Kisah Nabi Muhamad Sebelum Diangkat Menjadi Nabi

Kisah Nabi Muhamad dalam artikel ini dibatasi pada kisah sebelum diangkatya beliau menjadi seorang Nabi, dengan demikian kisah yang akan disuguhkan dalam artikel ini dimulai dari masa kelahiran, kanak-kanak, remaja dan dewasa. Masa dewasa dimasukan kedalam pembahasan karena sebagaimana diketahui Nabi Muhamd diangkat menjadi Nabi ketika beliau berumur 44 Tahun.
Sebelum penulis membahas seputar kisah Nabi Muhamad SAW sebelum menjadi Nabi, kiranya lebih baik bagi penulis untuk pertama-tama menggambarkan biografi atau profil baginda Muhammad SAW sebagai sorang yang yang belum diangkat menjadi nabi, berikut ini adalah pemaparannya:

Nama
:
Muhamad
Julukan
:
Abul Qosim
Gelar
:
al-amin
Nabi ar-Rahmah,
Rasulullah/Rasul
Syahidan
Mubasysyiran
Da'i
al- Mustafa
TTL
:
Wafat
:
Bangsa
:
Arab
Etnis
:
Qurasys
Sub Etnis
:
Hasyim
Ayah
:
Abdullah
Ibu
:
Aminah
Istri Sebelum Menjadi Nabi
:

Peran/Sumbangsih
:
Rahmat  bagi semesta alam

(1) Masa Kelahiran
Nabi Muhamad Saw dilahirkan di Makkah pada hari senin 12 Rabiul Awwal tahun Gajah. Dinamakan tahun gajah dikarenakan Raja Habasyah mengirimkan tentara ke Makkah dalam tahun kelahiran beliau itu untuk menghancurka Ka’bah dan pada saat itu banyak sekali gajah.

Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan ke tempat kakeknya, Abdul Muththalib, untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muththalib datang dengan perasaan suka cita, lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah, seraya berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Dia memilihkan nama Muhammad bagi beliau. Nama ini belum pernah dikenal di kalangan Arab. Beliau dikhitankan pada hari ketujuh, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Arab.

Setelah dilahirkan, sebagaimana adat yang berlaku di Makkah bagi para bangsawan, pada hari kedelelapan mereka biasa mengirim anak-anak itu ke pedalaman dan baru pulang ke kota sesudah berumur delapan atau sepuluh tahun. Sebelumnya memang sudah menjadi tradisi para kabilah pedalaman ini datang ke kota untuk mencari anak yang akan disusukan selama beberapa waktu.

Biasanya mereka akan mencari anak yang masih mempunyai orang tua lengkap dan menghindari anak-anak yatim karena mereka mengharapkan balas jasa dari orang tuanya.

Banyak yang menolak untuk menyusukan Muhammad sebelum ahirnya datang seorang perempuan, Halimah binti Abi Zua’ib dari bani Sa‘ad untuk bersedia menerima Muhammad dengan harapan ingin mendapat berkah dengan merawat anak yatim.

(2) Masa Kanak-Kanak
Dua tahun Muhammad tinggal di Sahara disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Shaima putrinya. Terjadi peristiwa kenabian ketika usia Muhammad dua tahun lebih sedikit.  Ketika itu Muhammad sedang bermain bersama saudara dan teman-teman sebayanya lepas dari pengawasan keluarga, datang dua orang berbaju putih yang diduga keduanya adalah Malaikat. 

Diceritakan, anak dari keluarga Sa‘ad yang berlari pulang dan berkata kepada orang tuanya, bahwa saudaranya dari Quraysh itu (Muhammad) diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih-putih, ia dibaringkan, perutnya dibelah sambil diguncang-guncangkan dan dibalik-balikkan. Namun cerita ini sulit dipercaya baik di kalangan Muslim maupun orientalis, karena dianggap sumbernya lemah, yang melihat peristiwa itu adalah anak-anak kecil yang baru berusia dua tahun lebih sedikit, begitu pula dengan Muhammad.

(3) Masa Remaja
Pada awal masa remajanya (10-16  Tahun)  Rasulullah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Usia muda yang produktif telah tampak meskipun Rasulullah tidak suka pada kebutuhan duniawi, bekerja untuk menghadapi urusan hidup yang mulia. Setelah melihat tanah di kota Makkah tidak layak untuk cocok tanam, maka Rasulullah tidak menjadi petani dan beliau bukan pula seorang hartawan untuk menjadi saudagar, iapun akhirnya menggembala yang baginya merupakan jalan untuk bekerja dan dalam pekerjaan tersebut beliau mendapat hikmah.

Sesungguhnya kepedulian manusia terhadap hewan-hewan jinak dan hidup dekat darinya, dan menolongnya dengan menjaga, melindungi, dan memberi makan, kesemuanya memiliki pengaruh pendidikan psikologis yang pada luasnya pengetahuan empiris dan terbukanya penajaman perasaan dalam memikul tanggung jawab dan pandangannya dalam kebaikan memimpin.

Rasulullah giat bekerja menggembalakan kambing di lembah-lembah yang dekat dari Shafa bersama saudara sesusuannya. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan ia biasa menggembala kambing di kalangan Bani Sa’d dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar.

Ketika Nabi berusia 13 Tahun Nabi di ajak pamannya berdagang ke Syam. Ketika sampai di suatu tempat disebut Bushra, seorang pendeta yagn bernama Buhaira melihat Beliau saw. Lalu mengabarkan kepada pamannya bahwa beliau saw akan menjadi nabi yang terakhir, pendeta itu meminta kepada pamannya untuk membawa pulang Nabi SAW karena ditakutkan banyak musuh yang memata-matai beliau. Pendeta itu memaparkan tanda-tanda kenabian Muhammad SAW dari cirri-ciri yang ada di Kitab Injil.

Ketika Nabi umur 15 Tahun terjadi meletus perang fijar yaitu peperangan yang berlangsung antara suku Qurays, Kinanah melawan suku Qais dan Ailan. Peperangan tersebut dilatar belakangi oleh pelanggaran kesucian tanah haram dan bulan-bulan suci oleh pihak suku Qais dan Ailan. Rasulullah SAW ikut bergabung dalam peperangan ini, dengan cara mengumpulkan anak-anak panah bagi paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali ke pihak musuh.

(4) Masa Dewasa
Kisah kehidupan Nabi dalam masa dewasa sebelum diangkatnya beliau menjadi nabi yang terekam dalam sejarah dimulai ketika beliau menginjak umur ke dua puluh lima tahun. Pada usia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke Syam, menjalankan barang dagangan milik Khadijah.

Ibnu Ishaq menuturkan Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya. Dia biasa menyuruh orangorang untuk menjalankan barang dagangannya, dengan membagi sebagian hasinya kepada mereka. Sementara orang-orang Quraisy memiliki hobi berdagang.

Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran Muhamad dalam mengembala ambing milik orang lain ksopanan perkataan beliau, kredibilitas kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya.

Dia siap memberikan imbalan jauh lebih lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang lain. Beliau harus pergi bersama seorang pembantu yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam untuk berdagang dengan disertai Maisarah. Berdagang merupakan sekolah bagi para pria sebagai persiapan, sebagaimana pula merupakan batu ujian dan percoban yang baik bagi akhlak, kepercayaan bagi amanat seseorang.

Setibanya di Makkah dan setelah Khadijah tahu keuntungan dagangannya yang melimpah, yang tidak pernah dilihatnya sebanyak itu sebelumnya, apalagi setelah pembantunya, Maisarah mengabarkan kepadanya apa yang dilihatnya pada diri beliau selama menyertainya, bagaimana sifat-sifat beliau yang mulia, kecerdikan dan kejujuran beliau, seakan-akan Khadijah mendapatkan barangnya yang pernah hilang dan sangat diharapkannya. Sebenarnya sudah banyak parapemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya. Namun dia tidak mau.

Padahal Khadijah punya niat untuk menikahi Muhammad. Tiba-tiba saja Khadijah teringat rekannya, Nafisah binti Munyah. Dia meminta agar rekannya ini menemui beliau dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah. Ternyata beliau menerima tawaran itu, lalu beliau menemui paman-paman beliau.

Kemudian paman-paman beliau menemui paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semuanya dianggap beres, maka perkawinan siap dilaksanakan. Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar.

Hal ini terjadi dua bulan sepulang beliau dari Syam. Maskawin beliau dua puluh ekor unta muda. Usia Khadijah sendiri empat puluh tahun, pada masa itu dia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik, pandai dan sekaligus kaya. Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain sehingga dia meninggal dunia.

Daftar Pustaka
Syafiurahman al-Mubarakfuri. 2008.  Sirah Nabawiyah . Jakarta: Pustaka Alkaustar
Khulashoh Nurul Yaqin fi Sayyidilmursalin, Juz I Fasal IV
Hadits riwayat Bukhari no. 3537 dan Muslim no. 2131
Badri Yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Kemenag. 2013. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kemenag

Belum ada Komentar untuk "Kisah Nabi Muhamad Sebelum Diangkat Menjadi Nabi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel