Mengenal Kalimat Isim, Fiil dan Harf dalam Bahasa Arab

- Maret 24, 2019
BUNGFEI.COM-Dalam Bahasa Arab kata atau كلمة dibagi menjadi 3 macam yaitu kata benda (اسم), kata kerja (فعل) dan verba (حرف). Adapun pengertian serta macam-macam Isim, Fiil dan Harf adalah sebagai berikut:

1. Kalimat Isim

Isim menurut Ali Jarim (Tanpa Tahun:15) adalah:

كل لفظ يسمي به إنسان أوحيوان، أونبات أوجماد أو أي شيء آخر

Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwa isim adalah kata yang digunakan untuk menamai manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati dan yang semisalnya. Sementara itu mengenai macamnya Isim menurut Sonhaji (Tanpa Tahun:7) dibagi kedalam tiga bagian yaitu isim mufrad, tasniah dan jama’. Adapun penjelasannya adalah sebagi berikut:

  • Isim Mufrad

Isim mufrad adalah kata yang menunjukan makna sendirinya dengan tanpa disertai waktu, dan memiliki makna tunggal seperti kata كتاب

  • Isim Tasniah

Isim Tasniah adalah adalah kata yang menunjukan makna sendirinya dengan tanpa disertai waktu, dan memiliki makna dua seperti kata كتابان

  • Isim Jama’

Isim Jama’ adalah adalah kata yang menunjukan makna sendirinya dengan tanpa disertai waktu, dan memiliki makna lebih dari dua seperti kata كتب. Sementara itu isim jama’ terbagai kedalam tiga kategori pembagian yaitu (1) jama’ mudzakar salim (2) jama’ muanast salim, dan (3) jama’ taksir, adapun penjelasannya sebagai berikut:

1). Jama’ Mudzakar Salim
Jama’ yang dibentuk dari isim mufrodnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis laki-laki.
Contoh:

مُؤْمِنُوْنَ / مُؤْمِنِيْنَ (Para laki-laki mukmin)
كَافِرُوْنَ / كَافِرِيْنَ ( Para laki-laki kafir)

2). Jama’ Muanast salim
Jama’ yang dibentuk dari isim mufrodnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis perempuan.
Contoh:

( Para perempuan mu’min)مُؤْمِنَاتٌ
(Para perempuan kafir)كَافِرَاتٌ

3). Jama’ Taksir
Jama’ yang berubah dari bentuk mufrodnya
Contoh:

رَسُوْلٌ= رُسُلٌ

2. Kalimat Fiil

Fiil  menurut Ali Jarim (Tanpa Tahun:15) adalah:
كل لفظ يدل على على حصول عمل فى زمان خاص
Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwa fiil  adalah kata kerja yang mengandung waktu-waktu tertentu. Menurut kandungan waktunya kata kerja atau fiil dibagi kedalam tiga bagian (1) fiil madzi yaitu kata kerja yang mengandung makna lampau seperti kata قراء (2) fiil mudhore yaitu kata kerja yang mengandung makna sedang/akan seperti kata يقراء (3) fiil amar yaitu kata kerja perintah yang mengandung makna akan seperti kata إقراء.

3. Kalimat Harf

Harf  menurut Ali Jarim (Tanpa Tahun:15) adalah:
كل لفظ لايظهر معناه كاملا الاّ مع غيره

Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwa harf  adalah kata sambung, yaitu kata yang tidak akan mempunai makna apabila tidak bersamaan atau bersambung dengan kata lainnya, Contoh seperti kata فى baru mempunyai makna apabila bersambung dengan kamimat yang lain, seperti dalam susunan kalimat jar-majrur فى المسجد.

Selanjutnya setelah dibahas mengenai kata dalam bahasa Arab sebagaimana yang telah dipaparkan di atas diketahui juga bahwa, mengenai asal kata dalam bahasa arab terdapat dua pendapat, hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Fuad (dalam Ues,1999:12) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai asal-usul kata dalam bahasa arab menurut para ahli, yaitu perbedaan pendapat tentang asal kata antara ahli bahasa Kufah dan ahli bahasa Basrah.

Ahli bahasa dari Basrah berpendapat bahwa asal kata adalah dari masdar. Sedangkan ahli bahasa Kufah berpendapat bahwa asal kata berasal dari fi’il. Keduanya memiliki argument yang kuat.
Adapun pendapat ahli Basrah menyatakan bahwa asal pembentukan kata itu dari masdar adalah:

  1. Masdar merupakan isim, yang menunjukkan zaman mutlak (tanpa waktu). Sementara fi’il menunjukkaan keterangan waktu tertentu dan terikat. Jadi, yang mutlak lebih umum dan mendasar dari pada yang terikat.
  2. Masdar merupakan isim, yang dapat berdiri sendiri tanpa membutuhkan fi’il. Sementara fi’il tidak dapat berdiri sendiri tapi membutuhkan isim dari lain.
  3. Masdar disebut demikian karena fi’il berasal dari masdar. 
  4. Masdar hanya menunjukkan satu hal yaitu kejadian. Adapun menunjukkan dua hal kejadian dan waktu. Jadi, satu merupakan asal dari dua, dan masdar merupakan asal dari fi’il. 
  5. Masdar mempunyai satu bentuk seperti kata “darbun” sementara fi’il mempunyai beberapa bentuk seperti kata “qatala – yaqtilu –uqtul”.
  6. Fi’il dengan keutuhannya dapat menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh masdar seperti  kata /daraba/ menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh /darbun/. (Ues,1999:12)
Adapun pendapat ahli Basrah menyatakan bahwa asal pembentukan kata itu dari fi’il  adalah:
  1. Masdar itu sohih karena kesohihan fi’il dari huruf illat dan begitu juga sebaliknya. Contoh: /qāma wa qiyāman qawama qawāman/. Maka, masdar harus mengikuti fi’il dan hal ini berarti fi’il adalah asal masdar. 
  2. Sesungguhnya fi’il berpengaruh bagi masdar. Contoh: /darabtu darban/,lafadz /ad-darbu/ pada contoh tersebut tergantung dari fi’il /daraba/, Artinya, posisi āmil lebih asli dan utama dari pada yang ma’mūl. 
  3. Masdar merupakan ta’kid (penegasan) bagi fi’il. Contoh: /darabtu darban/, lafadz /darban/ menegaskan pada fi’il /daraba/ .
  4. Masdar maknanya tidak dapat tergambarkan selama tidak dilakukan oleh seorang fa’il (subjek). Oleh karena itu masdar selalu tergantung pada  fi’il. (Ues,1999:12)

Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah kemudian dipahami bahwa mengenai asal-usul kata kata dalam  Bahasa Arab terdapat dua pendapat, yang satu menyatakan dari masdar sementara pendapat ahli bahasa yang satunya menyatakan dari fi’il. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search