Asal-Usul Hantu Kuntilanak

- September 25, 2019
Ada banyak jenis hantu yang populer  di Indonesia, salah satunya adalah hantu wanita berambut panjang, orang Jawa menyebutnya Kuntilanak sementara orang Melayu menyebutnya Puntianak atau Pontianak. Di Indonesia hantu Kuntilanak sudah dikenal sejak lama, eksistensinya tercatat dalam sejarah berdirinya Kota Pontianak di Kalimantan Barat.

Menurut legenda bahwa asal-usul kuntilanak berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia sebelum melahirkakn anaknya.  Dalam kepercayaan orang  Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.

Menurut kepercayaan orang Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan orang Jawa, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kepala kuntilanak.

Legenda Asal-Usul Kuntilanak

Asal-usul Kuntilanak dapat ditelusuri dari kisah legenda yang berkembang di tegah-tengah masyarakat pulau Kalimantan. Menurut legenda ini katanya ; Dahulu  di salah satu daerah di Kalimantan Barat tepatnya di daerah pantai utara, ada kejadian yang sangat memalukan, yang dilakukan oleh salah seorang putri dari kerabat keluarga pembesar.

Sang putri hamil diluar nikah, tindakan yang dilakukannya itu merupakan aib besar bagi keluarga para pembesar yang menjunjung tinggi etika kehormatan. Singkat kisah, karena khawatir mencemarkan nama baik keluarga, sang putri dibuang ke sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah sungai Kapuas.

Di Pulau itu sang putri hidup sebatang kara. Bulan demi bulan terlewati, tubuh cantiknya semakin tertutupi oleh rambut panjangnya yang kini tak teratur sementara perutnya semakin lama semakin membesar tetapi juga ia semakin kurus. Kadang  jika teringat kesalahannya si puteri sering menangis, kadang tertawa dan berteriak-teriak. Akhirnya, pada suatu saat karena tidak mampu menanggung derita si puteri itu meninggal dunia karena sakit dan merana.

Tak ada tempat kuburnya, meninggal begitu saja tanpa ada yang tahu. Si puteri meninggal dalam keadaan tidak wajar, kondisinya pun sedang hamil besar dan siap melahirkan, tetapi karena tidak tenang saat meninggal, pada malam hari setelah siang ia meninggal, si puteri tiba-tiba bangkit dari kematiannya.

Dia bangkit dari kematian yang tak wajar, pertama yang ditujunya adalah sebuah pohon besar dekat pondok rumahnya. Pohon itu paling tua di pulau tersebut dan ditengah batang pohon terdapat lubang yang cukup besar. Di lubang pohon besar itulah si Putri melahirkan bayinya.

Kadangkala hantu si puteri ini sering terlihat oleh nelayan yang  kebetulan singgah di pinggir pulau, para nelayan melihatnya sedang menggendong bayi, sehingga orang-orang kemudian menyebutnya “Kunti Anak”atau perempuan yang menggendong anak atau dalam bahasa Melayu “Puan Anak” hingga menjadi kalimat “Kuntilanak” atau “Puntianak”.  Begitulah asal-usul mengapa kemudian hantu tersebut dinamakan Kuntilanak atau Puntianak.

Kuntilanak dalam Sejarah Berdirinya Kota Pontianak

Di lihat dari sejarah kota Pontianak, kota tersebut mendapat namanya karena konon Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu itu ketika akan menentukan tempat pendirian Istana.

Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan empat belas perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana.

Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong. Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan shalat dzuhur itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.

Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan hantu Pontianak.

Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu. Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search