari Selasa Kliwon tanggal 14 Februari tahun 1871 M atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 H, beliau wafat pada tanggal 25 juli 1947M, bertepatan dengan 7 Ramadhan 1366 H pada pukul 03.45.

Hasyim Asy’ari dilahirkan dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah keluarga ulama yang cukup terkemuka ayahnya merupakan pengasuh Pesantren Gedang desa Tambakrejo Jombang . Nama Hasyim Asy’ari dikenal diseantero Indonesia bahkan dunia sebab beliau merupakan pendiri Nadlotul Ulama, ormas Islam terbesar di dunia yang didirikan pada tahun 1926.

Masa Kanak-Kanak dan Remaja Hasyim Asy’ari

Masa kanak-kanak Kiai Hasyim dihabiskan dalam lingkungan pesantren tradisional Gedang. Keluarga besarnya bukan saja pengelola pesantren, tetapi juga pendiri pesantren-pesantren yang masih cukup populer hingga saat ini.

Ayah Kiai Hasyim (Kiai Asy’ari) merupakan pendiri dan pengasuh Pesantren Keras (Jombang). Sedangkan kakeknya jalur ibu (Kiai Utsman) dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Gedang yang pernah menjadi pusat perhatian terutama dari santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19. Sementara kakek ibunya yang bernama Kiai Sihah dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tambak Beras (Jombang).

Pada umur lima tahun, Hasyim berpindah dari Gedang ke desa Keras, sebuah desa disebelah selatan kota Jombang karena mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru. Di sini, Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun, sebelum akhirnya meninggalkan Keras dan menjelajah berbagai pesantren di Jawa dan Madura untuk menuntut ilmu.

Hasyim Asy’ari Menikah dan Menutut Ilmu di Mekah 

Pada usianya yang ke-21, Hasyim menikah dengan Nafisah, putri Kiai Ya’qub (Siwalan Panji, Sidoarjo). Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308H. Setelah itu, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Bersama istrinya, Hasyim kemudian melanjutkan tinggal di Mekah untuk menuntut ilmu.

Tujuh bulan kemudian, Nafisah meninggal dunia setelah melahirkan seorang putera bernama Abdullah. Empat puluh hari kemudian, Abdullah menyusul ibunya ke alam baka. Kematian dua orang yang sangat dicintainya itu, membuat Hasyim sangat terpukul. Dan akhirnya Hasyim memutuskan untuk tidak berlama-lama di tanah suci dan kembali ke Indonesia setahun kemudian.

Setelah lama menduda, Kiai Hasyim menikah lagi dengan seorang gadis anak Kiai Romli dari desa Karangkates (Kediri) bernama Khadijah. Pernikahannya dilakukan sekembalinya dari Mekah pada tahun 1899 M atau 1315 H. Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian (1901M), Khadijah meninggal dunia.

Untuk ketiga kalinya, Kiai Hasyim menikah lagi dengan perempuan bernama Nafiqah, anak Kiai Ilyas, pengasuh pesantren Sewulan Madiun. Dari hasil perkawinannya dengan Nafiqah, Kiai Hasyim mendapatkan sepuluh orang anak, yaitu : Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf. Perkawinan Kiai Hasyim dengan Nafiqah juga berhenti di tengah jalan, karena Nafiqah meninggal dunia pada tahun 1920 M.

Sepeninggal Nafiqah, Kiai Hasyim memutuskan menikah lagi dengan Masruroh putri Kiai Hasan yang juga pengasuh pesantren Kapurejo, Pagu (Kediri). Dari hasil perkawinan keempatnya ini, Kiai Hasyim memiliki empat orang anak: Abdul Qadir, Fatimah, Khodijah dan Muhammad Ya’qub. Perkawinan dengan Masruroh ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hasyim hingga akhir hayatnya.

Kiprah Hasyim Asy’ari

Dimasa hidupnya beliau mempunyai peran yang besar dalam dunia pendidikan, khususnya dilingkungan pesantren, baik dari segi ilmu maupun garis keturunan. Selain itu kiprah yang amat besar dari beliau adalah pendirian Jamiyah Nadlotul Ulama yang difungsikan sebagai ormas penjaga Ulama dan Ajaan-Ajaan Islam Ahlu Sunah Waljama’ah.

Selin itu beliau juga turut berkiprah dalam memperjuangkan kemedekaan Indonesia, beliau gigih dan punya semangat pantang menyerah sertajasa-jasanya kepada bangsa dan negara sehingga beliau diakui sebagaiseorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Bahkan menjelang hari-hari akhir hidupnya, Bung Tomo dan panglima besar Jendral Soedirman kerap berkunjung ke Tebuireng meminta nasehat beliau perihal perjuangan mengusir penjajah.

Para Guru Hasyim Asy’ari

Karena berlatar belakang dari keluarga Ulama pesantren, maka yang menjadi guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, beliau berguru pada ayahnya dalam jangka waktu yang cukup lama mulai masa kanak-kanak hingga berumur lima belas tahun.

Semenjak usia 15 tahun, KH.Hasyim mulai berkelana ke berbagai pesantren, mula-mula beliau menjadi santri di pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban) sampai Pesantren Trenggilis (Semarang). Belum puas akan berbagai ilmu yang dimilikinya, Kiai Hasyim melanjutkan ke pesantren Kademangan, Bangkalan dibawah asuhan Kiai Kholil.

tidak lama berada di Pesantren Kademangan. Kiai Hasyim pindah lagi ke pesantren Siwalan Panji,Sidoarjo yang diasuh oleh Kiai Ya’qub. Kiai Ya’qub dipandang sebagai seorang ulama yang berpengetahuan luas dan alim dalam ilmu agama.

Setelah puas dalam berkelana di berbagai pesantren di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim pergi ke tanah suci untuk menuntut ilmu di Mekah. Akhirnya Kiai Hasyim meninggalkan tanah air untuk berguru kepada ulama-ulama terkenal di Mekah.

Di Mekah Kiai Hasyim berguru pada Shaykh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hashim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attas, Shaykh Said al- Yamani, Sayyid ‘Alawi bin Ahmad al-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Shaykh Salih Bafadal, dan Shaykh Sultan Hashim Dagastani, Shaykh Shuayb bin Abd al-Rahman, Shaykh Ibrahim Arab, Shaykh Rahmatullah, Sayyid Alwi al-Saqqaf, Sayyid Abu Bakr Shata al-Dimyati dan Sayyid Husayn al-Habshi yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Selain itu juga KH.Hasyim asy’ari menimba ilmu pengetahuan kepada Shaykh Ahmad Khatib Minankabawi, Shaykh Nawawi al-Bantani dan Shaykh Mahfuz al-Tirmisi.

Mendapatkan Gelar Hadratu Syaikh

Setelah puas menuntut ilmu baik di dalam negeri maupun di tanah suci, akhirnya Hasyim Asy’ari pulang ke Jawa dan mengabdikan ilmunya dengan cara mendirikan pesantren di Tebu Ireng. Pondok Pesantren Tebuireng sendiri didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1317 H atau bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M.

Dalam perkembangan selanjutnya, KH. Hasyim menjadi pemimpin dari kiai-kiai besar di tanah Jawa. Karena kemasyhurannya, para kiai di tanah Jawa mempersembahkan gelar ”Hadratusy Syeikh” yang artinya ”Tuan Guru Besar” kepada Kiai Hasyim.

Beliau semakin dianggap keramat, manakala Kiai Kholil Bangkalan yang dikeramatkan oleh para kiai di seluruh tanah Jawa-Madura, sebelum wafatnya tahun 1926, telah memberi sinyal bahwa Kiai Hasyim adalah pewaris kekeramatannya.

Diantara sinyal itu ialah ketika Kiai Kholil secara diam-diam hadir di Tebuireng untuk mendengarkan pengajian kitab hadisBukhari- Muslim yang disampaikan Kiai Hasyim. Kehadiran Kiai Kholil dalam pengajian tersebut dinilai sebagai petunjuk bahwa setelah meninggalnya Kiai Kholil, para Kiai di Jawa- Madura diisyaratkan untuk berguru kepada Kiai Hasyim.

Karya-Karya Hasyim Asy’ari

Selama hidupnya, beliau menghasilkan beberapa karya tulis. . Karya-karya KH.Hasyim Asy’ari yang dimaksudkan adalah sebagaimana berikut:

  1. Adabul ‘Alim wal Muta’alim. Menjelaskan tentang etika seorang murid yang menuntut ilmu dan etika guru dalam menyampaikan ilmu. Kitab ini diadaptasi  dari kitab Tadzkiratu al-Sami’ wa al-Mutakallim karya Ibnu Jamaah al-Kinani. Risalah Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah (kitab lengkap). Membahas tentang beragam topik seperti kematian dan hari pembalasan, arti sunnah dan bid’ah, dan sebagainya.
  2. Al-Tibyan Fi Nahyi ‘An Muqatha’ati’ Al-Arkam wa Al-‘Aqarib Wa Al-Ikhwan. Berisi tentang pentingnya menjaga silaturrahmi dan larangan memutuskannya. Dalam wilayah sosial politik, kitab ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kiai Hasyim dalam masalah UkhuwahIslamiyah.
  3. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li jam’iyyat Nahdhatul Ulama’. Karangan ini berisi pemikiran dasar NU, terdiri dari ayat-ayat Al- Qur’an, hadis, dan pesan- pesan penting yang melandasi berdirinya organisasi NU.
  4. Risalah Fi Ta’kid al-Akhdzi bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Karangan ini berisi tentang pentingnya berpedoman kepada empatmazhab, yaitu Syafi’i,  Maliki, Hanafi dan Hambali.
  5. Mawai’idz. Karangan berisi tentang nasihat bagaimana menyelesaikanmasalah yang muncul ditengah umat akibat hilangnya kebersamaandalam membangun pemberdayaan.
  6. Al-Durar al-Muntashirah fi Masa’il Tis’a Asharah. Kitab ini berisi 19 masalah tentang kajian wali dan thariqah. Ada 19 masalah yang dibahas dalam buku ini.
  7. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’i Jamiyyah NahdlatulUlama’. Karya ini berisi 40 Hadis tentang pesan ketakwaan dankebersamaan dalam hidup, yang harus menjadi fondasi kuat bagi umatdalam mengarungi kehidupan.
  8. An-Nur Al-Mubin Fi Mahabbati Sayyid Al-Mursalin. Menjelaskan tentang arti cinta kepada Rasul dengan mengikuti dan menghidupkan sunnahnya. Kitab ini diterjemahkan oleh Khoiron Nahdhiyin dengan judul Cinta Rasul Utama.
  9. Ziyadah Ta’liqat ‘Ala Mundhumah Syaikh Abdullah Yasin al-Fansuruani. Berisi perdebatan antara Kiai Hasyim dan Syaikh Abdullah bin Yasin.
  10. Al-Tanbihat Al-Wajibah Liman Yashna’ Al-Maulid bi Al-Munkarat. Berisi tentang nasehat-nasehat penting bagi orang-orang yang merayakan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang dilarang agama.
  11. Dhau’ul Misbah fi Bayani Ahkam al-Nikah. Kitab ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari aspek hukum, syarat rukun, hingga hak-hak dalam pernikahan.
  12. Risalah Tusamma bi al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus. Menerangkan tentang permasalahan hukum memukul kentongan pada waktu masuk waktu sholat.
  13. Risalah Jami’atul Maqashid. Menjelaskan tentang dasar-dasar aqidah Islamiyyah dan Ushul ahkam bagi orang mukallaf untuk mencapai jalantasawuf dan derajat wusul ila Allah.
  14. Al-Risalah fi al-Aqaid. Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa , berisi tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan Tauhid.
  15. Miftah al-Falah fi Ahadith al-Nikah. Berisi tentang hadith-hadith yang berhubungan dengan pernikahan. Yang dikumpulkan dari hadith-hadith Nabawiyah.
  16. Abyan al-Nizom fi Bayani Ma Yu’maru bihi au Yanha ‘Anhu min Anwa’I al- siyam. Tentang macam-macam puasa yang diperbolehkan dan dilarang.
  17. Audoh al-Bayan fi Ma Yata’allaqu bi Wazoifi Ramadhan. Berisi tentang hadith-hadith yang berhubungan dengan Ramadhan. Tentang ibadah-ibadah di bulan Ramadhan dan keutamaan-keutamaannya.
  18. Ahsanu al-Kalam fi Ma Yata’allaqu bi Sya’ni al-‘Id min al-Fadoili wa la- Ahkam. Berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan shalat id, baik mengenai keutamaanya ataupun hukumnya.
  19. Irshadu al-Mu’minin Ila Sirati Sayyid al-Mursalin. Berisi tentang ringkasan kisah perjalanan kehidupan Nabi dan para sahabat.
  20. Al-Manasik al-Sughra li Qasidi Ummi al-Qura. Risalah tentang ibadah haji dan umroh dan hal-hal yang diwajibkan didalamnya. 
  21. Jami’ah al-Maqasid fi Bayani Mabadi al-Tauhid wa al-Fiqh wa al-Tasawuf li al-Murid. Berisi tentang kaidah-kaidah agama islam, pokok-pokok tasawuf dan cara ber-wusul kepada Allah.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search