Amangkurat III Memerintah Seumur Jagung

- Januari 11, 2019
Amangkurat III, yang mempunyai nama asli Raden Mas Sutikna adalah Sultan Kesunanan Kartasura Mataram yang memerintah seumur jagung. Pendeknya masa pemerintahan Sultan ini dikarenakan beliau berkonflik dengan Belanda, beliau wafat karena dibuang ke Srilangka pada 1734.

Menurut Babad Tanah Jawi, Amangkurat III adalah anak satu-satunya dari Amangkurat II, istri yang lain dari Amangkut II ini kisahkan diguna-guna oleh ibunya sehingga tidak ada satupun anak yang lahir dari wanita lain. Raden Mas Sutikna ketika masih muda dijuluki dengan nama Pangeran Kencet, karena Pangeran ini dikisahkan menderita cacat dibagian tumitnya.

Watak Amangkurat III ini dikisahkan mirip dengan kakeknya Amangkurat I, ia berwatak buruk, mudah marah dan cemburu bila ada pria lain yang lebih tampan darinya.

Sebelum menjadi Raja Kasunanan Kartasura, ia menjabat sebagai Adipati Anom, ia memperistri sepupunya sendiri yang bernama Raden Ayu Lembah, anak Pangeran Puger. Namun pernikahannya dengan Ayu Lembah ini tidak bertahan lama, sebab istrinya berselingkuh dengan Raden Sukra, Putra Patih Sindareja.

Baca Juga: Ayu Lembah Permaisuri Raja Yang Kepergok Slingkuh

Tragedi perselingkuhan itu kemudian menyebabkan Raden Sukra dijatuhi hukuman mati, sementara Ayu Lembah sendiri rupanya bernasib sama, Amangkurat III memaksa pamannya Pangeran Puger untuk membunuh Ayu Lembah, putrinya sendiri.

Selepas peristiwa itu, Amangkurat III kemudian menikahi Raden Ayu Himpun, adik dari Ayu Lembah, akan tetapi lagi-lagi pernikahan ini kandas ditengah jalan. Amangkurat III menceriakan Ayu Himpun karena waktu itu Pangeran Puger dianggap melakukan pembangkangan pada Amangkurat III.
Amangkurat III
Amangkurat III kemudian mengangkat Permaisuri baru, kali ini ia mengawini wanita desa yang masih gadis wanita itu dikisahkan diambil dari Desa Onje.

Tingkah laku Amangkurat III yang sewenang-wenang dan kadang semau sendiri, membuat para Abdi Istana tidak lagi suka kepada Rajanya, para Abdi itu pada akhirnya mendukung Pangeran Puger untuk menjadi Raja di Kertasura, dukungan ini kemudian ditanggapi oleh Raden Surya Kusumo, anak Pangeran Puger untuk melakukan pemberontakan.

Upaya Pemberontakan yang dilancarkan keluarga Pangeran Puger ini kemudian tercium oleh Amangkurat III, oleh karena itu, ia kemudian mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger beserta seluruh keluarganya, akan tetapi upaya rencana pembunuhan ini gagal. Pangeran Puger mengetahui rencana pembunuhan itu, maka beserta keluarganya Pangeran Puger kemudian melarikan diri ke Semarang.

Di Semarang Pangeran Puger diliputi kegelisahan karena merasa jiwanya terancam, oleh karena itu Pangeran Puger kemudian mengadakan persekutuan dengan VOC Belanda, ia mengiming-imingi VOC dengan keuntungan yang besar bila bersedia membantunya melengserkan keponakannya dari tahta. Kerjasama antara Pangeran Puger dan VOC kemudian terbina.

Pada tahun 1705 Pangeran Puger dengan dibantu VOC bergerak ke Kartasura untuk melakukan serangan, sementara waktu itu Amangkurat III membangun pertahannya di Unggaran. Pertahanan ini dikepalai oleh Arya Mataram. Akan tetapi sial rupanya menerpa Amangkurat III, karena Arya Mataram malah membelot dan mendukung Pangeran Puger.

Gabungan Pasukan Pangeran Puger, Arya Mataram dan VOC Belanda kemudian pada tahun 1706 berhasil  merebut keraton Kertasura, tapi mujur Amangkurat III berhasil melarikan diri ke Ponorogo. Akan tetapi sesampainya di Ponorogo bukannya berbaik-baik dengan Adipatinya, Amangkurat III justru merasa curiga terhaap kesetiaan rakyat Ponorogo dan Adipatinya. Ia pun menyiksa Adipati Ponorogo dan beberapa pejabat tinggi di Kadipaten itu.

Melihat Adipatinya disiksa dan disakiti, rupanya Rakyat Ponorogo berontak, Amangkurat III pun kemudian lari lagi ke Madiun. Dari sana ia kemudian pindah ke Kediri, di kota Ini Amangkurat III kemudian bergabung dengan Untung Suropati yang kala itu sedang bereprang melawan VOC.

Pangeran Puger yang masih belum puas terhadap Amangkurat III kemudian melakukan serangan ke Kediri, ia mencoba memberantas pasukan Amangkurat III yang kala itu sudah bergabung dengan Untung Suropati. Serangan yang terjadi pada 1708 ini pada akhirnya mampu menumpas pasukan Amangkurat III dan Untung Suropati.

Dalam peristiwa itu Amangkurat III tertangkap hidup-hidup, ia kemudian dibawa ke Batavia untuk kemudian dibuang ke Srilangka. Dalam masa pembuanganya itu Amangkurat III wafat, tepat pada tahun 1734.

Amangkurat III sendiri menjabat menjadi Sultan Kesunanan Kartasura hanya dari tahun 1703 sampai 1705, ini artinya ia hanya memerintah seumur jagung saja, yaitu 2 tahun lebih sedikit. Kekalahan Amangkurat III kemudian mengantarkan Pangeran Puger menjadi Raja Kartasura selanjutnya, adapun gelar yang disematkan kepada Pangeran Puger adalah Pakubwana I. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search