Dongeng Sangkuriang, Pendekar Sakti Berkepala Pitak

Sangkuriang dalam dongenagan dan legenda masyarakat Sunda dikisahkan sebagai seseorang yang mula-mula membangun Gunung Tangkuban Prahu. Ia dikisahkan sebagai pendekar Sakti, diantara kesaktiannya ialah dapat menundukan Jin sebagaimana Nabi Sulaiman. Pendekar Sunda ternama ini memiliki ciri khas yang berlainan dengan para pendekar  pada umumnya, sebab ia berkepala pitak.

Sangkuriang sebenarnya anak seorang Putri  Raja. Namanya Dayang Sumbi. Akan tetapi ibunda dari Sangkuriang ini melanggar larangan ayahnya, ia hamil diluar nikah, ia dihamili pejabat Istana Kerajaan. Mendapati anaknya hamil diluar nikah Raja murka besar pada anaknya, Raja kemudian mengusir Dayang Sumbi dari Istana, sementara orang yang menghamili anaknya dikutuk menjadi “Anjing”.

Dayang Sumbi keluar dari Istana dalam keadaan mengandung, ia kemudian memilih tinggal dihutan dengan kekasihnya yang sudah berubah menjadi Anjing.

Beberapa tahun kemudian anak yang lahir dari Rahim Dayang Sumbi itu tumbuh menjadi anak yang cerdik dan pandai berburu. Ia pandai memanah, apabila ia berburu ia ditemani Anjing Ibunya. Ia tidak mengetahui bahwa anjing itu adalah ayahnya, sebab Ibunya tidak memberi tahunya. Nama Anjing itu adalah “Tumang”.
Alasan Dayang Sumbi tidak memberi tahu Bahwa Tumang adalah ayah Sangkuriang karena ia takut jika anaknya merasa malu memiliki sorang ayah yang berwujud Anjing. Itulah sebabnya Dayang Sumbi merahasiakan hakikat sebenarnya mengenai Tumang kepada anaknya.

Pada suatu hari Sangkuriang mengajak Tumang berburu di hutan. Dengan kemampuan memanah yang baik, Sangkuriang membidik burung dan menembaknya. Burung itupun terjatuh, namun ketika Sangkuriang memerintah Tumang untuk mengambil burung hasil buruannya, Tumang rupanya diam membisu. Ia tidak patuh sebagaimana biasanya.

Mendapati Tumang tidak patuh, Sangkuriang ternyata murka  ia memukul Tumang hingga mati dengan sebatang kayu lantaran sangat kesal karena tidak menuruti perintahnya.

Setelah Tumang mati, sangkuriang membelah perutnya dan mengambil hatinya untuk dibawah pulang. Setibanya dirumah, Sangkuriang memberikan hasil buruan kepada Ibunya untuk dimasak, termasuk memberikan hati Tumang.

Setelah menikmati hidangan hasil buruan,  Dayang Sumbi mencari cari Tumang dengan maksud untuk memberi makan. Seluruh rumah dan halaman sudah diperiksa namun Dayang Sumbi tidak juga menemukannya. Khawatir dengan keadaan Tumang Dayang Sumbi pun bertanya kepada Sangkuriang mengnai keberadaan Tumang.

Dengan entengnya Sangkuriang berkata bahwa Tumang sudah ia bunuh karena tidak patuh menuruti perintahnya dan Sangkuriang pun mengatakan, hati yang telah dimakan adalah hati Tumang.
Bagai disambar petir, Dayang Sumbi kaget terperanjat, ia murka pada anaknya, ia pun dengan reflek memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusirnya dari rumah. Pukulan itu rupanya keras, sehingga darah berceceran dari kepala Sangkuriang. Kelak pukulan tersebut memberikan dampak berupa pitak pada Sangkuriang.

Keputusan Dayang Sumbi mengusir Sangkuriang tersebut membawa rasa penyesalan yang begitu dalam sehingga pada akhirnya Dayang Sumbi memutuskan untuk pergi bersemedi selama berbulan bulan lamanya. Dewa lantas memberikan karunia kepada Dayang Sumbi yakni dikaruniai kecantikan abadi. Ia selalu awet muda.

Setelah diusir oleh ibunya, Sangkuriang akhirnya pergi mengembara tanpa tujuan. Perjalanan yang sangkuriang tempuh tidak menentu, ia pun berkali kali singgah dan berguru dengan banyak orang orang sakti selama bertahun tahun hingga tak terasa Sangkuriang tumbuh besar menjadi pria gagah, tampan dan berilmu tinggi.

Pada suatu ketika, Sangkuriang memasuki sebuah desa.Singkat cerita Sangkuriang akhirnya bertemu dengan ibunya, namun karena wajah Dayang Sumbi sudah berubah menjadi sangat cantik setelah mendapatkan karunia dewa  maka hal tersebut menyebabkan Sangkuriang tidak mengenali lagi wajah ibunya begitupun Dayang Sumbi ia tidak mengenali anaknya, mengingat Sangkuriang berubah menjadi dewasa.

Keduanya sering bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta. Sangkuriang begitu terpersona dengan kecantikan Dayang Sumbi dan hendak segera melamarnya. Awalnya Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang, namun tiba tiba pada suatu hari sewaktu mereka sedang memadu kasih, tanpa sengaja ikat kepala Sangkuriang terlepas.

Dayang Sumbi bermaksud merapihkan kembali ikat kepala Sangkuriang, namun Dayang Sumbi akhirnya terkejut melihat pitak di kepala Sangkuriang. Ia pun menanyakan asal-usul pitak tersebut kepada Sangkuriang.

Sangkuriang menjawab bahwa pitak dikepalanya muncul disebabkan oleh pukulan ibunya sewaktu masih kecil dulu karena telah membunuh anjing kesayangannya. Mendengar jawaban Sangkuriang  maka semakin yakinlah Dayang Sumbi bahwa kekasihnya tersebut tak lain merupakan anak kandungnya sendiri.

Dayang Sumbi kemudian menjelaskan kepada Sangkuriang bahwa mereka adalah ibu dan anak yang sudah lama terpisah, namun Sangkuriang tidak mempercayai ucapan Dayang Sumbi sebab wajah Dayang Sumbi sama muda dengan dirinya.

Sangkuriang terus mendesak Dayang Sumbi untuk segera menikah namun selalu saja mendapat penolakan. Ibu mana yang mau menikah dengan anak kandung sendiri, demikianlah hal yang dipikir Dayang Sumbi berkali kali.

Dayang Sumbi bersikeras menolak lamaran Sangkuriang dan mencoba menghindar untuk tidak bertemu dengan anaknya lagi. Karena bosan diteror terus menerus oleh Sangkuriang, Dayang Sumbi akhirnya mau menerima lamaran asalkan Sangkuriang mampu memenuhi 2 syarat yang diajukannya.
Karena Dayang Sumbi memang tidak berniat menikah dengan Sangkuriang, dibuatkanlah syarat yang sangat berat dengan maksud supaya Sangkuriang tidak akan sanggup memenuhinya dan akhirnya bisa membatalkan pernikahannya dengan Sangkuriang.

Syarat pertama yaitu Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membendung sungai Citarum untuk dijadikan danau yang luas dan syarat kedua meminta dibuatkan kapal besar untuk bulan madu mereka nantinya hanya dalam waktu satu malam saja. Karena kesaktiannya Sangkuriang pun menyanggupi persyaratan yang diajukan Dayang Sumbi tersebut.

Pada hari yang ditentukan, Sangkuriang mulai membendung aliran sungai citarum, namun ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh bangsa Jin. Karena kesaktiaannya, Sangkuriang bisa memanggil ratusan Jin untuk datang membantunya membendung sungai Citarum. Dalam waktu singkat Sungai citarum akhirnya berhasil dibendung, perlahan namun pasti terbentuk sebuah danau yang luas.
Setelah selesai menyelesaikan syarat pertama, Sangkuriang kemudian memerintahkan para Jin mengambil kayu terbaik di hutan untuk dijadikan bahan utama pembuatan kapal besar.

Tidak butuh waktu yang lama bagi bangsa Jin melakukan apa yang diperintahkan Sangkuriang. Dayang Sumbi yang sejak tadi diam diam melihat dari kejauhan merasa panik karena pekerjaan Sangkuriang hampir selesai.

Dayang Sumbi kembali ke perkampungan, membangunkan dan memerintahkan warga untuk memukul alu dan menghidupkan api secara bersama sama sehingga langit menjadi terang. Bangsa Jin yang membantu Sangkuriang mengira hari sudah pagi sehingga memutuskan untuk menghentikan pekerjaannyadan kembali ke alamnya.

Pekerjaan membuat perahu yang hampir selesai itupun gagal dan Sangkuriang pun murka setelah menyadari Dayang Sumbi menipu dirinya dengan sengaja membunyi alu supaya tampak seperti fajar. Dengan sangat marah, Sangkuriang membuang sumbatan yang membendung sungai Citarum ke arah timur dan menjadi gunung Manglayang. Sementara itu perahu besar yang ia buat ditendang hingga melayang di udara dan terjatuh tertelungkup menjadi gunung Tangkuban Perahu.

Tidak hanya sampai disitu, Sangkuring kemudian mengejar Dayang Sumbi hingga ke Gunung Putri. Sesaat ketika hampir terkejar, Dayang Sumbi berubah wujud menjadi sekuntum bunga. Sementara itu Sangkuriang tetap mencari Dayang Sumbi hingga kawasan ujung Berung, disana Sangkuriang tersesat dan masuk kealam gaib.

Sumber Bacaan:
https://www.pustakanasional.com/cerita-rakyat/sangkuriang/. Di akses pada 09-11-2018

Belum ada Komentar untuk "Dongeng Sangkuriang, Pendekar Sakti Berkepala Pitak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel