Alasan Pembubaran Masyumi

Alasan pembubaran Masyumi hingga kini masih diperdebatkan banyak pihak, bahkan alasan resmi yang dikeluarkan Negara dibawah pemerintahan Presiden Soekarnopun didebat dan dituduh sebagai alasan yang mengada-ada.

Alasan pembubaran Masyumi yang resmi dikeluarkan pemerintah bagi anak-anak keturunan mantan politisi Partai Masyumi hingga kini tidak mereka terima. Hal ini sebetulnya wajar karena apabila alasan tersebut diterima tentu mereka mengakui  sebagai keturunan anak-anak dari politikus partai pemberontak selayaknya PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang juga dibubarkan oleh pemerintah karena terlibat dalam upaya pemberontakan.

Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia dibubarkan pemerintah pada Tahun 1960 setelah pemerintah melakukan penyelidikan bahwa sebagian tokoh-tokoh Masyumi bergabung dalam gerakan Pemberontakan PRRI Tahun 1958.

Berdirinya Masyumi

Masyumi berdiri pada 24 Oktober Tahun 1943 atas prakarsa Jepang, mulanya Jepang menghendaki agar Masyumi menjadi oraganisasi perkumpulan umat Islam yang tunduk dibawah kepentingan Jepang. Tidak kalah taktik dengan Jepang, para Ulama pun akhirnya memamnfaatkan Masyumi sebagai wadah persatuan Umat Islam untuk menuju kemerdekaan yang dicita-citakan.

Berdirinya Masyumi serta bergabungnya para Ulama dalam organisasi tersebut nyatanya menjadi semacam pertarungan siasat diantara kedua belah pihak, bagi Jepang didirikannya Masyumi bertujuan agar umat Islam dapat dikendalikan sementara Umat Islam memanfaatkan fasilitas yang diberikan Jepang untuk menggalang persatuan umat.

Kasus pendirian Masyumi oleh Jepang hampir serupa dengan pembentukan pasukan PETA (Pembela Tanah Air) oleh Jepang, tujuannya agar pasukan PETA mampu membantu Jepang dalam perang melawan sekutu, sebaliknya Politikus Republik memanfaatkannya sebagai ajang melatih kecakapan tempur rakyat untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Dikemudian hari PETA menjadi cikal bakal terbentuknya TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Pada awal pembentukannya, kiprah Nadhdlotul Ulama (NU) di tubuh Masyumi amat begitu menonjol dibandingkan dengan kiprah ormas Islam lainnya yang tergabung dalam Masyumi, maka tidaklah mengherankan jika Kiai Hasyim Asya’ri yang juga merupakan pendiri dan Ketua Umum NU didapuk sebagai ketua Umum Masyumi yang pertama.

Masyumi Sebagai Partai

Berdirinya Masyumi sejak 1943 sedikit banyak membuat persatuan antara orang-orang Islam yang berasal dari organisasi NU,  Muhamadiyah, Persatuan Umat Islam (PUI) dan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) menjadi lebih solid, cita-cita diantara ormas itu sama yaitu kepentingan umat Islam dan kemerdekaan.

Pada 7 November Tahun 1945 selepas kekalahan Jepang pada sekutu dan selepas 2,5 Bulan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, umat Islam yang tergabung dalam Masyumi memutuskan untuk mendirikan Partai Masyumi. Pada masa ini diantara ormas NU, Muhamadiyah, PUI dan PUII masih solid, mereka masih memiliki semangat dan cita-cita yang sama sebagaimana dibentuknya organisasi Masyumi pada 1943.

Kiprah NU dikerdilkan dan Keluarnya NU dari Masyumi

Pada Tanggal 5 April 1952 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui  surat keputusannya menyampaikan bahwa NU keluar dari Masyumi, keluarnya NU dari Partai Masyumi yang sudah berjalan selama 7 tahun (1945-1952) disebabkan ketamakan oramas Islam lainnya dalam Tubuh Masyumi, mereka mengkerdilkan kiprah ulama-ulama NU dalam jabatan kepengurusan daerah maupun jabatan pemerintahan, padahal sumbangan NU terhadap Masyumi begitu besar. Bagi kaum Islam Moderenis yang mendominasi  kepengurusan di tubuh Masyumi para Ulama Tradisionalis NU dianggap lebih cocok mengurusi mushola, pesantren ketimbang terlalu banyak berkiprah dalam organisasi Masyumi.

Ketamakan kaum moderenis yang mendominasi kepengurusan di tubuh Masyumi yang sudah mengingkari nilai-nilai kesetaraan dan kebersamaan diantara ormas Islam dalam tubuh Masyumi membuat NU berang, sehingga dikemudian hari, NU menyatakan diri keluar dan berdiri sebagai Partai Politik.
Alasan Pembubaran Masyumi
Pawai Masyumi 1955
Pada Tahun 1955, ketika Pemilihan Umum (Pemilu) digelar NU rupanya memperoleh suara yang mengejutkan, sebab suara pemilih partai NU sebanyak 6,9 juta suara (18,4%) hampir mengungguli suara Masyumi yang memperoleh 7,9 juta suara (20,9%). Hal tersebut tentu diluar dugaan karena partai Masyumi yang terdiri dari gabungan beberapa ormas Islam yang ada suaranya dipecundangi oleh paratai baru yang hanya dari satu ormas Islam.

Eksistensi NU yang keluar sebagai pemenang Pemilu ketiga Tahun 1955 setelah PNI dan Masyumi menjadikan NU sebagai partai yang tokohnya banyak dipercaya oleh pemerintahan Soekarno, pada masa inilah pertarungan politik antara NU dan Masyumi tidak dapat terelakan.

Masyumi di Bubarkan

Kiprah NU yang begitu besar pada pemerintahan membuat suasana menjadi terbalik, para politikus Masyumi yang merasa dianak tirikan oleh Soekarno menjadikannya sebagai partai yang selalu mengkritisi kebijakan Soekarno dan pemerintahan yang kadang disampaikan secara serampangan.

Belum juga lama diterpa perpecahan dengan keluarnya NU dari Masyumi, selanjutnya masih pada suasana Pemilu 1955 Muhamdiyah melepaskan keanggotaan istimewanya pada Masyumi akibat dari ketidak puasan dengan jajaran pengurus Masyumi yang menurut ormas ini kurang adil.

Tiga tahun selepas pemilu, tepatnya pada 1958 beberapa tokoh dari Partai Masyumi bersama PSI (Partai Sosialis Indonesia) kedapatan mendukung gerakan pemberontakan PRRI di Sumatra Barat. Keadaan semacam itu membuat Soekarno berang hingga akhirnya beradasarkan keputuasan Jaksa Agung RI, Masyumi dan PSI harus dibubarkan, jika tidak ingin dianggap sebagai partai terlang, maka mulai setelah itu tepatnya pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan.
Alasan Pembubaran Masyumi
Masyumi

Masyumi Pasca Tumbangnya Orde Baru

Setelah tumbangnya Orde Lama ditandai dengan menjabatnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia, Masyumi mencoba bangkit lagi namun tetap dilarang oleh pemerintah. Setelah pelarangan tersebut, para anggota dan pengikut Masyumi mendirikan Keluarga Bulan Bintang (Crescent Star Family) untuk mengkampanyekan hukum syariah dan ajarannya.

Setelah kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, upaya lain untuk membangkitkan partai ini kembali dilakukan, tetapi para pengikut Masyumi mendirikan Partai Bulan Bintang, yang berpartisipasi dalam pemilihan legislatif tahun 1999, 2004, 2009, 2014 dan 2019, namun partai Bulan Bintang tidak mendapatkan sambutan yang antusias dari masyarakat.

Baca Juga: PRRI Brontak Karena Menuntut Ekonomi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel