Pemberontakan Dipati Ukur Pada Kesultanan Mataram

Ukur adalah nama Keadipatian di abad 17, wilayahnya meliputi Kota dan Kabupaten Bandung sekarang, pemimpin atau Adipati daerah itu dikenal dengan sebutan Dipati Ukur atau Adipati Ukur. Ketika Kesultanan Mataram diperintah oleh Sultan Agung, Ukur merupakan salah satu daerah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Pemberontakan Adipati Ukur diawali dari usaha penyerbuan Sultan Agung ke Batavia, dalam rangka tujuannya itu Sultan Agung melakukan segala usaha termasuk memerintahkan para Adipati bawahannya untuk ikut serta menggempur Batavia, termasuk didalamnya Adipati Ukur yang kala itu menjabat sebagai Bupati Wedana Priyangan.

Ilustrasi
Serbuan orang-orang Priangan dibawah komando Adipati Ukur kepada VOC Belanda di Batavia rupanya menemui kegagalan, kegagalan tersebut dikarenakan Adipati Ukur tidak menuruti sntruktur penyerangan yang digariskan Kesultanan, ia melakukan penyerangan semamu sendiri, hingga akhirnya penyerangan tersebut berbuah kegagalan.

Karena tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Sultan Agung dan sekaligus Takut di Penggal, Adipati Ukur beserta pasukannya kemudian memberontak ke Mataram, ia mengumpulkan pasukannya untuk membuat markas di Gunung Lumbung.

Tentara Mataram yang semula ingin menangkap Adipati Ukur ketakutan, mengingat setiap kali dilakukan penangkapan mereka terlibat bentrok dengan pengikut Adipati Ukur.
Peristiwa pemberontakan itu kemudian dilaporkan oleh salah seorang Pangliama Mataram kepada Sultan Agung. Sontak penguasa Mataram yang murka itu mengutus pasukannya yang lebih besar untuk menangkap Adipati Ukur.

Berangkatlah pasukan Mataram menuju Gunung Lumbung, serangan besar Mataram di Gunung itu kemudian memporak porandakan Pasukan Adipati Ukur, sang Adipati kemudian berhasil ditangkap hidup-hidup, ia di bawa ke Cirebon dan selanjutnya dikirim ke Matarm. Peristiwa penangkapan Adipati Ukur tersebut terjadi pada tahun 1632.

Sesampainya di Mataram, Adipati Ukur kemudian disidang dalam pengadilan Kerajaan, dalam pengadilan tersebut terungkap mengenai kesalahannya dalam upaya penyerangan Batavia dan upaya Pemberontakannya, Sultan Agung kemudian memutuskan memberi hukuman mati padanya, Adipati Ukur kemudian dihukum mati, yaitu dengan cara dipenggal di alun-alun.

Sepeninggal Adipati Ukur, Sultan Agung menyerahkan jabatan Wedana Priangan kepada Rangga Gede, pada masa itu Sultan Agung melakukan reorganisasi pemerintahan di Pariangan untuk menstabilkan dan membersihkan daerah itu dari orang-orang yang ingin memberontak pada Mataram. 

Belum ada Komentar untuk "Pemberontakan Dipati Ukur Pada Kesultanan Mataram"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel