Fungsi Pokok Terapi Bermain

- Maret 28, 2019
Bungfei.com- Segala sesuatu tentu memiliki fungsinya masing-masing, begitupun dengan terapi bermain. Fungsi terapi bermain bersifat teraupetik dan tentunya sangat erat hubungannya dengan faktor biological, intrapersonal, interpersonal, dan sosiocultural.

Faktor biological dimaksudkan bahwa terapi bermain berkaitan erat dengan fungsi secara biologis, diantaranya bermain dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempelajari keterampilan dasar, dapat digunakan sebagai penyalur energi untuk mendapatkan relaksasi, dan bisa menjadi stimulus secara kinestetik.

Bermain merupakan suatu wahana bagi anak untuk mempelajari keterampilan-keterampilan dasar. Misalnya saat seorang bayi belajar mengkoordinasikan tangan dan gerakan mata (keterampilan dasar) melalui alat permainan yang menarik bagi dirinya (krincingan bayi) sebagai bentuk permainan untuk menjelajahi lingkungannya. Dalam permainan, pada umumnya keterampilan-keterampilan dasar dapat dipelajari anak secara kebetulan yang mana fokusnya secara keseluruhan merupakan bentuk penyembuhan.

Melalui bermain seorang anak dapat menyalurkan seluruh energi serta mendapat relaksasi. Bermain identik dengan gerak, Diana Mutiah berpendapat bahwa berpartisipasi dalam permainan yang menuntun seluruh badan untuk bergerak dapat memberikan kesempatan untuk menyalurkan energi yang tidak dapat dilakukan dengan cara lain.

Selanjutnya sebuah teori klasik, yakni teori surplus energi yang diajukan oleh Spencer berpandangan bahwa aktivitas bermain bermula dari bertumpuknya energi dalam tubuh yang perlu disalurkan. Perilaku bermain ditujukan untuk membuang atau melepaskan energi yang berlebihan tersebut.

Bermain juga dapat dijadikan sebagai sarana relaksasi, ketika anak telah jenuh dengan rutinitas yang monoton, mereka cenderung akan mencari kegiatan yang dapat mengembalikan tenaga, kegiatan yang paling tepat adalah bermain.

Saat anak-anak bermain, mereka merasa bebas, mereka akan tertawa dan terlihat senang ketika ia berlari, berkejar-kejaran, melompat-lompat, bahkan di saat ia terjatuh. Bermain memberikan kemungkinan terhadap anak untuk melakukan stimulasi secara kinestetik. Misalnya seorang anak duduk di atas kursi goyang dan ia berkhayal sedang mengendarai sebuah mobil.

Faktor intrapersonal dalam bermain melibatkan tiga fungsi, yakni untuk memenuhi gairah diri, untuk mendapatkan kemampuan menguasai situasi tertentu, dan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengatasi konflik-konflik dirinya.

Bermain dapat memenuhi gairah diri. Setiap individu tentu memiliki keinginan, namun tidak semua keinginan dapat terwujudkan. Ada beberapa keinginan yang harus diikhlaskan atas kemustahilan wujudnya, melalui bermainlah anak dapat menyalurkan keinginannya yang tidak terpenuhi di dunia nyata.

Bermain bagi seorang anak merupakan sesuatu yang harus ia lakukan, sehingga bermain akan memudahkan seorang Konselor untuk melakukan penerapan fungsi intrapersonal, dalam istilah lain melalui bermain konselor dapat mengetahui keinginan apa yang diidamkan oleh seorang anak.

Bermain dapat memungkinkan seorang anak untuk memperoleh kemampuan menguasai situasi tertentu. Bermain memberikan kesempatan bagi seorang anak untuk dapat menjelajahi lingkungannya. Bermain juga menjadi sarana untuk mengukur potensi yang dimiliki anak, meraka akan berusaha untuk menguasai benda, memahami sifatnya, maupun peristiwa yang berlangsung dalam lingkungannya.

Misalnya dalam permainan petak umpet, seorang anak akan menjelajahi lingkungan, sehingga saat itu memungkinkan seorang anak untuk mempelajari fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pikiran atau daya ingat, tubuh, dan dunia sekitarnya.

Begitu pula saat anak berlari keliling rumah sambil berpura-pura menjadi sebuah kapal terbang, dalam hal ini anak sedang mempelajari kemampuannya untuk dapat merasakan inderanya, menirukan suara dan gerak kapal terbang. Dalam kaitan ini, indera bermain seorang anak diarahkan secara menyeluruh kepada perkembangan kognitif.

Bermain dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengatasi konflik- konflik dirinya. Setiap makhluk yang bernyawa tentu tidak terlepas dari peliknya masalah hidup. Pun anak-anak, sekalipun dunia mereka terkesan sangat sederhana, anak-anak juga kerap diterpa masalah dalam hidup. Freud mengatakan bahwa melalui bermain anak dapat memindahkan perasaan negatif ke objek bermainnya.

Sebagai contoh, setelah anak mendapat hukuman dari guru, anak dapat menyalurkan marahnya dengan bermain pura-pura memukul boneka. Dengan mengulang-ulang pengalaman negatif melalui bermain, otomatis anak dapat mengatasi konflik yang berkecamuk dalam dirinya karena mereka telah mampu membagi pengalaman negatifnya kedalam bagian-bagian kecil yang dapat dikuasainya, inilah yang membuat mereka merasa lebih lega.

Bermain memberikan fungsi interpersonal sebagai wahana bagi seorang anak untuk lebih banyak mempelajari keterampilan-keterampilan sosial. Ketika bermain, anak belajar terlepas dari bayang-bayang pengasuhnya, mereka berusaha mempelajari keterampilan baru sebagai cara untuk menjadi seseorang yang diharapkan oleh orang yang lebih tua darinya. Bermain juga memperkenalkan anak pada pengertian bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat, oleh karena itu mereka harus belajar untuk mengenal dan menghargai masyarakat melalui fungsi bermain.

Fungsi bermain yang terakhir adalah sosiocultural, yaitu sebagai media belajar anak-anak dalam mempelajari peranan budaya bagi kepentingan diri mereka maupun orang lain. Permainan juga berfungsi sebagai sarana pralatihan bagi anak untuk mengenal aturan-aturan (sebelum ke masyarakat), mematuhi norma-norma dan larangan- larangan, berlaku jujur, setia (loyal), dan lain sebagainya.

Permainan yang berusaha membantu anak-anak dalam mengembangkan kemampuan kognitifnya sering disebut sebagai permainan edukatif. Menurut Andang Ismail, permainan edukatif merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat merupakan cara atau alat pendidikan yang bersifat mendidik.

 Andang Ismail juga berpendapat bahwa permainan edukatif memiliki fungsi untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak melalui proses pembelajaran bermain sambil belajar. Merangsang pengembangan daya pikir, daya cipta, dan bahasa agar dapat menumbuhkan sikap, mental, serta akhlak yang baik. Menciptakan lingkungan bermain yang menarik, memberikan rasa aman, dan menyenangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran anak-anak.

Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwa fungsi dari terapi bermain banyak ragamnya, akan tetapi fungsi terapi bermain dalam kegiatan pendidikan pada intinya untuk merangsang anak agar dapat belajar dengan suasana semenarik mungkin sehingga anak dapat giat untuk belajar dan melupakan hal lainnya.

Baca Juga : Pengertian Terapi Bermain Dalam Dunia Kesehatan


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search