Salahuddin Al-Ayyubi Pejuang Besar Berwajah Melankonis

- Juni 08, 2019
Secara fisik sama sekali Salahuddin jauh dari kriteria pria macho yang bertubuh kekar dengan otot-otot menyeringai. Ia hanya seorang laki-laki agak ceking dengan wajah melankonis.

Ayah dan pamannya mulanya tidak menaruh harapan besar terhadap Salahuddin, tapi siapa sangka pria itu adalah pria yang nantinya membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan tentara Salib yang dikenal bengis dan tangguh.

Kelahiran Salahuddin

Salahuddin bukan lahir dari rahim orang Arab, ia lahir dari Bapak dan Ibu yang berasku Kurdi. Yaitu suku Non Arab yang sebarannya berada di Irak dan Turki.

Salahuddin lahir pada 1137 Masehi, ayahnya bernama Najmuddin. Sementara ibunya bernama Sit Khatun. Salahuddin adalah anak satu-satunya harapan orang tuanya, ayahnya adalah komandan militer satuan tempur dari Kekhalifahan Abasyiah.

Mulanya, ketika lahir ayahnya memberinya nama Yusuf, agaknya nama tersebut sesuai dengan kindisi wajahnya yang tampan.

Dari tampilan perawakan dan wajahnya, Yusuf sebenarnya lebih pantas menjadi seorang dokter, filusuf ataupun cendikiwan kenamaan, sebab itu ayahnya sendiri pada mulanya tidak pernah mengajarinya ilmu-ilmu ketentaraan kepada anak semata wayangnya.

Masa Kanak-Kanak Salahuddin

Dari mulai umur 0 hingga 5 Tahun, Yusuf sebenarnya bernasib baik, sebab sebelum kelahirannya, Ayahnya sukses menjadi komandan tempur Kekhalifahan Abasyiah, sehingga ia dianugerahi jabatan sebagai Kepala Benteng Tirkit di Irak.

Sebagaimana selayaknya kepala Benteng, tentu kehidupannya bergelimang harta, oleh karena itu masa awal kehidupan Yusuf dipenuhi dengan kecukupan dan kebahagiaan.

Namun, belum juga Yusuf dewasa, rupanya jabatan yang diemban ayahnya dicabut Khalifah. Rencananya Benteng Tirkit akan diisi oleh pejabat baru, sehingga mau tidak mau Najmuddin harus kembali ke Bagdad menjadi tentara biasa lagi.

Keluar dari Benteng Tirkit

Kabar mengenai pergantian kepala Benteng Tirkit rupanya terdengar oleh Assaduddin Syirkawah saudara Najmuddin. Assaduddin yang kala itu menjabat sebagai wakil dari Penguasa Kota Mousul mengajaknya ke kota itu, dengan harapan Najmuddin beserta keluarganya dapat hidup layak.

Mendapati tawaran dari saudaranya, Najmuddin, Istri serta anaknya kemudian pindah ke Mousul untuk mengabdi ke Penguasa Kota itu. Waktu itu Mousul dipimpin oleh Najmuddin Janki.

Pendidikan Salahudin

Pengabdian Najmuddin kepada penguasa Mousul mengantarkanya kembali menjadi seorang yang berkecukupan, iapun memasukan anaknya Yusuf kedalam lembaga-lembaga pendidikan di Kota itu.

Najmuddin mulanya hanya mendidik serta memasukan anaknya ke lembaga-lembaga pendisikan yang mengajarkan Ilmu-Ilmu Islam, dan Ilmu-ilmu lainnya tanpa sedikitpun mengajari anaknya seni perang. Hal ini dilakukan karena secara fisik memang Yusuf terbilang kurang meyakinkan bahkan tidak pas jika dididik dengan ilmu-ilmu ketentaraan.

Pada usia yang ke 10 tahun, Yusuf sudah dapat menghafal al-Quran, selanjutnya Yusuf juga belajar ilmu Tafsir, Fiqih dan Hadist, maka tidaklah mengherankan jika dimasa remajanya Yusuf sudah ahli dalam bidang keagamaan. Bapaknya menyangka anaknya akan menjadi seorang Ulama.

Namun, anggapan ayahnya itu ternyata salah, sebab ketika Imaduddin mengajak keponakanya ikut bertempur untuk merebut Kota Ba'labak dari musuh, Yusuf menunjukan sikap diluar dugaan.

Salahuddin Piawai dalam Berperang

Pada pertempuran di Ba'labak Yusuf rupanya menunjukan sikap-sikap diluar dugaan, sebab sebagai seorang pemuda, Yusuf mampu menjalankan tugas-tugas ketentaraan yang diembannya.

Pamannya tercengang, sebab bagaimana mungkin keponakannya yang melankonis ternyata bagai singa dimedan pertempuran. Lagipula selama hidupnya Yusuf sepertinya tidak menyukai ilmu-ilmu ketentaraan. Kehebatan Yusuf dalam medan perang kemudian diadukan Imaduddin kepada saudaranya Najmuddin.

Betapa bangganya Najmuddin mendengar berita bahwa anaknya garang dalam pertempuran, mulai setelah itu, Najmuddin kemudian menurunkan ilmu perangnya kepada anaknya.

Selepas Kota Ba'labak jatuh ketangan Kekhalifahan Abasyiah, Imaduddin akhirnya merekomendasikan kakanya untuk menjadi penguasa Benteng Ba'labak, maka selepas itu, keluarga Najmuddin kembali bersinar.

Dalam memerintah Ba'labak, Najmuddin selalu membawa anaknya dalam tiap-tiap agenda politik dan militer, sehingga dari sini Yusuf dapat menimba ilmu peperangan dan pemerintahan dari praktek langsung di lapangan. 

Mendapat Julukan Salahuddin

Yusuf dijuluki Salahuddin tentu bukan datang tiba-tiba, apalagi belakangan dunia lebih mengenal julukannya ketimbang nama aslinya.

Selepas Yusuf menunjukan keterampilannya dalam berperang dalam merebutkan Benteng Ba'labak serta diajarkan seni berperang dan pemerintahan oleh ayahnya, Yusuf sering diajak paman-pamanya untuk tugas-tugas militer.

Manakala Yusuf diajak pamannya Assaduddin untuk mengusir tentara Salib yang hendak menjajah Mesir, Yusuf lagi-lagi menunjukan keperkasaannya, sehingga ia dan pamannya berhasil mengusir tentara Salib dari Mesir, bahkan ia juga kemudian menghukum mati penguasa Mesir yang kala itu bersekutu dengan orang-orang Eropa.

Pasca kekosongan pemerintahan di Mesir, kekuasaan atas Mesir sebenarnya jatuh pada Asaduddin, namun sang paman rupanya wafat karena sakit, sebab itulah yang menjadi penguasa di Mesir adalah Yusuf keponakannya.

Pada saat Yusuf dilantik menjadi Penguasa di Mesir, kondisi Negara-negara Islam waktu itu sebagiannya sudah di kuasai tentara Salib, bahkan Yerusalem kota suci umat Islam ke tiga telah terjajah.

Melihat kondisi semacam itu, serta dilandasi keberhasilannya mengusir tentara salib dari Mesir, maka dalam pelantikannya sebagai penguasa Mesir, ia bersumpah "akan membebaskan negeri-negeri Islam dari cengkraman orang-orang Eropa dibawah bendera Salib".

Sumpah itu belakangan mengantarkannya dijuluki sebagai "Salahuddin" Yang bermaksud "Kebaikan Agama" Maksudnya Yusuf adalah orang yang nantinya membangkitkan lagi kebaikan agama Islam yang kala itu dikotori oleh penjajah Eropa. Mulai selepas itu Yusuf dikenal oleh lawan maupun kawan dengan sebutan Salahuddin/Saladin. 

Sumpah Salahuddin yang tercapai

Sumpah Salahuddin untuk dapat mengusir tentara salib dari negeri-negeri Islam rupanya berhasil, meskipun dengan jalan yang berliku-liku.

Sebelumnya, Salahudin membersihkan para penghianat dari negeri-negeri Islam, selanjutnya ia mendirikan kerajaan baru di Mesir yang disebut Dinasti Ayyubiyah. Dari dinastinya itulah kemudian ia dikenal juga dengan nama Salahuddin al-Ayyubi.

Melalui kerajaan barunya, Salahuddin menggalang persatuan Suni-Syiah dan Arab non Arab untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang terjajah.

Benar saja, selepas persatuan umat Islam tergalang, Salahuddin berasama pasukannya satu persatu berhasil membebaskan negeri-negeri Islam yang terjajah, Syam, Syiria, Libanon, dan beberapa negeri lainnya dapat kembali di rebut.

Pada tahun 1187 Masehi bertepatan dengan Tahun 583 Hijriyah, Yerusalem dengan Baytul Maqdisnya dapat dibebaskan. Salahudin tuntas menunaikan sumpahnya, sementara tentara Salib yang dikenal bengis dan tangguh itu terusir dengan rasa malu. Diusir oleh Salahuddin, seorang pejuang besar berwajah melankonis.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search